PERPISAHAN dalam sebuah rumah tangga bukanlah hal yang diinginkan oleh pasangan suami-istri. Perpisahan selalu memunculkan permasalahan baru, terlebih lagi ketika pernikahan sudah membuahkan anak hingga sembilan orang.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Untuk mengurus satu atau dua orang anak saja sangat susah, apalagi harus mengurus sembilan hingga sepuluh orang anak.
Hal itulah yang dialami nenek Vonny. Dia mendapat julukan the single parent atau ibu tunggal sejak suaminya lebih dulu meninggalkannya di usia 46 tahun. Dengan segala tantangan yang harus dia hadapi, baik status “janda” yang disandangnya termasuk bagaimana mempertahankan pola pikir anak untuk tetap berdiri di jalan yang benar tanpa mempermalukan orang tua.
Hingga dia berumur 60 tahun, Vonny sudah banyak mendapatkan suka dan duka dalam menjalani kerasnya kehidupan dengan menjadi tulang punggung dari kesembilan anaknya.
Apalagi, menafkahi anak adalah kewajiban bagi orang tua, sebab anak adalah amanah dari Allah.
Memang, kehidupan Vonny tidaklah mewah seperti orang-orang di sekitarnya. Vonny adalah keluarga yang sederhana, rumahnya-pun terlihat hanya seperti gubuk kecil di Jalan Urip Sumoharjo, Lorong 3, Kelurahan Karuwisi Utara, Kecamatan Panakukang, Makassar.
Meski kondisi kehidupannya sangat berat, Vonny tetap mempunyai tekad yang kuat untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya, karena dia tidak ingin anak-anaknya seperti dia yang hanya lulusan sekolah dasar.
Vonny juga tidak pernah malu dengan keadaannya saat ini, meskipun dia hanya seorang penjual balon yang dia lakoni sejak muda dulu. Karena dalam prinsipnya, nafkah yang diberikan kepada anak-anaknya haruslah halal dan hasil kerja kerasnya sendiri.
Memang awalnya, Vonny mengaku kesulitan dalam menghidupi kesembilan anak-anaknya tersebut, semenjak ditinggal mati suaminya karena sakit. Namun, seiring berjalannya waktu, Vonny mengaku terbiasa dengan hal yang dialaminya sekarang ini. Setiap pagi Vonny mengupayakan berjualan balon meski kondisi tubuhnya sudah tidak kuat lagi, hal ini masih dilakukannya setiap hari untuk menambah penghasilannya. Meskipun rezeki yang di dapat tidak seberapa, namun Vonny tetaplah bersyukur, dan yang terpenting rezeki yang dihasilkan cukup untuk makan bersama anak-anaknya.
“saya harus mendapatkan uang dari jualan agar ada uang yang disimpan dan membeli beras untuk makan. Syukur biaya pendidikan tidak ada lagi sehingga anak saya yang masih bersekolah bisa tetap mengenyam pendidikan,” ujarnya.
Dalam berjualan balon gas warna-warni, Vonny berjalan melangkahkan kakinya bersama becak yang dimodifikasi, dia setiap hari berkeliling menawarkan balon disetiap rumah dan tempat keramaian di sekitar rumahnya. Dia berharap ada anak yang tertarik membeli balonnya.
Ditanya soal anaknya yang sulung, Vonny mengaku telah membina keluarga dan ikut bersama suaminya meski bekerja serabutan. Begitupun anak kedua dan ketiga. Dia mengaku tidak ingin memberatkan anak-anaknya.”Saya tidak pernah berharap uang dari anak saya sebab yang dewasa sudah punya keluarga sendiri,” ucapnya. (ita/war)

