KOLONEL CPM Imran Ilyas, S.H., M.H. saat ini diamanahi tugas sebagai Komandan POM Kodam (Danpomdam) XIV/Hasanuddin. Pria kelahiran Sinjai, Sulawesi Selatan ini kembali ke kampung halaman setelah kurang lebih 25 tahun berkarir di TNI. Ia berbagi kisah di siniar untuk kanal Youtube BKM News.
KOLONEL Imran lahir dan besar dari keluarga sederhana. Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan kerja keras dan disiplin.
Lalu bagaimana ia akhirnya bisa menjadi seorang prajurit?
Bermula ketika Imran merantau ke Bandung ikut dengan pamannya.
Mulanya ia tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang tentara, namun sang paman yang seorang personel TNI membuat dirinya kagum dan ingin mengikuti jejaknya. Dua kali mendaftar, Imran dinyatakan lulus. Ketika itu, ia sama sekali tidak memikirkan mengenai pangkat. Yang jelas bisa menjadi tentara.
“Begitu tamat SMA saya langsung merantau ikut sama om di Bandung. Beliau seorang tentara juga. Nah, dari situ saya mulai bercita-cita juga untuk jadi tentara. Apapun pangkatnya, intinya saya jadi tentara. Saya kemudian mendaftar di Akademi Militer. Tapi nanti di pendaftaran yang kedua saya baru lolos. Memang itu ceritanya cukup panjang, karena dari awal niatnya ingin jadi tentara,” terang Kolonel Imran.
Ditanya mengenai alasan spesifik dirinya mendaftar tentara, ia mengaku hanya ingin menjadi kebanggaan keluarga dan dirinya sendiri.
“Latar belakangnya… yah sebenarnya kebanggaan saja bahwa jadi tentara itu suatu pengorbanan dan kebanggaan yang mungkin di kalangan keluarga saya sendiri itu jarang. Jadi kalau ditanya apa yang melatarbelakangi, yah untuk kebanggaan,” jelasnya.
Berkarier sebagai seorang TNI selama 25 tahun, ada banyak pengalaman yang diperolehnya. Salah satunya ketika bertugas pada operasi di Aceh pada tahun 2001.
“Kalau pengalaman tugas ya biasa saja. Saya lebih banyak di Aceh waktu itu karena daerah operasi. Begitu naik ke letnan dua saya penempatan di Batalion Polisi Militer di Jakarta. Kemudian saya berangkat tugas operasi waktu itu di Aceh tahun 2001. Setelah kembali dari sana 2009, kemudian saya berangkat sekolah dan 2010 sampai sekarang perjalanan penugasan itu totalnya 25 tahun,” lanjutnya.
Setelah malang melintang di berbagai daerah penugasan, ia akhirnya ditugaskan di jajaran Kodam XIV/Hasanuddin Makassar sebagai Danpondam. Dengan latar belakangnya sebagai seseorang yang berasal dari desa, ia sudah terbiasa dengan berbagai aktivitas. Seperti budidaya ikan dan menanam jagung dan padi.
Hal tersebut membuat dirinya berinisiatif untuk memanfaatkan lahan kosong yang ada di tempat ia bertugas dan dijadikan sebagai lokasi untuk bercocok tanam.
Bahkan saat ini ia bersama dengan para prajurit yang ada telah berhasil menanam jagung dan sementara akan menanam padi.
“Kalau di Sinjai itu kan ada perikanan, pertanian dan kebun jadi pengisi waktu luang juga. Tapi saya lihat kayaknya ini asyik juga kalau dilihat. Apalagi di kesatuan kami kan tempat penahan tentara. Jadi tentara-tentara yang menjalani proses hukuman pidana itu sementara ditahan di tempat kami. Saya lihat lahannya itu luas dan dulunya belum tersentuh. Tersentuh tapi istilahnya belum produktif. Nah, begitu saya masuk saya lihat ini cocoklah untuk kita bercocok tanam di sini. Alhamdulillah, panen pertama itu kami tanam jagung dan berhasil. Nah untuk yang kedua ini kami tanam padi. Walaupun tidak luas tapi cukuplah untuk belajar pertanian disitu,” terangnya.
Ditanya mengenai apa saja yang dilakukan di lokasi tersebut, ia mengaku sudah beternak unggas, sapi, ikan dan bahkan untuk ikan lele sendiri sudah mereka panen.
“Ada unggas, kemudian saat ini juga ada sapi. Ada ikan nila kurang lebih 15 ribu ekor. Kemudian ada juga ikan lele yang kita ternakkan. Kalau ikan lelenya itu kita sudahpanen,” jelasnya.
Walupun skala yang ditanam belum banyak, ia mengaku akan melihat peluang ekonomi. Bila peluangnya tinggi maka ia akan memperbanyak penanaman dan budidaya.
“Nanti kita lihat, kalau nilai ekonomisnya itu tinggi kemungkinan itu produktivitasnya akan ditingkatkan. Tapi kalau tidak, ya cukup untuk kalangan keluarga prajurit saja,” tandasnya. (jar)

