USAI menyaksikan aksi astronot di luar angkasa yang begitu santai melayang-layang, membuat Nabila Qadrianty bercita-cita ingin menjadi astronot. Cewek yang akrab disapa Lala ini beralasan, ingin melihat bulan dan planet lain secara lebih dekat.
Cita-cita itu sudah tertanam sejak cewek kelahiran Ujung Pandang, 6 Mei 1989 ini duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Namun ketika memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan mendapatkan mata pelajaran tentang planet, Lala akhirnya sadar bahwa seorang astronot bukanlah orang biasa. Mereka adalah orang-orang pilihan dan harus cerdas. Sementara hal itu tidak ada pada dirinya.
Seiring berjalannya waktu, anak pertama dari tiga bersaudara ini berhasil menyelesaikan kuliah di perguruan tinggi. Ia kemudian memilih untuk bekerja dengan mencoba menjadi presenter di salah satu stasiun televisi lokal Makassar.
Sembari menggeluti rutinitasnya sebagai presenter, Lala juga menjejaki profesi sebagai Master of Ceremony (MC). Langkah ini tidak dilakukan aji mumpung. Sebab Lala telah mempersiapkan diri sebelumnya dengan mengikuti kursus public speaking selama setahun.
Ihwal menjadi seorang MC, bermula ketika seorang temannya melaksanakan kegiatan pesta rakyat. Lala kemudian diminta untuk menjadi MC di acara tersebut.
Mengandalkan pengalaman serta wawasan yang dimiliki, ia kemudian memberikan diri untuk menjadi MC, meski honornya saat itu terbilang apa adanya.
BKM/CHAIRIL
Nabila Qadrianty
“Saat itu saya tidak lihat honornya. Tapi bagi saya bagaimana saya bisa mendapat pengalaman menjadi MC dan membantu melancarkan kegiatan agar berjalan dengan baik dan lancar,” ujar Lala.
Sejak menjadi MC di kegiatan Pesta Rakyat, Lala ternyata mendapat promosi dari mulut ke mulut. Akhirnya, tawaran mulai berdatangan dan jam terbangnya semakin padat.
Berbagai acara dan even telah ia pandu. Baik di perusahaan swasta maupun instansi pemerintah.
Menjadi MC, menurut Lala, sangat santai. Ia juga mendapatkan pengetahuan yang cukup banyak. Karena bisa mengetahui apa saja yang dibahas pemerintah secara umum di sebuah acara yang dipandunya. Termasuk mengetahui keunggulan sebuah produk yang dimiliki perusahaan.
Sudah sekitar tiga tahun lamanya Lala menggeluti profesi cuap-cuap di depan umum. Selama itu, dia mengaku belum menemui kendala yang berarti.
Hanya saja, terkadang Lala sempat mengundang tawa dan senyuman kecut ketika berbuat sedikit kesalahan yang tidak disengaja. Hal itu menjadi pengalaman yang berarti bagi Lala untuk kemudian berusaha memperbaiki diri.
Di saat-saat seperti itu, Lala kemudian berusaha mencairkan suasana. Membuat lelucon salah satunya.
“Semua orang pasti pernah melakukan kesalahaan, baik yang disengaja maupun tidak. Tapi itu yang membuat kita semakin semangat. Saya juga tidak malu karena ditertawakan. Justru itu kesempatan saya membuat orang semakin tertawaan untuk mencairkan suasana dan lebih santai,” ujarnya (arf/rus)
Tidak Malu Ditertawakan
×

