DI HUT Kemerdekaan ini masih saja ada orang yang belum merasakan nikmatnya kemerdekaan. Padahal, di zaman teknologi ini seharusnya sudah tidak ada lagi orang mengeluh di setiap pekerjaannya. Tapi, nasib buruh seperti Rusmiati masih merasakan itu.
Laporan: JUNI SEWANG
Saat ini Rusmiati bekerja sebagai pelayan di rumah makan di Jalan Gunung Nona. Gaji yang ia peroleh Rp1,5 juta ternyata masih di bawah standar upah minimum kota (UMK) yang mencapai Rp2,4 juta.
Di depan penulis, wanita kelahiran Flores, Manggarai 19 Oktober 1995 ini mengaku memberanikan diri ke Kota Makassar, karena mimpi-mimpinya sangat besar di kota ini. Ia nekat datang untuk mencari pekerjaan yang layak, berbekal modal nekat tanpa diketahui orang tuanya. Awalnya Rusmiati marah kepada orang tuanya karena tidak diijinkan untuk melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi.
Sudah hampir dua tahun dirinya berada di Kota Makassar, setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dirinya mendapat kabar dari kerabatnya kalau ada lowongan pekerjaan dari bos tempat kerabatnya bekerja.
“Lulus SMA saya nganggur, ada saudara bilang ada kerjaan, terus saya ke Makassar ikut saudara. Sampai di sini ternyata kerjanya toko barang campurannya dengan gaji Rp500 ribu/bulan. Kerja di toko dengan gaji kecil saya bertahan selama delapan bulan, sebelum kerja di rumah makan yang sekarang,” ungkap Rusmiati.
Rusmiati bekerja selama 7 hari seminggu. Ia harus sudah mulai bekerja pagi hari, bersama teman teman pekerja rumah makan lainnya.
Selama bekerja ia harus membersihkan rumah makan sekaligus melayani pelanggan.
Upah yang ia dapatkan menurutnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, karena sebagian harus dikirim ke kampung untuk kedua orang tua dan saudara-saudaranya.”Kadang saya tidak mau jajan diluar seperti teman-teman, uangnya lebih baik saya tabung soalnya gajiku sedikit,” jelasnya.
Ia menambahkan, mungkin sebagian orang berfikir itu hanya pekerjaan yang sepele, ketimbang tidak mendapatkan pekerjaan sama sekali. Tanpa memikirkan bagaimana ia harus bekerja seharian, sama seperti orang kebanyakan, bahkan lebih lama. Dengan gaji yang tidak mencukupi.”Saya tetap bercita-cita ingin seperti orang-orang dekat di kampungnya yang berhasil bekerja di perantauan. Saya jugaingin seperti mereka yang ketika pulang kampung kondisi perekonomiannya nampak semakin meningkat. Hal itu yang membuat tekadnya bulat untuk merantau walaupun tak punya keahlian dan pengalaman,” ujarnya.(jun)

