MAKASSAR, BKM — Stigma buruk terhadap terminal angkutan umum yang ada di Makassar masih tetap melekat hingga saat ini. Terminal Regional Daya (TRD) dan terminal Mallengkeri kondisinya kian memprihatinkan.
Kumuh, jorok, dan sering kebanjiran menjadi alasan penumpang dan sopir angkutan umum enggan masuk ke dalam terminal. Sehingga tidak mengherankan jika terminal bayangan serta liar kian marak, bak jamur di musim penghujan.
Rabu siang (26/2), BKM berkunjung ke dalam terminal Mallengkeri. Dari luar memang tampak biasa-biasa saja. Namun setelah melewati posko jaga, barulah wajah asli terminal yang dikelola oleh PD Terminal Metro Makassar Raya ini terlihat.
Infrastruktur berupa jalan sudah rusak dan berlubang di mana-mana. Air hujan yang turun tidak mengalir lancar, hingga menggenangi lubang jalanan.
Sesekali terlihat mobil yang harus rela mengorbankan bampernya lecet akibat rodanya masuk ke dalam lubang yang cukup dalam. Ada pula pengemudi yang ragu melintasi jalanan tergenang dan memilih untuk mencari jalur lain yang masih di dalam terminal, meskipun harus berputar-putar. Padahal hampir semua jalan dalam terminal itu rusak dan tak diperbaiki.
Sementara beberapa orang penumpang terlihat duduk di tempat menunggu, yang kondisinya tak kalah mirisnya. “Percuma mau teriak-teriak bicara, menyoroti kondisi miris dalam terminal ini kalau pemerintah saja tidak peduli. Tidak punya perhatian terhadap pelayanan publik. Lihatmaki saja kondisi terminal yang sudah lama kumuh seperti ini dan tidak juga diperbaiki. Mana perhatian dari PD Terminal selaku pengelola,” keluh Agus Daeng Gappa yang ditemui di area terminal.
Menurut Agus, pemkot melalui PD Terminal Metro Makassar belum memperlihatkan upaya membenahi fasilitas yang ada dalam terminal. Sementara infrastruktur, khususnya jalanan sangat dibutuhkan. Jika fasilitas dalam terminal baik, maka penumpang akan nyaman berada dalam terminal. Sebaliknya, bila fasilitas buruk sudah tentu orang malas untuk masuk.
“Kami setiap hari masuk dalam terminal untuk cari penumpang. Kalau kami masuk sudah pasti bayar retribusi sebesar Rp5.000 untuk satu mobil. Nah, ada berapa banyak mobil masuk setiap harinya dan dikemanakan uangnya? Ke mana atau buat apa uang retribusi itu, sementara kondisi terminal begitu-begitun saja. Buruk dan tidak nyaman,” cetusnya.
Sebenarnya, tambah Agus, persoalan di terminal tidak berhenti pada fasilitas semata. Ada banyak yang menjadi permasalahan. Seperti menjamurnya terminal bayangan yang muncul di Gowa, perbatasan dengan Makassar. Kondisi ini menjadi gambaran bahwa ada sopir yang tidak nyaman berada dalam terminal, sehingga menunggu penumpang di lokasi terminal liar.
“Sekarang lihat di Gowa, di perbatasan. Sudah ada terminal bayangan. Mobil angkutan sudah banyak mangkal dan menunggu penumpang di situ, karena mereka lebih nyaman mungkin berada di sana. Harusnya terminal ini dibenahi,” terangnya.
Kondisi yang tak jauh berbeda juga terlihat di TRD. Selain kondisi sarana dan prasarana yang kurang memadai, jalan masuk ke dalam terminal juga rusak.
Muh Arfin, seorang calon penumpang tujuan Luwu yang tengah menunggu di dalam TRD, menegaskan perlunya segera dilakukan pembenahan oleh PD Terminal. Khususnya memperbaiki fasilitas pendukung yang ada, sehingga penumpang bisa dengan mudah mengakses masuk terminal.
Keengganan calon penumpang untuk masuk ke dalam terminal juga disebabkan waktu menunggu bus angkutan yang cukup lama. Berbeda ketika naik bus lewat pool.
”Kondisi terminal seperti ini membuat penumpang malas untuk masuk. Apalagi harus menunggu lama. Makanya, banyak calon penumpang berinisiatif untuk menunggu bus di luar terminal,” ungkapnya saat di TRD, Rabu (26/2).
Pantauan BKM kemarin, kondisi terminal sepi. Calon penumpang hanya ada beberapa orang. Untuk masuk saja, harus membayar retribusi Rp2.000.
Dari segi kebersihan, kondisi TRD lebih baik dari terminal Mallengkeri. TRD sudah tergolong bersih. Namun, atap gedung terminal sudah banyak yang bolong dan dipenuhi rayap. Loket karcis sebagian tidak digunakan lagi.
Salah seorang sopir bus antardaerah bernama Saiful, mengaku banyak penumpang memilih naik bus di luar terminal. Karenanya, sopir hanya singgah di dalam terminal.
“Jadi bukan kita (sopir) yang tidak mau, tapi penumpangnya memang yang tidak mau masuk terminal. Beda kalau di luar terminal, penumpang langsung naik mobil. Tidak lama langsung berangkat. Jauh juga mau masuk ke sini. Penumpang malas jalan kaki terlalu jauh, karena mereka telah turun dari angkot di luar terminal. Belum lagi kalau banyak barangnya,” beber Saiful.
Tak Punya Anggaran
Dihubungi terpisah, Kepala Bagian Umum PD Terminal Metro Makassar Muhsin R Radja, menjelaskan bahwa direksi yang baru mengakui segala kekurangan saat ini. Namun, yang menyebabkan keterbatasan untuk melakukan pembenahan seperti yang selama ini dikeluhkan penumpang, karena PD Terminal tidak memiliki alokasi anggaran dari APBD, sementara pendapatan minim.
“Kita tidak ada bantuan itu (anggaran di APBD). Pernah diusulkan, tapi belum (disetujui) karena PD Terminal ini statusnya swasta. Tapi direksi yang baru ini akan mengusulkan ulang, penyertaan modal namanya. Kira-kira untuk memperbaiki terminal ini juga kami tidak pernah hitung, karena kita juga tidak punya kapasitas untuk itu. Kami paling minta mengusulkan saja bisa tidak (pemkot) memperbaiki, utamanya jalan di terminal Daya dan Malengkeri,” jelasnya.
Di tengah keterbatasan itu, direksi yang baru, menurut Muhsin akan terus berupaya memperbaiki sarana yang saat ini kondisinya sudah parah. ”Kita berupaya walaupun itu ke depannya bagaimana. Salah satu caranya bekerjasama dengan beberapa pihak terkait. Utamanya pihak PO untuk mengarahkan penumpang masuk terminal. Minimal itu bisa menambah pendapatan PD Terminal, sehingga bisa dilakukan pembenahan sedikit demi sedikit,” tambahnya.
Karena, lanjutnya, PD Terminal juga punya tanggungan untuk memberikan setoran ke pemerintah kota. Belum lagi belanja pegawai.
“Jadi kami punya tanggungan itu ada belanja pegawai, sarana prasarana, dan setoran PAD. Kita masih tetap tanggung semua. Kondisi terminal memang sudah seperti ini. Mulai sarana dan prasarananya kayak begitu, orang juga sudah malas. Sehingga pendapatan turun. Karenanya, biaya tim juga kita sesuaikan dengan pendapatan,” jelasnya.
Saat ini tercatat ada 98 orang pegawai yang bertugas di TRD dan terminal Mallengkeri. Belakangan ini PD Terminal sangat merasakan kendala biaya.
Soal terminal bayangan yang marak, Muhlis berdalih untuk bukan kewenangan pihaknya melakukan penertiban. Karena PD Terminal hanya mengelola yang ada di dalam terminal. ”Kita tidak berhak menilang. Bukan wewenang kami,” kuncinya. (arf-ita)

