pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Enam Guru Besar Fakultas Bahasa UNM Dikukuhkan

ist KUKUHKAN--UNM kembali mencatatkan tonggak penting dalam pengembangan akademik dengan mengukuhkan enam guru besar sehingga mencatat hingga saat ini UNM mencapai totalnya menjadi keseluruhan 64 guru besar.

‎MAKASSAR, BKM–Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali mencatatkan tonggak penting dalam pengembangan akademik dengan mengukuhkan enam guru besar sehingga mencatat hingga saat ini UNM mencapai totalnya menjadi keseluruhan 64 guru besar.

‎‎Adapun profesor tersebut berasal dari rumpun keilmuan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Mereka adalah Prof Sukardi Weda, Prof Abdullah, Prof Sahril, Prof Juanda, Prof Azis, dan Prof Sultan Baa. Masing-masing menyampaikan orasi ilmiah secara bergiliran di hadapan Rektor UNM, para dekan, guru besar senior, dosen, mahasiswa, serta undangan dari luar kampus.‎
‎Dalam pidato ilmiahnya, para guru besar membahas isu-isu mutakhir dalam dunia kebahasaan, pendidikan, hingga tantangan era kecerdasan buatan (AI). Penelitian mereka menjadi respons atas perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang memengaruhi cara berbahasa dan proses pembelajaran di era modern.‎

‎Rektor UNM, Prof Dr Ir H Karta Jayadi, M.T., menegaskan bahwa pengukuhan enam guru besar ini bukan sekadar seremoni akademik, tapi menjadi simbol komitmen UNM dalam menghadapi tantangan zaman.
‎”Setiap pidato ilmiah yang disampaikan para profesor tidak hanya kaya secara teori, tapi juga menyentuh persoalan nyata di tengah masyarakat. Ini bukti bahwa UNM terus bergerak seiring perkembangan zaman,” ungkapnya, Senin (28/7).

‎‎Ia juga menyebut bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari dedikasi para dosen yang terus meneliti, mengajar, dan berkontribusi dalam pengembangan pendidikan nasional.
‎‎”Bahkan, pendekatan-pendekatan baru seperti autoetnografi, literasi AI, hingga teori motivasi belajar yang diangkat para profesor, mencerminkan bahwa ilmu kebahasaan di UNM tidak stagnan. Justru mereka menjadi pelopor inovasi pedagogis yang relevan dengan era digital,” jelasnya.‎

‎Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh sivitas akademika UNM serta keluarga besar para guru besar yang turut memberi dukungan selama proses akademik berlangsung.‎
‎”UNM adalah rumah intelektual yang terus melahirkan pemikir dan inovator. kemarin kita kukuhkan enam guru besar, dan hari ini menyusul empat lagi. Totalnya menjadi 64 guru besar, selaras dengan usia UNM yang ke-64 tahun,” kata Prof Karta dengan bangga.‎

‎Dalam orasinya berjudul ‘Politik dan Rekayasa Bahasa’, Prof Sukardi Weda memaparkan peran bahasa dalam membentuk opini politik dan strategi komunikasi kekuasaan. “Retorika politik sangat mengandalkan piranti kebahasaan seperti aliterasi, pengulangan, paralelisme, dan metafora. Kata-kata manis dalam kampanye adalah bentuk rekayasa bahasa yang dirancang untuk memengaruhi pemilih,” jelasnya.‎
‎Ia menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga instrumen kekuasaan. Sementara itu, Prof Abdullah mengangkat tema ‘Autoetnografi Pembelajaran Bahasa Inggris di Perguruan Tinggi’. Ia menjelaskan pentingnya mata kuliah Bahasa Inggris sebagai bekal keterampilan komunikasi global, yang semestinya diajarkan dengan pendekatan kontekstual sejak awal perkuliahan.

‎‎”Dengan metode autoetnografi, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami pengalaman pribadi dalam proses belajar bahasa. Ini membuat pembelajaran lebih bermakna dan aplikatif,” terangnya.
‎‎Orasi lainnya turut menyoroti tema literasi digital, literasi AI, pendidikan karakter melalui bahasa, hingga pemikiran-pemikiran baru dalam pedagogi bahasa Indonesia. Keenam guru besar ini diharapkan menjadi motor penggerak dalam memperkuat posisi UNM sebagai pusat keunggulan ilmu kebahasaan dan pendidikan. (ita)



×


Enam Guru Besar Fakultas Bahasa UNM Dikukuhkan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link