MAMUJU, BKM — Rasa kecewa kini harus dipendam dalam-dalam oleh Arya Maulana Mulyana dan Christina. Mereka yang seharusnya mewakili Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) menjadi Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) nasional, pupus sudah. Keduanya dinyatakan terkonfirmasi positif covid-19.
Selanjutnya, langsung dipilih pengganti. Arya digantikan oleh Andi Muhammad Juandi, siswa SMA Negeri 3 Polewali. Sementara Christina diganti oleh Anggi F Tamutuan. Mereka masih satu sekolah di SMA Negeri 3 Polewali.
Pembatalan keberangkatan tersebut, khususnya terhadap Arya Maulana mengundang reaksi dari keluarga. Ayah Arya, Hasbi mempertanyakan kegagagal anaknya yang tidak bisa mewakili Sulbar karena dinyatakan positif covid-19 lewat pemeriksaan di Puskesmas Binanga.
Hasbi menjelaskan, menyusul status positif tersebut untuk Arya, pihak warga yang berada satu lingkungan dengan dia tidak merasa khawatir dan was-was. Keluarga ini tetap bergaul dengan tetangganya.
Untuk lebih memastikan, Hasbi bersama anggota keluarganya yang lain kemudian melakukan pemeriksaan antigen di Puskesmas Banggae. Hasilnya ternyata negatif.
“Yang melakukan tes kemarin itu adalah saya, mamanya Arya dan adiknya Arya. Kenapa kami melakukan tes, karna kami melakukan kontak dengan Arya. Namun hasilnya semua negatif,” terangnya.
Terkait Arya tidak melakukan tes swab ulang, Hasbi mengatakan bahwa belum waktunya dilakukan. Karena sudah seperti itu prosedur yang didapat.
”Terkait kemauan agar Arya melakukan tes swab ulang, kami sebagai keluarga sebenarnya sangat ingin. Tapi lagi-lagi sudah seperti itu prosedurnya,” ungkap Hasbi.
Hasbi berharap apa yang terjadi dan dialami oleh keluarganya saat ini, khususnya Arya, masih bisa mengikuti tes ulang kembali tahun depan, sehingga psikologi anaknya bisa pulih. Terkait hal lainnya, Hasbi menyerahkan kepada pemerintah bagaimana yang terbaik bagi sang putra. Yang terpenting, psikologi anaknya bisa pulih kembali akibat gagalnya berangkat.
Menanggapi persoalan tersebut, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sulawesi Barat Muhammad Hamzih, menjelaskan bahwa apa yang dialami Arya dan Cristina murni akibat dari pandemi covid-19. Hasil tes terhadap mereka dinyatakan positif.
Ia lalu menjelaskan alur kronologinya. Awalnya, Arya dan Cristina melakukan swab PCR di Puskesmas Mamuju pada hari Jumat (23/7) pagi. Setelah pemeriksaan itu, mereka bertemu Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar didampingi Sekretaris Dispora Sulbar Saifuddin.
Selanjutnya, pada Sabtu (24/7), hasil swab PCR Arya dan Cristina keluar. Keduanya dinyatakan positif covid-19 dan harus menjalani isolasi mandiri.
Setelah Arya dan Cristina dinyatakan positif covid-19, Dispora Sulbar langsung menggantinya dengan yang siap dan sudah melalui perangkingan dari hasil seleksi.
“Waktunya sempit dan pusat mendesak bahwa harui Selasa harus berangkat ke Jakarta,” ujar Hamzih, Rabu (28/7).
Untuk itu ia melakukan koordinasi dengan semua kabupaten. Akhirnya terpilihlah Muhammad Juandi Ali, siswa SMA Negeri 3 Polewali dan Anggi F Tamutuan, siswi SMA Negeri 1 Mamasa.
Kepala Bidang Kepemudaan Dispora Sulbar Hasdiq Ramadhan mengatakan, Juandi dan Anggi sudah berada di Makassar.
“Untuk mereka tes swab di Makassar sebelum berangkat ke Jakarta. Hasilnya sudah keluar dan dinyatakan negatif,” ungkap Hasdiq, kemarin.
Setelah Arya dan Cristina dinyatakan positif covid-19, tidak ada penanganan medis yang mereka dapat dalam hal pemulihan. Termasuk untuk pemulangan mereka ke tempat asalnya. ”Seharusnya peran Satgas di sini untuk proses pemulangan mereka,” ujar Melkisedek, keluarga dari Cristina.
Terkait hal tersebut, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Sulawesi Barat yang juga anggota Satgas Penanganan Covid-19 Sulawesi Barat dr Muhammad Ikhwan, mengaku baru tahu setelah baca berita. Ia tidak bersedia berkomentar lebih jauh.
”Saya baru tahu setelah baca berita. Saya juga capek kalau persoalan itu harus kami juga yang tangani. Terlebih belum ada laporan masuk terkait hal tersebut,” cetusnya.
Jurus bicara Satgas yang juga Kepala Diskominfo Sulawesi Barat Safaruddin, mengatakan tidak boleh ada istilah capek bila bicara pekerjaan. ”Intinya itu semua adalah tanggung jawab yang harus diselesaikan dan dikerjakan,” imbuhnya.
Terkait kenapa tidak ada upaya pemulangan oleh Satgas bagi Christina yang terkonfirmasi positif covid-19, Safaruddin berdalih bahwa itu ranahnya Satgas kabupaten untuk melakukannya. (*/rus)

