PETUGAS kebersihan tetap bekerja mengangkut sampah hingga menjaga kebersihan kota, meski masih dalam suasana pandemi covid-19. Bahkan mereka bisa saja rentan akan penularan covid-19. Seperti halnya Aswan, petugas kebersihan di Kelurahan Tammua.
Laporan: JUNI SEWANG
Kita akui, selama ini keberadaan petugas kebersihan masih dipandang sebelah mata, padahal tugas mereka sangat mulia dalam memerangi sampah yang ada di ruas jalan hingga di dalam lorong-lorong. Seadainya Pemerintah Kota Makassar meminta petugas kebersihan untuk bekerja dari rumah, maka sudah pasti sampah-sampah akan menumpuk.
Menumpuknya sampah, tentunya akan menyebabkan lingkungan menjadi tercemar sehingga mengakibatkan munculnya wabah penyakit baru selain covid-19.
Malahan mereka bisa menjadi bulan-bulanan makian dari warga, jika petugas kebersihan lambat mengangkut sampah. Sementara jika gajinya terlambat tak satupun warga yang datang memberikan bantuan ke mereka.
Begitupun yang dialami Aswan.
Tenaga kontrak di Kecamatan Tallo ini, hingga Maret belum menerima gaji.Hal itu membuat Aswan pontang panting mencari uang untuk membiayai kehidupan keluarganya.
Aswan bahkan terpaksa mengutang ke kerabatnya.”Saya akhirnya berutang dulu dek’, soalnya belum terima gaji. Utang saya Rp2 juta dan harus diansur setiap bulan Rp400 ribu. Saya terus menerus ditagih untuk membayar utang tersebut hingga nilainya dua kali lipat dari pinjaman,”ujar Aswan kepada penulis.
Ia mengakui, telah dua tahun bekerja sebagai petugas kebersihan, selama ini hanya mendapatkan penghasilan sebesar Rp2.350.000 tiap bulan dan terkadang tidak full yang ia terima. Terkadang gajinya dicicil oleh pihak keuangan.
Usaha Aswan untuk menagih haknya sudah sering ia sampaikan bersama rekan-rekannya. Termasuk mencoba mempertanyakannya ke pihak keuangan di kecamatan.
Namun, usahanya tersebut berakhir dengan sia-sia dan hanya mendapat jawaban untuk bersabar. Jawaban tersebut membuat Aswan terdiam, tak satu pun kata yang terlontar dari mulut. Dirinya pasrah dan menyesalkan hal semacam itu harus diterimanya dengan pahit. Padahal uang honornya tersebut akan digunakan untuk keperluan hidup dan bayar pinjamannya.
“Saya pikir ada jaminan melalui upah kecamatan, makanya saya berani pinjam uang. Tapi sekarang malah belum cair uangnya,” tandasnya.
Hal tersebut, membuat Aswan putar otak untuk mencari pekerjaan sambilan guna menutupi kebutuhan sehari harinya demi menyambung hidup keluarganya. Seperti, bekerja serabutan.
Aswan berharap agar pemerintah bisa mencairkan gajinyauntuk bisa ia pergunakan membayar utang.(*)

