MAKASSAR, BKM — Lembaga Inovasi dan Pengembangan Kewirausahaan Universitas Negeri Makassar (LIPK UNM) menyelenggarakan Workshop Kewirausahaan pada Rabu, 28 September 2022. Kegiatan yang diikuti sekitar 100 orang mahasiswa UNM program S-1 dan S-2 ini dilaksanakan di Garuda Room Hotel Lamacca.
Narasumber yang bertindak sebagai instruktur, yaitu Dr. Citra Ayni Kamaruddin, S.P., M.Si., dosen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNM dan pembimbing lapangan P2MW UNM, serta Tedi Hendratno, S.Pd., M.Si., sebagai praktisi Personal Branding, penulis, motivator, dan konsultan UMKM. Bertindak selaku moderator sekaligus pelaksana kegiatan, Dr. M. Ihsan Said Ahmad, S.E., M.Si. yang juga sebagai Kepala Pusat Pelatihan dan Pengembangan Inkubator Bisnis LIPK UNM.

Kepala LIPK UNM, Prof. Dr. H. Ramli Umar, M.Si., dalam sambutannya, mengemukakan bahwa karakter kewirausahaan bukan hanya harus dimiliki oleh para pelaku usaha, melainkan juga pada semua jenis profesi dan pekerjaan. Peluang kerja di bidang kewirausahaan terbuka lebar. Apalagi negara Indonesia persentase warga negaranya yang menggeluti dunia bisnis baru pada angka 2 persen, padahal indikator yang harus dipenuhi sebesar 4 persen untuk menuju negara maju di sektor ekonomi. Karena itu, pemerintah Indonesia terus menggenjot dunia bisnis agar dapat mencapai persentase tersebut.
Dr. Citra Ayni Kamaruddin, M.Si., dalam paparan teoretisnya, menyatakan bahwa peluang bisnis sangat terbuka luas untuk dijalani. Seorang pelaku usaha atau bisnis harus cerdas menangkap peluang yang ada di sekelilingnya. Selain itu, harus memiliki jiwa kreatif dan inovatif sehingga usaha atau bisnis yang dikelola dapat berkembang dan bertahan.

Sementara Tedi Hendratno, S.Pd., M.Si. menjelaskan pentingnya branding dalam berbisnis. Alumni S-1 Pendidikan Ekonomi Koperasi UNM ini mengemukakan perbedaan branding, selling, dan marketing.
Kata mantan penyiar radio Venus Makassar ini, branding itu bukan memperbanyak pembeli, tetapi mengubah pembeli menjadi pelanggan setia. Satu orang membeli berkali-kali.
Lanjut kata pemilik IDNESIAN itu, selling memperbanyak pembeli, fokus pada banyak orang yang beli walaupun hanya membeli satu kali saja (closing).
Sedangkan, lanjut PR Consulting itu, marketing memperbesar pangsa pasar dan membuat kemungkinan satu orang membeli berkali-kali atau banyak orang membeli sekali saja (demand).
“Sebuah merek ketika sudah punya pelanggan maka baru dia disebut brand. Ilmu selling dan marketing menghasilkan pembeli, sedangkan ilmu branding menghasilkan pelanggan,” tegas konsultan UMKM.
Tedi berpesan kepada mahasiswa yang mau menggeluti usaha dan bisnis agar memanfaatkan teknologi digital dengan perangkat media sosial, seperti Facebook, Instagram, dan Tiktok. Media sosial dapat dijadikan sebagai sarana membangun personal branding yang berbiaya murah.
”Semakin rapi tampilan konten Instagrammu dengan berbagai pengetahuan atas produk atau bidang yang kamu kelola, maka semakin kuat personamu dalam bidang tersebut dan kamu akan semakin dikenal sebagai seorang pakar. Hal ini tentu dirimu akan menjadi ukuran/patokan/referensi dari industri yang kamu kelola,” ujarnya.
Workshop kewirausahaan ini turut dihadiri oleh para dosen pengajar mata kuliah kewirausahaan di program S-1 dan S-2, di antaranya Prof. Dr. Anshari, M.Hum., Dr. St. Fatmah Hiola, M.Si., dan Dr. Misnah Mannahali, M.Pd. (rls)

