BISNIS kacang telur milik Yusrifah Halik semakin berkembang. Ia sengaja mengambil produk industri rumah tangga (PIRT) karena mendapat dukungan dari pemerintah provinsi.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Saat ini, usaha Yusrifah dipantau dan dibimbing oleh dinas kesehatan serta dinas tenaga kerja. Bahkan penjualannya sudah tersebar di empat provinsi, setelah mengikuti banyaknya pelatihan dari pemerintah.
Ibu dari dua orang anak ini mengaku, setelah naiknya permintaan kacang telur, ia mulai memperbakiki kemasan dan menaikkan jumlah produksinya. “Usaha ini tidak instan, saya banyak mengikuti pelatihan-pelatihan usaha baik yang dilakukan pemerintah maupun swasta. Permintaan-pun mulai banyak, saya masuk dalam kelompok UKM sambil mengembangkan usaha sedikit demi sedikit,” ungkapnya kepada penulis.
Kini penjualannya tidak hanya di Sulawesi Selatan saja melainkan juga di Sulawesi Barat, Jawa Timur dan Jakarta. Bahkan tiap provinsi jumlah permintaan kacang telur usahanya selalu tinggi. Terlebih lagi, Yus sapaan akrabnya, masih melakukan promosi secara sistem kekeluargaan, lewat itu dirinya merekrut pegawainya dari keluarganya sendiri.
“Masih dalam skala keluarga dan teman, ada juga terdapat beberapa reseller yang pengambilannya secara curah. Setelah itu, mereka jual kembali ada juga, sayapun kalau kemana-mana saya selalu membawa tester produk saya agar orang bisa mengenal produk saya,” bebernya.
Setiap hari, Yus menjual kacang telur miliknya ke reseller 50 hingga 100 kilo. Harga yang ia jual untuk usahanya yakni, khusus kacang telur Rp70 ribu per kilo, kacang disko Rp70 ribu per kilo.
Sejauh ini, dirinya mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Kedepan ia menginginkan ada galery penjualannya sendiri, sehingga bukan lagi industri rumahan.
“Apa yah sekarang ini kan belum ada toko, maunya ingin mendirikan galery sendiri agar semkain berkembang, supaya bisa menampung produk-produk UKM yang lain juga. Maunya di Tamalanrea dan Bringkanaya,” bebernya.
Sejak merintis usahanya 2015 lalu, wanita Kelahiran Makassar, 18 April 1980 ini mengakui, jika kacang telur adalah salah satu camilan yang kerap dijadikan orang untuk teman bersantai. Olehnya itu, ia mulai membangun usaha. Apalagi, bahan bakunya ia ambil di daerah Polewali Mandar yang tidak mengeluarkan ongkos mahal.
“Kacang telur produksi saya merupakan kacang telur kampung tradisional. Tidak ada bahan pengawat. Saya memesan kacang ini dari suplier kacang yang ada di Makassar, Polewali. Usaha ini saya tekuni disamping memang penyuka kacang, usaha ini juga mendatangkan banyak rezeki,” katanya.
Sebelum membuka usaha, Yusrifah sempat berkonsultasi ke suaminya. Akhirnya, suami juga ikut mendukung.”Suami mendukung langsung tancap gas. Sedikit-dikit saya mulai membangun usaha ini sambil belajar dan menanyakan ke teman yang sudah buka usaha juga,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu di Hotel Claro.
Setelah itu, Rifah mengaku merintis usaha ini diakui butuh perjuangan dan waktu lama untuk bisa berkembang dan masuk ke pusat toko oleh-oleh Makassar, sebab proses dan pengurusan yang lama.(*)

