KEKUATAN dan ikhtiar yang membawa Yusuf tetap menekuni usahanya membuka bensin eceran Pertamini. Meski seringkali ia mendapatkan masalah dalam membuka usahanya tersebut.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Yusuf juga bercerita jika ia kerap menemukan banyak kendala seperti sering mengalami kecurian uang dan bensin diusahanya serta mulai bermunculan saingannya.
“Kadang-kadang kita harus siaga juga, walaupun dipinggir jalan terlihat ramai tapi sering juga ada yang ambil bensin diam-diam atau ambil uang. Itu paling sering. Seperti kemarin saya masuk ambil air, pas kembali ada mi yang ambil uang,” ungkapnya saat ditemui siang kemarin.
Ia juga kadang mengalami banyak kerugian.”Risikonya banyak, saya pernah juga kena hipnotis. Pembeli kabur setelah isi bensin, salah hitung dan sering itu mereka beli bensin pakai uang mainan,” bebernya.
Namun dibalik masalah itu, Yusuf memutar otaknya bagaimana agar masalah itu tidak bekepanjangan, hingga membuat dirinya rugi. Apalagi setiap harinya ia sudah memulai membuka usahanya pukul 08.00 pagi hingga pukul 03.00 dini hari.
“Yah tinggal waspada saja, kalau istirahat saya kunci dulu. karena tidak ada yang bisa ganti menjaga,” ujarnya.
Selain mendapatkan banyak masalah, ternyata yusuf tak habis akal bagaimana mendapatkan uang dengan bermodalkan menawarkan dagangan pertamini milik keluarganya.
“Paling dapat-dapat dari promisi pom bensin milik om saya, makanya sambil jaga pom bensinnya, saya juga promosikan pom bensin disitu paling dapat satu mesin laku Rp 2 juta-3 juta,” katanya.
Sebelumya juga Yusuf mengaku berniat mengumrohkan kedua orang tuanya. Hanya saja dalam hati kecilnya ia juga mempunyai harapan bagaiamana mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membina rumah tangga.
“Iya ada niatan nantinya mau berkeluarga, tapi nanti saja fokus dulu banyak-banyak (kumpul uang),”ucapnya.
Yusuf mulai merintis usaha bisnis bensin eceran Pertamini di Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di BTP Blok D Makassar. Usaha yang dilakoninya terbilang mudah dia lakukan, karena sejak usia muda sudah menjual bensin eceran yang bermodalkan bantuan dari keluarganya.
“Dari dulu ka berjualan bensin eceran, sejak SMP kah jualan. Dulu menjualkah bensin cuman pakai botol, nanti pulang sekolah baru menjual. Kalau tempat yang sekarang ini dikasih jualan sama om, termasuk box pertamininya. Karena om ku itu distributor pertamini,” ungkapnya saat ditemui penulis di tempat usahanya, kemarin.
Pria kelahiran 23 tahun ini mengaku, saat berjualan botolan yang dimulainya pada tahun 2013 lalu, seharinya ia menghabiskan 20 liter bensin premium dengan harga Rp6.000.
Justru kini penjualannya cukup lumayan besar, sebab sudah tidak banyak SPBU yang menjual premium. Untuk pembelian Pertalite, dia mengaku membeli ke SPBU terdekat karena tak punya izin khusus, setiap hari dibatasi 50 liter saja.
“Ada memang batasannya kalau kita beli di Pertamina. Satu liter pertalite harganya Rp8 ribu lebih, kita jual Rp10 ribu. Sehari biasa habiskan 30 liter lebih,” katanya.
Bisa dibilang jika keuntungan Yusuf perharinya mencapai Rp300 ribu, dalam seminggu ia bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp2.1 juta dan jika sebulan bisa mencapai Rp8 juta lebih, namun pendapatan itu belum termaksud modal membeli bensin di pertamina.
“Yah untungnya setiap liter itu Rp2 ribu kak, kalau habisnya 30 liter bisa dapat untung Rp60 ribu tapi biasanya juga lebih, tergantung menyesuaikan ki,” katanya.
Ditanya mengenai modal membuka usaha, Yusuf menambahkan selain mendapatkan bantuan modal dari keluarganya, ia juga memberanikan diri menyicil dua box pertamini standar ini dengan harga Rp 13 Juta.
“Saya bersyukur dapat bantuan dari keluarga, termasuk memberanikan menyicil dua box pertamini yang standar begini Rp13 juta. Lumayan bisa kumpul-kumpul uang untuk masa depan,” sembari tertawa.(ita)

