MENGGELUTI bisnis di bidang percetakan sejak tahun 2010 tak terbayangkan Ahmad Fadli Taufik. Pasalnya, anak ketiga dari lima bersaudara ini hanya seorang pegawai swasta yang bergerak di bidang desain. Itupun setelah pulang dari perantauan di Jakarta.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Sejak mengikuti profesi sang ayah, Taufik DzaldinardiFadli, kini puluhan omset pendapatan yang diraihnya. Apa yang ia raih saat ini, Fadli akui itu bermula dari berpindah kerja dari satu perusahaan ke perusahan lain ia jalani dengan sabar.
Sampai akhirnya Fadli sadari, bahwa dari sekian banyak tempat bekerja, hanya di bidang percetakan lebih dominan baginya sebab kedua pekerjaan yang ia geluti dahulu tidak lepas dari percetakan.
“Dulu itu saya di Jakarta kerja sebagai pegawai di salah satu perusahaan swasta, di bagian desain. Setelah itu pindah lagi ke Bandung dengan bekerja sebagai teknisi di bidang IT, sampai ke Makassar dipanggil kakak untuk kerja saja disini. Saya tidak mau lagi kerja sebagai pegawai swasta karena pekerjaannya itu capek dan pendapatannya minim,” ungkapnya saat ditemui penulis, Senin (26/11).
Barulah setelah itu Fadli memutuskan belajar dari sang ayah, yang diketahui juga membuka jasa percetakan di Makassar. Dari pengalaman yang ia pernah dapati, ia memberanikan diri mendirikan usahanya sendiri yang diberi nama Padaidi Screen Printing Makassar yang terletak di Jalan batua Raya, sejak tahun 2010.
“Tidak ada sama sekali bantuan orangtua, itu murni dari uang pribadi dan bantuan pinjaman. Kenapa saya berani buka usaha ini sendiri, itu mi saya liat usaha orang tua sama rekomendasi teman-teman,” ujarnya.
Selain itu, Fadli juga akui bahwa mendirikan usaha ini, ia juga mengajukan kredit modal kerja ke perbankan. Namun apa yang Fadli harapkan agar pinjaman segera cair, kenyataan malah sebaliknya, proses yang lama dan berbelit harus Fadli terima. Padahal menurutnya, usaha percetakan itu biasanya butuh dana mendadak.
“Keuntungan memang besar, tapi modal dan keperluan yang mendadak itu jauh lebih besar. Dulunya itu sebelum pinjam ke teman, saya ajukan peminjaman tapi susah sekali. Disitu saya merasa putus asa mi, karena buka usaha ini memang modalnya itu besar. Tapi disaat itu, ada teman mi yang beri bantuan, situ saya saya merasa bersyukur sekali,” jelasnya.
Fadli juga akui meski usaha yang ia rintis sudah berjalan, pasti saja ada kendala dan tantangan yang dihadapi. Bahkan sekali waktu, ia pernah kedua kali hampir putus asa dan ingin menutup usahanya, lantaran kena tipu ratusan juta.
“Itu kejadiannya dua tahun lalu, kena tipu ratusan. Ada orang pesan banyak sekali sudah DP tapi pas selesai sudah tidak ada kabarnya. Disitulah saya merenung dan berfikir lebih dalam, untuk memutuskan untuk melanjutkan usaha ku, tapi ada juga beban karyawan yang harus saya perjuangkan,” bebernya.
Semenjak itu, banyak pengalaman dan pelajaran yang ia petik dalam merintis usahanya. Hal itu juga yang membuatnya bangkit dari masalah dan lebih jeli lagi dalam merintis usahanya. Sehingga saat ini usahanya sudah jauh berkembang dari sebelumnya.
Bahkan sesaknya persaingan usaha percetakan tak membuat Ahmad Fadli surut langkah. Meski sempat sunyi beberapa tahun lalu, ia mampu bertahan menghidupkan bisnis percetakannya.”Selama masih ada acara, prospek bisnis percetakan masih ada,” ujar Ahmad Fadli.
Bisnis percetakan saat ini memang sudah berkembang semakin pesat, apalagi dengan perkembangan teknologi yang semakin maju saat ini. Apalagi, tahun 2018-2019 ini disebut-sebut sebagai tahun politik. Terkhusus di Sulsel, ini bisa menjadi ajang untuk bagaimana menumbuhkan perekonomian.
“2018 adalah tahun politik jadi usaha yang akan laris di tahun tersebut adalah usaha yang menyediakan perlengkapan kampanye, seperti digital printing, kaos partai, usaha marchendise PIN/gantungan kunci. Karena sekarang banyak permintaan itu melalui pesanan online, jadi tinggak diantarkan saja,” ungkapnya saat ditemui ditokonya, kemarin.
Apalagi, pelaksanaan pemilihan legislatif yang akan digelar di tahun 2019 mulai memberikan dampak terhadap usaha-usaha percetakan. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi, usaha ini juga mendapatkan imbas dengan peningkatan pemesanan hingga menembus hingga 30 ribu eksemplar kalender, sama dengan foto, baliho, spanduk dan lain-lain.
“Tidak susah sekarang karena tahun politik ini biasanya tim atau calegnya tinggal pesan melalui WA atau DM Instagram. Saat ini, sudah mulai banyak pesanan dari caleg-caleg. Mereka sudah mulai membuat perangkat-perangkat kampanye,” tuturnya.
Ia memperkirakan jika modal yang dikeluarkan untuk biaya produksi sebesar Rp40 juta perbulan, maka dari pesanan sebulan itu, ia mendapatkan pendapatan bersih sebesar Rp20-50 juta lebih dan jika setahun menembuh Rp240 juta hingga Rp1 milliar.
Didepan penulis ia menambahkan, sejak dua minggu terakhir ini pesanan para calon legislatif yang akan bertarung pada pileg 2019 mendatang mulai ramai melalui pesanan online. “Untuk buka bisnis ini sangat menjanjikan, saya buka awal 2003 sekarang sudah seperti ini padahal modal saya dulu itu hanya Rp60 juta. Sekarang sudah seperti ini punya karyawan banyak dan pendapatan sebulan itu bisa tembus Rp200 juta sebulan,” bebernya.(ita)

