MENJADI dokter bukanlah perkara mudah. Bagaimana tidak, profesi ini mengandung banyak risiko, salah satunya menyangkut nyawa dan keselamatan seseorang. Sejak kecil banyak orang menginginkan bercita-cita sebagai dokter, seperti halnya dr Nur Rahma Muh Amir.
Laporan: JUNI SEWANG
Untuk menjadi dokter, seorang mahasiswa kedokteran harus menempuh proses yang lebih panjang dibandingkan jurusan lainnya. Bahkan, mata kuliah kedokteran terbilang sangat berat.
Bahkan sebelum bertugas sebagai dokter umum di Puskesmas Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, ibu rumah tangga kelahiran Polman 25 Septemer tahun 1984 ini mengeyam pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar tahun 2009.
Memulai karir dokternya bertugas di salah satu klinik di Kota Makassar, kemudian mengabdikan diri sebagai dokter umum di Puskesmas Bangkala.
Bukan hanya bertugas di dalam ruang pelayanan saja, dr Nur Rahma juga bertugas sebagai dokter Home care. Home care adalah pelayanan ke rumah-rumah warga.
Ia selalu berkoordinasi dengan perawat dalam memberikan pelayanan ke rumah warga. Kesibukannya sebagai dokter dan petugas home care tidak terbatas waktu, terbukti dirinya memiliki aturan waktu 1×24 jam. Bahkan alat komunikasinya tidak diperbolehkan non aktif.
“Sudah menjadi tanggung jawab seorang dokter untuk memberikan tindakan medis, sebagai dokter puskesmas saya juga bertanggung jawab mengobati pasien yang terbaring di rumah-rumah mereka. Setiap hari saya menyusuri lorong-lorong dan jalan menggunakan mobil Dottoro ta,” ujar Nur Rahma.
Pada malam hari, kadangkala ia bertugas hingga pukul 21.00. Tapi jika ada tindakan home care atas laporan petugas perawat, ia langsung menuju lokasi,” jelas dr Nur Rahma.
Memiliki tanggung jawab diluar dari profesinya sebagai dokter, dr Nur Rahma juga memiliki keluarga kecil. Iamemiliki suami dan satu orang anak yang harus ia urus.
“Anak saya satu orang, sekarang sudah masuk umur 12 tahun. Meski sibuk dengan pekerjaan, saya tetap memperhatikan keluarga,” katanya.
Kepada penulis, Nur Rahma juga menceritakan kalau menjadi dokter umum memang menantang, selain dari segi beban kerja amat berat karena dalam sehari pasien yang harus puluhan pasien di puskesmas dan rumah-rumah warga juga harus melakukan pemeriksaan komprehensif. “Tantangannya kadangkala kita masih memeriksa pasien di puskesmas tiba-tiba ada emergency pasien di rumah warga, sehingga butuh penempatan waktu yang tepat agar kedua pasien tersebut bisa ditangani dengan baik,” ungkap Nur.
Bahkan menjadi seorang abdi negara tidaklah semudah yang dibayangkan, khususnya PNS Kesehatan seperti kami. Salah tindakan, nyawa pasien terancam, pun sebaliknya, Salah kerja, kesehatan operator taruhannya.
“Inilah tanggung jawab dan resiko yang harus dihadapi, memang benar jika jenis pekerjaan kami menantang, kami tidak pernah mengeluh karena kami sadari inilah pilihan kami,” katanya.(jun)

