Kita tidak pernah bisa memilih dilahirkan lewat rahim ibu yang mana. Semua sudah ditentukan oleh Sang Khalik. Begitu juga dengan diriku. Jika dari dalam kandungan bisa memilih, tentu aku akan memilih dilahirkan dari rahim ibu keluarga bangsawan, kaya raya, terhormat, dan berpendidikan.
Namun, nasib berkata lain. Aku terlahir dari rahim seorang perempuan PSK. Kelahiranku tidak diharapkan. Saya pun tidak tahu ayahku yang sebenarnya. Yang jelas, sejak bayi dan hingga sekarang usiaku 18 tahun, aku mengenal Thamrin sebagai sosok ayah. Lelaki itu bukan suami resmi ibuku. Orang memberinya istilah ‘dampeng’ yang jika diartikan dalam Bahasa Indonesia, adalah pendamping.
Usianya lebih muda tujuh tahun dari ibuku yang bernama Cantik (nama samaran).
Namaku Melati (nama samaran). Setahun terakhir terjun ke dunia malam mengikuti jejak ibuku, Inah.
Saya dibesarkan di lingkungan yang amburadul. Sebuah kawasan yang penghuninya dominan PSK. Otomatis, dibesarkan di lingkungan itu, nilai-nilai agama nyaris tidak pernah diajarkan padaku. Ibuku yang kerja malam sangat minim dalam mengurusku. Siang hari lebih banyak dihabiskan untuk tidur karena pulang kerja kadang menjelang subuh. Malah, ibu kadang tidak pulang dua hari dua malam. Setelah agak besar aku tahu, jila ibu tidak pulang, berarti dia lagi dibooking sama lelaki. Otomatis saya tinggal berdua di rumah kontrakan bersama Thamrin yang kupanggil bapak. Lelaki itu tidak punya pekerjaan tetap. Dialah yang merawatku dari kecil. Walaupun saya bukan darah dagingnya, dia sangat menyayangiku. Ibu memang mempercayakan aku kepada lelaki itu. Dia sangat patuh pada ibu. Sehingga apapun yang dikatakan ibu, berusaha untuk dilakukannya. Sementara ibu, walaupun terkesan acuh tak acuh padaku, namun secara materi, semua kebutuhanku dipenuhinya. Paras ibuku tergolong cantik. Bodi nya aduhai, sehingga banyak lelaki yang tertarik padanya. Malah ada yang terang-terangan melamar ibu menjadi isteri siri. Namun semua ditolak. Dia mengaku happy menjalani profesinya sebagai seorang PSK.
Usiaku semakin beranjak remaja. Pendidikan bukan persoalan yang cukup penting bagi ibuku sehingga boleh dibilang aku disekolahkan ala kadarnya oleh ibu. Kalau aku tidak ingin pergi sekolah, ibu tidak pernah marah dan melarangku. Akibatnya, aku harus menyelesaikan sekolah dasar selama delapan tahun. Yah, di SD, aku tidak naik kelas sebanyak dua kali.
Di usia 15 tahun, aku mulai merasakan cinta. Namun, cintaku bisa dibilang cinta terlarang. Aku jatuh cinta pada lelaki yang akrab kusapa Bapak, yang juga dampeng ibuku, Thamrin. Kebaikannya padaku mengubah perasaanku menjadi cinta. Ternyata gayungpun bersambut. Aku rela menyerahkan kegadisanku pada lelaki itu tanpa paksaan. Hubungan laiknya suami isteri kerap kami lakukan. Tentunya jika ibuku tidak ada. Aku menikmatinya. Dan agar tidak hamil, Thamrin membekaliku pil yang harus kuminum tiap hari. Dia menyuruh menyembunyikan obat itu yang akhirnya kuketahui bernama pil KB dari pandangan ibuku. (rhm/C)

