MAKASSAR, BKM — Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) VI terus menggenjot pengerjaan samping sebelah kiri dan kanan jalan utama di simpang lima Perintis-tol Sutami-Bandara. Ruas jalan samping itu ditargetkan rampung paling lambat minggu kedua bulan ini.
Kepala Satuan Kerja (Satker) BBPJN VI Metropolitan, Rahman Djamil menjelaskan, sebelum 14 Maret, jalan samping yang ke arah Makassar sudah harus rampung karena arus lalulintas akan mulai diarahkan untuk lewat di jalan tersebut.
“Berdasarkan jadwal, tanggal 14 Maret itu, jalan utama di sekitar simpang lima sudah akan ditutup. Kendaraan tidak bisa lagi lewat di sana,” ungkap Rahman via telepon, Jumat (4/3).
Jalan utama simpang lima itu, kata Rahman, mulai akan disentuh pekerjaan. Sebab akan dimulai persiapan pengeboran untuk membuat underpass. Karenanya, lalulintas mulai diarahkan lewat jalan samping yang sementara digenjot penyelesaiannya.
Penutupan jalan utama tersebut, lanjutnya, dikhawatirkan akan semakin memperparah kemacetan di area tersebut. Sehingga menyikapi kondisi itu, dalam waktu dekat pihaknya akan duduk bersama sejumlah instansi terkait, seperti Dinas Perhubungan dan DLLAJR membicarakan rekayasa lalulintas yang bisa diterapkan di sana guna meminimalisir kemacetan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Sulsel, Ilyas Iskandar mengklaim, untuk saat ini arus lalulintas di sekitar simpang lima masih cukup normal seperti biasa. Namun, dia memperkirakan jika jalan utama mulai ditutup, bisa jadi perlambatan lalulintas akan semakin terasa.
Dia melanjutkan, yang menjadi kekhawatiran saat ini, kemacetan akan semakin parah akibat masih ada aktifitas yang terjadi di Pasar Mandai. Padahal, beberapa waktu lalu, sudah dilakukan pembebasan lahan dan penertiban di area tersebut.
Dia berharap Pemerintah Kota Makassar menurunkan Satpol PP untuk menertibkan pedagang yang masih berjualan di sana.
“Saya kira jika penertiban di Pasar Mandai sudah tuntas, jalan samping yang dibangun bisa digunakan secara maksimal,” tandasnya.
Dia menambahkan, sebenarnya bila dikalkulasi, jika jalan samping digunakan, fungsinya tetap hampir sama jika pengendara bermotor menggunakan jalan utama. Alasannya, jalan samping satu jalur lebarnya enam meter, bisa untuk dua lajur kendaraan.
“Jadi intinya itu, apa saja yang berbau hambatan diminimalisir. Salah satunya, pedagang yang masih berjualan di Pasar Mandai harus ditertibkan,” pungkasnya.
Prof Lambang Basri dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengatakan, kemacetan yang terjadi di simpang lima bandara saat ini disebabkan berbagai faktor. Seperti adanya aktivitas pedagang kakilima, adanya parkir kendaraan dan belum dilakukannya pembebasan lahan.
“Ini semua menjadi faktor yang menimbulkan kemacetan. Karena itu diharapkan semua stakeholder mendukung proyek ini. Saya juga harap, kendaraan truk besar dilarang melintas saat jam-jam sibuk. Sebaiknya melintas saat malam hari. Pembebasan lahan untuk pelebaran jalan juga harus segera dirampungkan,” ujarnya saat dihubungi, kemarin.
Menurutnya, untuk mengatasi persoalan ini, perlu dilakukan pengaturan manajemen dan rekayasa pergerakan kendaraan. ”Ada tiga fase yang bisa dilakukan. Seperti pengaturan atau rekayasa lalin dari arah selatan maupun utara. Selain itu, pengaturan lalin dari arah selatan (Maros) berbelok kanan, dari arah utara ke barat dan timur. Ketiga pergerakan ini mesti dibentuk sedemikian rupa,” jelasnya. (rhm-ucu/rus)
14 Maret, Jalan Utama Simpang Lima Ditutup
×

