BERAWAL dari pengalaman hidup yang begitu pahit mengantarkan, Makmur (35), sukses berbisnis kedai kopi bercita rasa kelas di kantin kantor Dispenda Prov Sulsel, Jalan AP Pettarani Makassar.
Laporan: ARIF AL QADRY
Awalnya, pria kelahiran Makassar 8 Februari 1981 ini mengaku, kalau dulunya dia hanya berprofesi sebagai juru parkir (Jukir) di depan warung kopi warkop di kawasan ruko Boulevard.
Beberapa bulan menggeluti profesi jukir, sang pemilik warkop menawarkannya berhenti menjadi jukir dan bekerja sebagai Clening Service (CS) di warkop tersebut pada tahun 2005.
Tidak berfikir panjang, dia langsung menerima tawaran itu dan beradaptasi dengan pekerjaan barunya tanpa rasa malu.
Setiap pagi, dia memulai turinitas membersihkan warkop dengan cara menyapu lantai, mengepel dan membersihkan noda yang ada di lantai serta di atas meja.
Hanya berselang beberapa bulan menjadi CS, dia kembali mendapatkan tawaran menjadi pelayan hingga beralih menjadi peracik kopi di dalam dapur.
Saat itulah, dia mengasah pengalamannya untuk meracik kopi yang begitu nikmat di lidah konsumen. Pengetahuan tentang cara meracik kopi dia dapatkan setiap hari dan terus dipelajarinya. Takaran demi takaran ia pelajari, sajian kopi yang dia buat ternyata cukup disenangi dan dinikmati semua orang yang datang berkujung.
Meski adapula sebagian pengunjung yang berkomentar masalah rasa kopi yang tidak sesuai dengan seleranya, namun hal itu tidak menyurutkan Makmur untuk terus belajar dan belajar meracik kopi, agar rasanya lebih mantap.
Setelah merasa cukup mendapatkan pengalaman dalam meracik kopi yang baik, ia kemudian berfikir untuk membuka usaha warkop yang dia anggap lebih menjanjikan ketimbang menjadi seorang karyawan. Namun saat itu, modalnya untuk membuka warkop untuk menyewa tempat dan membeli bahan ataupun perlengkapan kopi belum ada.
Dia terpaksa harus mencari mitra yang dapat membantunya untuk memodali menyewa tempat dan sekaligus membeli perlengkapan dan bahan pembuatan kopi. Apalagi, saat itu, modal Makmur hanya mengandalkan jasa dari pengalamannya selama beberapa tahun sebagai peracik kopi di warkop kawasan Boulevard tersebut.
Alhasil, di tahun 2007, dia mendapatkan seorang mitra yang kebetulan pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja di Badan Diklat.
Dia bersama mitranya mulai membuka warkop di Jalan Aroepala, dengan dinding berwarna hijau berdiri diatas tanah kosong tepatnya di samping kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Makassar.
Sejak awal, dia mengaku warkop yang dirintisnya dengan menawarkan racikan kopi yang khas cukup disenangi pengunjung, hingga warkop tidak pernah sepi dari pengunjung.
Tapi sayang, warkop yang dia rintis sejak awal atau yang dimulai dari nol hanya dapat nikmati Makmur selama empat bulan lamanya. Hal ini disebabkan karena mitra yang awalnya saya percaya dapat benar-benar diajak bekerjasama ternyata hanya memanfaatkan kemampuan Makmur sebagai peracik kopi terbaik.
Selepasnya dari warkop yang ia rintis sejak nol di Jalan Aroepala, Makmur kembali dipanggil untuk mengelolah salah satu warkop di Jalan Alauddin, tepatnya di depan kampus Unismuh Makassar tahun 2008.
Di warkop tersebut juga ramai dikunjungi penikmat kopi, sebab selain rasa kopi yang diraciknya sangat nikmat, dia juga menarik para pengunjung di warkop dengan menghadirkan band-band lokal untuk nampil menghibur para pengunjung atau membuat acara Nonton Bareng (Nobar) di warkop.
Seiring waktu berjalan, tepatnya diakhir tahun 2010, dia memantapkan hatinya untuk membuka usaha warkop sendiri dengan modal awal sebesar Rp5 juta, yang diperoleh dari kredit di salah satu bank.
Uang yang ia pinjam digunakan untuk membeli perlengkapan seperti meja dan kursi, alat peracik kopi, bahan bahan kopi ataupun gelas.
Untungnya, warkop yang ia buka dengan nama Warkop Makmur yang berada di Jalan KH Wahid Hasyim, Kabupaten Gowa sewa tempatnya belum dibayar. Sehingga ia memiliki kesempatan untuk mencari modal di bulan berikutnya untuk membayar sewa tempat.
“Saya memang punya target membuka warkop di Gowa untuk menggalang komunitas pecinta kopi yang ada di Gowa,” kataya.
Selain itu, ia juga membuka dan mengelolah kedai kopi di kantin Kantor Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Provinsi Sulsel, di Jalan AP Pettarani Makassar. Menurutnya, untuk memperkenalkan kopi racikannya. Selain mengandalkan mulut ke mulut juga diperlukan banyak tempat yang mudah dijumpai orang orang untuk merasakan kenikmatan kopi yang ia racik.(arf/b)

