PERNAH ada jayanya para penjual majalah, tabloid, dan koran di Makassar. Kini, banyak dari mereka yang gulung tikar, atau berpindah usaha. Namun, ada juga yang memilih tetap bertahan seperti Muhammad Riza.
Laporan: NUGROHO
Di sudut Jalan Slamet Riyadi, tepat di seberang jalan samping Kantor Pos Pusat Makassar, berdiri sebuah toko kecil yang masih memajang beberapa tabloid dan koran. penulis berkesempatan mewawancarai Muhammad Riza. Dalam pertemuannya dengan penulis, ia mengenang kembali kejayaan penjualan media cetak tersebut.
Tokonya tak begitu luas. Di sudut sebelah kanan toko terpajang beberapa koran dan tabloid yang dijualnya. Sebelah kiri toko, menjual berbagai minuman dan makanan ringan.
Ia menjelaskan cukup gamblang tentang bagaimana omzet penjualannya begitu menurun sejak tiga tahun lalu. Dimana internet kini sudah menjadi ‘makanan’ sehari-hari masyarakat Makassar.
Riza mengakui bahwa internet memicu munculnya berbagai media online yang menampilkan berita di genggaman tangan. Hal ini yang membuat para pembaca media cetak menurun drastis. Sehingga penjualan tabloid, majalan, maupun koran sangat semakin berkurang.
Pria 44 tahun ini berjualan dengan ibunya di toko tersebut. Karena ia memulai berjualan media cetak sejak masih SMP, dimana saat itu ibunya lah yang memodali. Berpuluh-puluh tahun sudah berjualan, Riza merasakan betul dampak internet ini.
Usahanya inilah yang sejak dulu bisa menghidupi dirinya. Membiayai sekolahnya serta enam saudaranya yang lain. Bahkan ibunyapun bisa berhaji karena hasil penjualan tabloid dan koran.
Sekarang, penurunannya begitu drastis. Dulu perharinya bisa memiliki omzet hingga lebih dari Rp5 juta perhari, kini tinggal Rp500 ribu saja perhari.
Namun Riza tetap bertahan hingga kini. Ia memiliki alasan yang kuat mengapa masih berjualan media cetak walaupun omzet turun drastis. Informasi di media cetak yang tidak semua ada di media online, menjadi alasan utamanya.
“Karena semua informasi di media cetak tidak didapat semua di internet. Makanya saya masih jual, masih banyak orang yang beranggapan informasi di cetak lebih lengkap,” kata Riza.(b)

