MAKASSAR, BKM — Tiga tokoh Sulsel akhirnya bergabung dengan Partai Nasdem. Masing-masing Bupati Luwu terpilih Basmin Mattayang. Bupati Bantaeng Ilhamsyah Azikin. Serta Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan ‘Danny’ Pomanto.
Selain itu, Wakil Gubernur Sulawesi Barat Anny Anggraeni yang pernah tercatat sebagai anggota DPR RI dari Partai Golkar, juga ikut memperkuat partai yang didirikan Surya Paloh ini.
Masuknya tiga tokoh Sulsel merapat ke partai yang dinahkodai H Rusdi Masse ini, menimbulkan kesan bila partai pengusung restorasi itu mulai jemawa. Bahkan, Nasdem yang baru satu kali ikut pemilu sudah mematok target enam kursi untuk DPR RI melalui tiga daerah pemilihan (dapil) di daerah ini.
Tak hanya itu, Ketua Umum DPP Partai Nasdem Surya Paloh berharap partainya bisa berkontribusi agar bisa meraih target 100 kursi di DPR RI. Enam di antaranya berasal dari Sulsel. “Masing-masing satu dapil ada dua caleg DPR RI, dan ada tiga dapil di Sulsel,” ujar Paloh pada kegiatan pembekalan caleg Nasdem se-Sulsel di Grand Claro Makassar, Kamis (27/9).
Paloh mengaku yakin Sulsel dapat meraih enam kursi. Sebab, dirinya telah melihat kemajuan yang pesat di tubuh Nasdem Sulsel. “Tampaknya alam berpihak pada Nasdem. Momentumnya karena kehadiran berbagai tokoh masyarakat. Tidak hanya di luar Pulau Jawa. Tapi di Jawa juga ada fenomena seperti ini. Jujur saya harus katakan Nasdem mendapatkan tempat,” ujarnya.
Paloh mengatakan, sejak Nasdem berdiri, partai ini mendapatkan lompatan besar menjadi partai besar yang menyumbang kebijkan yang dijalankan pemerintah melalui parlemen. Sebelumnya, Nasdem telah meraih sebanyak 36 kursi di DPR RI. Namun, Paloh ingin agar kursi Nasdem di parlemen bertambah menjadi 100 kursi.
“Kita harus berani bilang selamat tinggal 36 kursi. Kalau tidak, kita sudah tidak pantas meneruskan kendaraan partai. Karena saya tahu diri. Saya malu karena tidak memiliki kemampuan membawa partai menjadi besar,” ujarnya.
Mantan politisi Partai Golkar ini juga mengingatkan pada seluruh caleg se-Sulsel harus memenangkan pileg dan pilpres. “Saya harus meyakini jika saya berhadapan dengan kader Nasdem yang memiliki ketangguhan, konsistensi dan militan,” ujar Paloh.
Strategi utama yang perlu dimiliki oleh para caleg Nasdem, kata dia, yakni mengenali medan lapangan di mana caleg itu bertarung. “Sejauh mana kita mengenal medan lapangan. Sampai tingkat paling bawah TPS-TPS. Ini harus bisa memastikan, memproyeksikan dari TPS bahwa memperoleh keyakinan akan menjadi pemenang,” ujarnya.
Menurutnya, ujung tombak terjaganya suara di TPS adalah caleg itu sendiri. Sehingga caleg harus bertarung dan berjuang guna mengamankan suaranya sendiri.
“Gambaran lokasi lapangan dengan jumlah TPS harus semakin hari semakin dekat dengan caleg. Ini yang saya harapkan ada spirit, dan keuletan dalam menjaga suara dan mengenali medan tempur,” ujarnya.
Tak hanya itu, caleg Nasdem juga sudah harus siap menghadapi propaganda-propaganda yang dapat melemahkan dirinya dan partai dalam kompetisi politik ini. Salah satu yang wajib dilakukan para caleg Nasdem, adalah caleg sudah siap melakukan counter terhadap isu miring yang setiap saat bisa menyerang.
Masih Berat
Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Muhammad Firdaus, tidak heran jika Partai Nasdem mulai jemawa setelah tiga kepala daerah memutuskan bergabung. Bahkan nasdem sesumbar raih enam kursi ke senayan dari tiga dapil.
“Hal yang wajar jika Nasdem jemawa untuk memberi semangat bagi kadernya. Target politik itu penting sebagai sasaran yang harus dicapai,” ucapnya saat dihubungi, kemarin.
Firdaus mengaku jika Nasdem juga patut waspada dan terukur mengenai potensi kader partainya. Apalagi, ditinjau dari infrakstruktur partai yang masih perlu dibenahi. “Tetapi tentunya harus terukur sesuai kemampuan kader dan kesiapan infrastruktur partai,” ucapnya.
Selain itu, Firdaus menuturkan jika target meraih enam kursi di Senayan masih berat dilakukan. Namun jika itu sebuah target, wajar-wajar saja.
“Itu target dan masih berat, karena perlawanan partai lain cukup kuat. Semisal Golkar dan Gerindra. Tetapi sebagai target, itu wajar dan harus diperjuangkan,” ujarnya.
Pengamat politik lainnya Andi Luhur Priyanto, menjelaskan jika strategi me-Nasdem-kan kepala-kepala daerah sebenarnya bukan langkah yang sama sekali baru buat Partai Nasdem. Bahkan sebelumnya, Partai Golkar sering melakukan hal yang sama di Pemilu-pemilu terdahulu. “Sejauh ini, memang selalu ada kekuatan elektoral yang besar pada diri kepala daerah. Kepala daerah selalu punya previlege memanfaatkan infrastruktur birokrasi dan ormas binaan pemerintah, untuk kerja-kerja elektoralnya,” jelasnya.
Terlebih lagi, potensi inilah yang dikapitalisasi oleh partai politik untuk mengendorse kerabat atau klan kepala daerah untuk kontestasi pileg. Dorong keluarga terdekat, kalau soal kapasitas figur, jadi pertimbangan nomor sekian.
“Tapi ini juga bukan faktor tunggal juga. Beberapa kepala daerah juga tidak berhasil mengamankan posisi kerabatnya,” katanya.
Selain itu, bergabungnya Danny Pomanto di Nasdem karena kombinasi banyak kepentingan, politik dan non-politik. Secara politik, Partai Nasdem memang strategis untuk diamankan DP untuk kepentingan pilwali. “Partai ini, kalau dilepas berpotensi menyediakan lawan tangguh bagi cita-cita politik DP di 2020. Tetapi Nasdem juga memberi bargaining yang tinggi untuk DP. Hasilnya adalah mendorong putrinya untuk caleg DPR RI, sebagai bukti kontribusi terukur untuk Nasdem, yang di beberapa survei terancam ketentuan parliamentary treshold,” tutupnya. (ita/rus)

