MAKASSAR, BKM–Menjelang Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 nanti, sebagian besar partai politik (parpol) cenderung fokus untuk mendulang suara pemilih milenial dalam memenangkan Pileg. Jika selama ini pemilih pemula lebih dilirik oleh PSI, PDIP dan beberapa parpol lainnya, kini parpol seperti PPP, PKS, PAN dan Golkar menyatakan diri fokus mendulang suara milenial. Hal ini bukan tanpa alasan. Sebab, proporsi pemilih milenial memang sangat besar di banding kelompok masyarakat lainnya.
Partai sekelas PPP belakangan ini lebih memusatkan energinya untuk mendulang suara kaum milenial. Hal itu disampaikan Ketua DPC PPP Makassar, Busranuddin Baso Tika (BBT).
BBT yang juga anggota DPRD Makassar dua periode ini mengakui bila kelompok milenial adalah kelompok masyarakat dengan populasi terbesar.
“Tentu PPP tertarik untuk mendulang suara milenial demi memenangkan Pileg. Populasi terbanyak itu adalah milenial yah. Dari kelas 2 SMA sampai mahasiswa itu paling banyak populasinya. Jadi kita cenderung main di segmen itu,” ujarnya saat di gedung DPRD Makassar, Senin (17/12).
Tak hanya PPP, namun PKS juga ikut tergoda untuk menggarap suara milenial, selain mengincar suara ibu-ibu agar bisa memenangkan Pileg 2019. Ketua PKS Makassar, Anwar Faruq mengaku ketertarikan PKS terhadap suara milenial karena terispirasi dengan gerakan politik capres-cawapres nomoe urut 2, Prbowo Subianto-Sandiaga Uno yang saat ini fokus menguasai suara anak muda. Di samping juga fokus mendulang suara emak-emak.
Bahkan, Golkar yang dianggap sebagai partai tua juga sudah ingin menyesuaikan diri dengan zaman. Untuk itu, Golkar Makassar mulai ikut bersaing merebut suara pemilih milenial. Ketua Golkar Makassar, Farouk M Betta mengatakan, dalam komposisi caleg yang dimiliki Golkar, sebanyak 60 persen diisi oleh caleg muda, dari usia 25 hingga 40 tahun.
“Karena caleg-caleg muda ini diharap bisa menjadi instrumen untuk merebut suara milenial yang berjumlah besar itu. Kalau dikatakan Golkar berubah, kita sangat berubah. Ini orang-orang muda lho yang memegang kendali partai sekarang ini,” tuturnya.
Pakar hukum tata negara sekaligus Ketua Pusat Kajian Antikorupsi UGM, Zaenal Arifin Mochtar saat menjadi pembicara pada diskusi akhir tahun Golkar Makassar beberapa waktu lalu mengatakan, jumlah generasi milenial saat ini sebanyak 35 juta menurut beberapa survei. Jumlah ini tentu sangat menggoda buat partai politik.
Meskipun sebagian parpol punya ambisi merebut suara milenial. Namun, ternyata pemilih milenial ini punya kecenderungan khusus dalam memilih seorang caleg yang diusung parpol di Pileg. Maka merebut suara pemilih milenial tak semudah yang dikira. Parpol harus menyiapkan berbagai strategi untuk bisa memikat hati pemilih milenial agar ingin memilih caleg yang diusungnya.
Sementara itu, Direktur Riset Celebes Research Center (CRC), Andi Wahyudin mengatakan, pemilih milenial masuk dalam kategori pemilih rasional yang cenderung unik. Karena pemilih milenial adalah kelompok masyarakat yang pilihannya sangat banyak dipengaruhi oleh informasi yang mereka peroleh baik di media sosial (medsos) maupun media online dan media massa.
Melalui pertimbangan-pertimbangan yang didapatkannya dari informasi di medsos, pemilih milenial cenderung tidak memiliki pilihan yang tetap. Pilihannya kadang berubah-ubah. “Karakteristik mereka relatif lebih mudah menentukan pilihan, tetapi juga relatif mudah berpindah pilihan. Jadi sederhananya itu pemilih milenial mudah jatuh cinta tapi mudah juga berpindah ke lain hati. Saya kira hal itu yang harus jadi pertimbangan dalam menggaet pemilih milenial,” katanya.
Namun, satu hal yang pasti dalam kecenderungan pemilih milenial. Mereka cenderung memilih seorang caleg yang dianggap sesuai selera milenial. Maka, kata Wahyudin, jika parpol ingin merebut hati pemilih milenial maka isu dan program yang dikampanyekan harus sesuai dengan selera pemilih milenial. Selain itu, parpol atau seorang caleg mesti menampilkan fashion atau gaya sesuai selera milenial, mulai dari cara berpakaian hingga cara berbahasa.
“Cara menyampaikannya itu harus sesuai gaya pemilih milenial juga. Jadi konten-konten kampanye yang milenial penting untuk dilakukan, termasuk salah satu pilihan karakter yang dipakai pada saat mendekati pemilih milenial, seperti pakaian dan seragam. Karena pemilih milenial akan senangtiasa memilih sosok yang dianggap dekat dengan mereka,” jelasnya. (ita/rif)
Parpol Islam dan Nasionalis Juga Tertarik Pemilih Pemula
×

