PANDEMI covid-19 atau corona virus disease turut berdampak pada penjual pernak-pernik untuk perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Sejumlah pedagang mengeluhkan sepinya pembeli, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.Seperti yang dialami pedagang, Asrawati.
LAPORAN: ALHIDAYAH-YUSRIL-NINGSIH-ZIZAN
Asrawati yang setiap hari berjualan di Pasar Terong, Makassar mengatakan, jika tahun sebelumnya sudah ramai pembeli sebulan sebelum perayaan maulid. Namun, hingga akhir Oktober ini masih sepi.“Lambat sekali pembeli ini tahun, dulu banyakmi. Sekarang masih sepi. Ini mungkin karena ada covid-19, kurang sekali omset,” keluhanya.
Bahkan, pada tahun lalu, pembeli pernak pernik maulid bisa terjual hingga 30 lusin kini hanya terjual satu sampai dua lusin saja, seperti bunga plastik dan ember. Sementara harga per embernya yang cukup besar Rp35.000 yang sedang Rp20.000 dan yang kecil Rp15.000.”Harga ember untuk maulid kita tidak naikkan, harganya sama dengan tahun lalu. Tidak dinaikkan saja sepi orang datang beli apalagi kita naikkan harganya. Berbeda tahun-tahun sebelumnya menjelang maulid, sangat banyak pembeli berburu perlengkapan menyambut maulid apalagi anak-anak sekolah yang ingin menyambut maulid di sekolah nya,” jelasnya.
Untuk menyiasati agar tidak rugi, Asrawati hanya menghiasi ember-ember sesuai pesanan. Ember dia dari Sidrap.”Saya tidak pesan banyak karena nanti rugi. Saya tetap berharap di tahun yang akan datang kondisi ekonomi sudah stabil,”ujarnya.
Hal senada dikatakan, pesagang di Pasar Tamamaung, Imayang. Menurutnya, setiap perayaan maulid ia mendapatkan keuutngan mencapai Rp3 juta dari pejualan pernak-pernik maulid. Hanya saja tahun ini sepi, termasuk karena kondisi covid-19 yang belum reda dan anak sekolah diliburkan .”Dulu saya bisa menjual sampai 50 lusin, sekarang sepi,”tutupnya.(*)

