MEMULAI usaha tidak harus menunggu waktu ataupun usia, sebab dengan adanya peluang dan kesempatan, siapa saja bisa bisa memulainya. Salah satunya dilakukan Dzulkifli Firdaus yang memulai usahanya dengan menjajaki kuliner keripik bawang.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Usaha milik Kifli ini terbilang mempunyai target yang jelas yaitu mahasiswa dan toko swalayan kecil di kota Makassar. Dikemas dengan kemasan plastik dan desain sendiri, Kifli mengaku hemat mengeluarkan budget, dengan harga jual Rp10-15 ribu perbungkus.
“Saya tahu bahwa mahasiswa dan masyarakat itu paling suka makan dan ngemil. Dan kenapa bawang, karena keuntungan dan ladang bisnis yang tahan lama itu hanya bawang dibanding yang lain seperti cabe, terlebih lagi murah,” ungkapnya kepada penulis.
Saat ini usaha keripiknya mampu menghasilkan omset rata-rata Rp8,5 hingga Rp15 juta perbulan. Keuntungan itu bisa dibilang sangat jauh dari gajinya sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Makassar. Meskipun diakuinya, harus mengimbangi dua pekerjaan sekaligus, namun Kifli tidak merasa khawatir sebab ada teman dan mahasiswanya yang ia pekerjakan untuk membantunya.
“Yah pasti jauh lebih banyak jadi pengusaha, kalau gaji dosen disini itu per sks dapatnya. Semakin banyak yang laku kita dapatnya untung besar,” bebernya.
Untuk memasarkannya,Kifli memanfaatkan media sosial facebook dan instagram untuk menjual produk olahan keripiknya di alamat @keripikzela. Bahkan ia sering mengikuti acara yang diadakan oleh beberapa universitas seperti acara bazar.
Kedepan, ada sejumlah target yang sedang dipikirkan Kifli untuk memperlebar usahanya, terlebih lagi keripik bawang ini sangat potensial untuk bisa meraih kesuksesan di pasar cemilan dan oleh-oleh. Dalam waktu dekat berniat ingin memasarkan keripik hasil inovasinya merambah ke pasar modern dan membuka outlet sendiri.
“Pingin sih, ini masih ngumpulin dulu sedikit-sedikit. Kalau kita masuk di UKM memang gampang masuk ke pasar modern, tapi saya mau coba mandiri aja dulu, kalau sudah masuk ke pusat oleh-oleh dan ada toko sendiri baru saya coba jua produksi banyak,” tuturnya.
Menyandang gelar dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar tidak membuat dirinya pesimis atau menjajaki usahanya di kampus. Dirinya bahkan pede menawarkan usahanya untuk dosen dan mahasiswanya. Kifli juga memasarkan usahanya lewat jasa online, walaupun diakuinya belum bisa banyak memproduksi sebab keterbatasan SDM, modal dan bahan bakunya.(*)

