USAHA kecil apapun jika itu serius untuk ditekuni hasilnya cenderung memuaskan. Meskipun hanya dengan modal kecil. Dan ini yang berhasil dibuktikan oleh Salmia yang sukses mengembangkan bisnisnya jualan abon telur.
Laporan: ARIF AL QADRY
Mia Abon, itu nama merek produk Usaha Kecil Menengah (UKM) yang telah dirintis perempuan kelahiran Maros, 7 November 1970 itu sejak 2014. Produk abon telur bermerek Mia Abon pada kemasan bungkusan plastik sangat tenar di masyarakat Maros dan Makassar dan Sulawesi Selatan pada umumnya. Brand ini sudah mudah ditemui di toko – toko kecil maupun mall.
Seperti di Grand Mall, Maros. Abon telur buatan Salmia sudah masuk. Sementara masih banyak vendor-vendor lainnya termasuk di Makassar membantu memasarkan produk buatannya. Adapun goal pada tahun 2019 depan ingin menembus pasar di Carrefour. Apalagi produknya sudah mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Memiliki UKM yang terkenal sama sekali tidak disangka oleh Salmia. Inipun berawal dari kegemarannya ngemil dan membuat makanan di rumah. Adapun inspirasi dan ide membuka bisnis abon telur berawal ketika hadir di acara pengantin keluarganya. Di atas meja prasmanan, mata Salmia tertarik dengan abon telur yang disajikan.
“Enak dan gurih, sontak itu yang muncul dipikiran saya ketika melihat abon telur di atas meja. Saya pun ambil sesendok abon telur ke piring saya. Rasanya memang enak, gurih dan ada manis-manisnya. Saya kemudian tertarik membuat sendiri di rumah” sebut Salmia pada penulis.
Selama berada di pesta pernikahan itu, Salmia terus-terusan kepikiran dan penasaran mencoba membuat sendiri abon telur dengan rasa sama dan bahkan jauh lebih nikmat. Tubuhnya tidak tenang, selalu ingin se-segera pulang membeli bahan-bahan bumbu membuat abon telur.
Hanya 15 menit di lokasi pengantin dan sudah berjumpa-jumpa dengan sanak keluarga dan temannya, Salmia lalu beranjak pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah ia tak langsung istirahat. Lagian waktu masih sore pukul 15:00 WITA. Dia langsung bergegas ke pasar membeli telur, ubi jalar, kacang tanah, dan bumbu-bumbu dasar membuat abon telur. Alat yang digunakan pada waktu itu masih seadanya dan sederhana.
“Pulang dari pesta pernikahan saya lanjutkan ke pasar membeli bahan-bahan membuat abon telur. Saya suka dengan olahan makanan itu karena enak dan gurih. Di pasar saya beli telur ayam, ubi jalar, kacang tanah dan bumbu-bumbu yang saya tahu,” ujarnya.
Proses pembuatan abon telur Salmia yang perdana cukup dapat respon baik dari anak-anak dan suaminya. Inipun membuatnya berpikir membuka bisnis jualan abon telur di tetangga sekitar tempat tinggalnya di Lingkungan Amarang, Kelurahan Borong, Kecamatan Tanralili.
“Saya membuat awalnya ada 10 kilo abon telur yang saya jual ke tetangga dan keluarga. Hasilnya baik, dan banyak suka. Hanya beberapa hari pesanan juga masuk. Diterima iya, tapi tidak semua karena SDM dan alat kurang, jadi semampu saja,” tambahnya.
Harga Mia Abon atau abon telur yang di jualnya terbilang ramah dan terjangkau. Hanya sebesar Rp20.000 sudah bisa nikmati rasa gurih abon telur.
Dari kesuksesan usaha kecil Salmia jualan abon telur, memiliki banyak cerita yang menarik. Mulai dari pengalaman banyak menolak pesanan karena alat-alat belum memadai, hingga barang dagangannya tidak di bayar oleh teman-temannya yang membantu menjual abon telurnya. Tetapi dari situlah dia belajar menjadi lebih baik lagi dan tetap baik kepada orang yang ingin membantu menjualkan produknya di daerah-daerah.
“Sebungkus abon telur saya jual cukup murah, sebesar Rp20.000 per bungkus dengan berat isi 200 gram. Bagi yang ingin pesan banyak untuk acara juga bisa, tinggal menghubungi saya saja langsung dan datang ke rumah,” ucapnya.
Harapannya yang ingin dicapai tahun 2019 nanti adalah bagaimana produknya ini dapat masuk ke Carrefour. Tidak itu saja, ia juga berharap dapat membuka toko tetap di Maros dan memiliki cabang di seperti daerah.(*)

