PANTANG menyerah dalam mencari nafkah menjadi modal Halimah. Walaupun sempat gagal mengantarkan anak pertamanya meraih gelar sarjana, namun ia tetap masih berjuang membuat kedua anaknya yang lain mendapat pendidikan yang layak.
Laporan: NUGROHO
Ya, anak pertama Halimah sebenarnya sempat merasakan bangku perkuliahan. Saat itu anaknya yang kuliah di Jurusan Biologi UNM harus terhenti lantaran terkendala biaya. Halimah mengatakan, setelah anaknya menikah, memang kondisi keuangan keluarga saat itu cukup menurun.
Anaknya yang saat itu masih berada di semester 2, harus menikah dan bekerja sendiri. Hal ini dimaksud supaya mengurangi beban Halimah dalam hal membiayai anaknya tersebut.
Namun tak sesuai yang diharapkan. Anaknya malah tak mampu membiayai dirinya dan kuliahnya. Alhasil, dengan berat hati, anak Halimahpun harus berhenti kuliah. “Tidak sanggup mi waktu itu biayai, dia juga bilang jangan mi dilanjut, cari kerja saja, jadi ndak lanjut mi,” papar Halimah.
Setidaknya hal itu tak mau lagi terjadi di kedua anaknya yang lain. Anaknya yang saat ini masih berada di bangku sekolah, Halimah harap bisa mencapai pendidikan setinggi-tingginya dan mencari pekerjaan yang lebih layak.
Halimah juga tampak telah menikmati hari-harinya sebagai cleaning sercvice. Baginya, pekerjaan ini adalah pekerjaan yang cukup mudah ia lakukan, sama halnya pekerjaan rumah yang biasa juga dilakukannya.
“Kerjaanku sekarang ini hanya menyapu saja, apalagi sekarang lantai 2 ji sama lantai 3. Kalau butuh di lap, ya di lap mi sde. Itu saja, sama ji pekerjaan sehari-hariku,” katanya.
Ditambah lagi jarak dari rumahnya ke tempat kerjanya amatlah dekat. Jadi ia tak perlu mengeluarkan biaya transportasi lagi. Cukup hanya berjalan kaki setiap harinya. “Daripada jauh-jauh, uang pete-pete mi seng, ini enak ji dekat,” tambahnya.
Selama bekerja sebagai cleaning service di Kampus UNM Parangtamung, dirinya juga mengaku tak ada halangan sama sekali. Orang-orang yang di kampus ini ia katakan semua baik. Mereka seakan mengerti jika Halimah hendak ingin membersihkan.
Hanya saja kendalanya adalah orang yang biasa masih banyak berlalu-lalang. “Kalau membersihkan sore, biasa masih ada juga orang yang masih disini, belum pulang. Kalau sy bersihkan mi dan biasa bersih, ada seng yang masih jalan-jalan lagi, kotor lagi, jadi biasa membersih dua kali,” terangnya.
Selebihnya tak ada kendala berarti yang dihadapinya saat menjalankan tugas.
Walaupun begitu, setumpuk harapanpun tetap ia panjatkan. Melihat keluarganya bahagia merupakan cita-citanya. Baginya tak apa ia tetap menjadi cleaning service, asalkan keluarganya bisa hidup dengan bahagia.
“Satu lagi harapanku, mudah-mudahan naik gaji,” tutupnya sambil tertawa.
Tiap harinya, Halimah sudah harus berjalan kaki menuju Kamus UNM Parangtambung saat pagi dan sore. Pagi dan sore adalah waktu ia membersihkan kampus, mulai saat seluruh karyawan dan mahasiswa akan memulai aktivitas, sampai saat selesai aktivitas.
Jadi pagi-pagi sekali, sebelum semua dosen dan mahasiswa datang ke kampus, Halimah sudah lebih dulu hadir.
Tugas Halimah pun saat ini terbilang telah diringankan. Mengingat makin banyaknya cleaning service yang bertugas di kampus itu. Biasanya ia hanya membersihkan Gedung Sains Square di lantai 2 dan lantai 3 saja.
Beda halnya ketika dulu, ketika ia pertama kali menjadi cleaning servise pada 2010, yang hampir seluruh ruangan di Fakultas MIPA ia bersihkan.
Biasanya sebelum jam 08.00 pagi ia sudah berangkat dari rumahnya di Jalan Daeng Tata 6 ke tempat kerjanya. Sebelum aktivitas di kampus mulai, semua harus sudah bersih. Setelah ia selesai membersihkan biasanya sampai jam 09.00 pagi, barulah ia pulang kembali dengan berjalan kaki.
Aktifitas kampus biasanya berakhir pukul 16.00. Pada jam itu lah pula Halimah kembali lagi ke kampus untuk membersihkan. Tugasnya saat sore hari tentu lebih berat dari pada saat pagi hari. Bekas aktifitas kampus yang banyak meninggalkan kotoran membuatnya bekerja agak lama. Pukul 18.00, biasanya ia baru menyelesaikan tugasnya dan kembali pulang mengurusi keluarganya.
Oleh karena itu, Halimah yang tiap bulannya mendapatkan gaji sebesar Rp 1 juta, telah sangat bersyukur. Baginya penghasilan begitu sudah bisa ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari dan menyekolahkan anaknya.
“Alhamdulillah, saya syukuri saja. Ini mi memang pekerjaan yang bisa ku lakukan. Saya senang ji juga karena bisa mi hidupi keluarga,” kata Halimah.(nug/b)

