pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Berawal dari Banyaknya Remaja Korban Lakalantas

MENGGAPAI sebuah prestasi tidaklah semudah membalik telapak tangan. Ada banyak rintangan yang mesti dihadapi. Demikian halnya dengan Anwar.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

BAYANGKAN saja, ada 84 paper dari mahasiswa seluruh Indonesia yang masuk seleksi untuk kategori yang diikuti Anwar kala itu. Dari jumlah itu, kemudian disaring hingga hanya menyisakan 10 orang. Mereka inilah yang nantinya akan diundang mewakili kampusnya masing-masing.
Anwar masuk dalam 10 besar itu dan menjadi wakil dari UNM. Ia pun berhak terbang ke Solo guna mempresentasikan karyanya. Sayang sekali, dua rekan setimnya tak bisa ikut karena alasan biaya. Namun hal itu tidaklah mengendorkan semangatnya.
Pembuatan alat ini, dikatakan Anwar, merupakan bagian dari keresahannya selama ini. Ia kerap membaca referensi yang menyebutkan jika tiap harinya, ada 1.000 anak remaja di dunia yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Seperti pada data WHO tahun 2014.
Angka itu ternyata juga didukung oleh data Dinas Perhubungan, yang mengatakan dari 100 persen kecelakaan, 26 persennya berasal dari anak remaja usia 16 sampai 26 tahun. Itulah yang mendorong Anwar bergerak menciptakan alat ini.
Dalam perjalanannya, pembuatan alat ini tidak semulus yang diperkirakan. Anwar memiliki banyak kendala. Mulai dari biaya, sampai cara mendapatkan beberapa rangkaian dalam alat ini.
“Kesulitannya itu, harga alat-alatnya mahal. Apalagi alat ini mesti diujicoba beberapa kali. Beberapa percobaan pun sering gagal. Jadi biasa harus beli peralatan yang baru,” terang Anwar.
Pembuatannya sendiri memakan waktu kurang lebih dua bulan. Peralatan yang harus digunakan dalam merangkai alat ini juga cukup sulit didapat. Anwar mengatakan, ia harus memesan keperluan pembuatan alatnya melalui toko daring yang berada di luar Makassar.
“Alat-alatnya saya beli di Tokopedia, Lazada, Bukalapak, dan sebagainya. Misalnya saja accelerometer. Ini alat untuk mengukur kemiringan, yang biasa digunakan di smartphone. Alat ini tidak ada dijual di Makassar, jadi harus pesan online,” kata pria kelahiran 1 Oktober 1996 ini.
“Selain itu ada GPS, GSM, dan microcontroller, yang ndak ada dijual di sini. Kalau sudah beli semua itu, baru dirangkai di sini,” tambahnya.
Alat inipun nantinya bisa dipasang di sistem keakian listriknya sepeda motor. Kemudian terhubung dengan aplikasi yang bisa didownload di store aplikasi smartphone. Jadi alat deteksinya ada pada sepeda motor, dan pantauannya dilakukan pada smartphone.
Dalam lomba tersebut, Anwar hanya kalah dari mahasiswa ITS yang berhasi menjadi juara 1, dan mahasiswa dari Universitas Brawijaya Malang yang menjadi juara 2.
Anwar berharap pencapaiannya tidak hanya sampai disini. Ia masih memiliki keinginan untuk terus berkarya. (*/rus/b)



×


Berawal dari Banyaknya Remaja Korban Lakalantas

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar