pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Gebrakan Hijau Lurah Bonto Makkio Slamet Riady Lewat Teba Modern

Lurah Bonto Makkio, Slamet Riady.

LANGIT pagi di halaman Kantor Kelurahan Bonto Makkio, Kota Makassar tampak cerah ketika sejumlah petugas sibuk menggali tanah sedalam satu meter. Di tengah aktivitas itu, Lurah Bonto Makkio Slamet Riady berdiri memberi arahan dengan wajah bersemangat.

Hari itu bukan kegiatan biasa, melainkan awal dari sebuah langkah kecil menuju perubahan besar: pembuatan teba modern Ini adalah wadah pengelolaan sampah organik yang diubah menjadi pupuk kompos.

“Program ini bagian dari inisiatif Pemerintah Kota Makassar yang kami jalankan di hampir seluruh kelurahan di Kecamatan Rappocini. Kita mulai dari kantor lurah sebagai contoh. Setelah itu, masyarakat akan kami edukasi untuk membuat teba di rumah masing-masing,” ujar Slamet Riady.

Teba, yang berarti tempat olah sampah organik, kini menjadi bagian dari strategi pemerintah kota untuk menekan volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang. Dengan konsep modern, teba tidak lagi sekadar lubang kompos tradisional.

Di Bonto Makkio, lubang selebar satu meter itu ditanam gorong-gorong beton dan ditutup rapi, sehingga tak menimbulkan bau dan tetap estetik di lingkungan padat kota.

“Harapan kami, semua warga bisa ikut membuat Teba seperti ini. Selain menjaga kebersihan, pupuk kompos yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk tanaman di pekarangan rumah,” tambahnya.

Menariknya, ini bukan kali pertama Slamet Riady memimpin Bonto Makkio. Sebelumnya, ia sempat menjabat lurah di periode 2022–2023, sebelum kemudian bertugas di Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Makassar.

Kini, setelah pelantikan pejabat baru di Lapangan Karebosi beberapa waktu lalu, ia kembali ke wilayah yang sudah tak asing baginya.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas amanah dari Bapak Wali Kota. Ini seperti pulang ke rumah sendiri,” ucapnya tersenyum.

Kembali memimpin Bonto Makkio, Slamet mengaku ingin membangkitkan kembali semangat warga untuk menjadikan kelurahannya sebagai contoh dalam hal kebersihan, keamanan, dan partisipasi masyarakat. “Kami ingin Bonto Makkio jadi lebih baik dari sebelumnya, dengan cara melanjutkan dan menyempurnakan program-program yang sudah ada,” katanya.

Slamet Riady tak ingin menunggu lama. Dalam waktu sebulan sejak dilantik, ia langsung menata ulang kebersihan wilayah, memperkuat koordinasi petugas lapangan, dan membangun kembali posko keamanan lingkungan (Kamtibmas) di setiap RW.

“Sekarang tiap malam ada ronda bersama RW, RT, dan warga. Kita juga dibantu Babinsa dan Bhabinkamtibmas yang aktif keliling tiap malam,” jelasnya.

Langkah ini sekaligus menjadi respons terhadap meningkatnya keresahan warga kota akibat maraknya aksi geng motor di beberapa titik Makassar. “Anak-anak muda di sini terus kami dekati. Kami ajak bicara, beri ruang positif, dan libatkan dalam kegiatan lingkungan agar tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif,” ungkapnya.

Kelurahan Bonto Makkio memang dikenal dengan warganya yang kompak dan peduli lingkungan. Di masa lalu, kelurahan ini bahkan pernah menyabet Juara II Nasional PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), tepatnya di RW 6.

“Rasa kebersamaan dan silaturahmi warga sangat tinggi. Mereka mudah diajak kerja sama. Hampir semua RW di sini aktif dalam kegiatan kebersihan dan sosial,” kata Slamet.

Dengan 6 RW dan 26 RT, Bonto Makkio menjadi miniatur kota kecil yang hidup dan produktif. Setiap sudutnya menggambarkan keseimbangan antara kedisiplinan dan kekeluargaan. Tak heran jika halaman kantor kelurahan tampak asri dan bersih, cerminan kepemimpinan yang menekankan keteladanan.

Selain menata ulang kebersihan dan keamanan, Slamet Riady juga menyiapkan program edukasi berkelanjutan untuk masyarakat, khususnya dalam hal pengelolaan sampah rumah tangga. Ia ingin agar warga tidak hanya menerima layanan, tapi juga menjadi bagian dari solusi.

“Kalau dulu kita bicara bersih itu artinya petugas yang bekerja. Sekarang kita ubah, bersih itu artinya semua warga terlibat,” ujarnya.

Inovasi seperti teba modern di halaman kantor kelurahan hanyalah permulaan. Ke depan, Slamet berencana mengembangkan urban farming berbasis kompos di lahan-lahan sempit milik warga, termasuk memanfaatkan hasil pupuk Teba untuk menanam sayuran dan tanaman hias.

“Kelurahan ini padat, tapi bukan berarti tidak bisa hijau. Justru dengan semangat warga, kita bisa wujudkan lingkungan yang bersih, produktif, dan mandiri,” tutupnya penuh optimisme. (*) bkm



×


Gebrakan Hijau Lurah Bonto Makkio Slamet Riady Lewat Teba Modern

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link