MAKASSAR, BKM — Musim kemarau yang tengah berlangsung saat ini, memicu tingginya suhu udara. Khusus di Kota Makassar dan sekitarnya, tercatat mencapai suhu maksimal.
Prakirawan Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar Rekun Matandung, menjelaskan hal itu ketika dihubungi, Minggu (23/8). Dia pun mengakui bahwa di musim kemaran seperti saat ini potensi kebakaran memang semakin tinggi. Namun kebakaran yang diakibatkan oleh tingginya suhu udara, biasanya terjadi bukan di area perumahan penduduk.
”Dalam beberapa hari terakhir suhu di Makassar hingga 34 derajat celcius. Itu suhu maksimal. Kan rangenya kalau di Makassar 24 hingga 34 derajat celcius. Suhu tertinggi biasanya berlangsung jam 1 atau jam 2 siang,” jelas Rekun.
Ia merangkan, bahwa suhu setinggi itu memang menimbulkan potensi kebakaran yang lebih tinggi. Namun potensi terjadinya biasa di hutan, bukan di pemukiman penduduk.
Jika di Makassar, potensi kebakaran akibat suhu tinggi biasa terjadi di lahan kosong yang ditumbuhi alang-alang. Hal ini kerap terjadi di Makassar pada tahun-tahun sebelumnya.
“Musim kemarau ini potensi kebakaran cukup tinggi. Tapi bukan kebakaran yang terjadi tiba-tiba di pemukiman. Kalau di pemukiman itu pasti ada sebabnya. Mungkin ada korsleting listrik atau penyebab lain,” katanya.
“Kalau kebakaran karena suhu yang tinggi, biasanya titik kebakaran terjadi di hutan. Kalau lahan-lahan pemukiman, tidak. Alang-alang diwaspadai, yang biasanya ada di lahan terbuka. Sementara kalau seperti di pasar, tidak. Potensinya kecil. Ada penyebab lainnya,” terang Rekun lagi.
Namun dia mengingatkan, jika kebakaran terjadi di suhu seperti saat ini, maka penyebaran api akan lebih cepat. Udara yang panas dan kering, serta angin yang lebih kencang saat kemarau, membuat api lebih mudah menyebar.
“Kalau musim kemarau seperti sekarang, penyebaran apinya sangat cepat. Dikarenakan suhu udara yang panas dan kering. Anginnya juga lebih kencang. Lebih signifikan. Sehingga penyebaran apinya cepat,” jelasnya.
Masyarakat pun diimbau untuk selalu waspada akan bahaya kebakaran. Karena musim kemarau di Makassar diperkirakan baru akan berakhir pada Oktober mendatang. Sementara puncak dari musim kemarau, diperkirakan akan terjadi bulan depan.
“Di Makassar, kemarau biasa terjadi pada Agustus, September, Oktober. Sementara puncaknya itu di September,” tutup Rekun.
Pasar dan Rumah Terbakar
Pada hari Minggu (23/8) pukul 06.25 Wita, kebakaran hebat terjadi Jalan Indah IV, dekat Pasar Pannampu, Kelurahan Pannampu, Kecamatan Tallo. Ada dua versi yang berkembang di tengah masyarakat sebagai pemicu timbulnya api, seperti disampaikan Bhabinkamtibmas Pannampu Bripka Anwar Sese.
”Yang pertama diduga karena korsleting listrik. Kedua, ada warga di sebuah rumah yang terbakar tengah memasak mi instan. Tiba-tiba kompornya meledak hingga menyebabkan kebakaran yang begitu cepat menjalar,” ujarnya di lokasi kejadian, kemarin.
Akibat kejadian itu, sebanyak 75 rumah hangus terbakar dan rata dengan tanah. Sementara 16 rumah lainnya terkena dampak dari musibah kebakaran ini. Terpaksa dirusak untuk memutus api menjalar ke rumah lainnya.
Dari hasil pendataan, warga yang menjadi korban akibat musibah ini sebanyak 409 jiwa dari 109 keluarga. Mereka yang kehilangan tempat tinggal, untuk sementara mengungsi di rumah kerabat atau posko yang telah disiapkan. Kerugian ini ditaksir lebih kurang Rp1 miliar.
Lurah Pannampu Abdul Muis, mengatakan untuk saat ini korban membutuhkan bantuan makan dan minuman, tenda, serta kebutuhan sehari-hari.
”Kita sampaikan kepada warga yang terdampak agar bersabar, karena ini adalah musibah. Insyaallah akan ada jalan keluar. Kami sudah berkoordinasi dengan sejumlah instansi untuk penanganannya. Dinas Sosial sudah dikoordinasikan untuk menyediakan dapur umum guna memenuhi kebutuhan makan dan minum bagi para korban,” kata Abdul Muis, kemarin. (nug-jul)

