INI bukan gadis Milea dalam film Dilan 1991. Milea di sini adalah akronim dari Milenial versus Anemia. Apa itu?
TIGA perempuan berhijab menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar. Mereka datang dengan mengenakan jas almamater warna biru. Ketiganya adalah Nurul Muhlisa, Anni Atiqah Mahdiyyah, dan
Annisa Syafri.
Mahasiswi ini berasal dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Makassar. Nurmul, sapaan akrab Nurul Muhlisa berasal dari Program Studi Sarjana erapan Teknologi Laboratorium Medis, Fakultas Laboratorium Medis. Ia lahir di Anggeraja, Enrekang, 2 Oktober 2000.
Anni Atiqah Mahdiyyah yang karib disapa Anni, lahir di Makassar, 18 Agustus 2001. Tercatat sebagai mahasiswi di Prodi D.IV Teknologi Laboratorium Medis Fakultas Teknologi Laboratorium Medis. Sementara Annisa Syafri, lahir di Limbung, Gowa 3 Juli 2001
. Jurusannya sama, yaitu D.IV Teknologi Laboratorium Medis, Fakultas Teknologi Laboratorium Medis.
Ketiganya tergabung dalam Tim Milea untuk Pekan Ilmiah Nasional Kesehatan (Pimnaskes) pada Program Pengabdian Masyarakat yang mengusung tema; Milea (Milenial Vs Anemia) Upaya Dini Cegah Anemia dan Implementasi E-Modul pada Remaja di MTsS DDI Gusung, Kelurahan Tabaringan, Kota Makassar.
Sebenarnya, masih ada satu anggota tim lainnya bernama Dhia Istiqomah
. Namun, mahasiswi D.IV Teknologi Laboratorium Medis Fakultas Teknologi Laboratorium Medis ini berhalangan hadir.
Milea merupakan upaya memutus mata rantai anemia menuju generasi perempuan sehat dan cerdas. Karena perempuan adalah simpul majunya suatu peradaban. Di tangannyalah arah gerak bangsa ditentukan.
Anemia merupakan suatu kondisi kadar hemoglobin (Hb) rendah dari rujukan nilai normal, sehingga dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Karena itu, program tim Milea ini sebagai upaya dalam pencegahan anemia pada remaja.
Tingginya prevalensi anemia perlu ditekan dengan beberapa intervensi. Remaja milenial sekarang ini perlu memahami anemia sejak dini sebelum memasuki masa pubertas, sehingga tercapai remaja putri yang sehat.
Untuk pelaksanaan kegiatan, Milea memilih Madrasah Tsanawiyah (MTs) DDI Gusung, Kota Makassar. Siswi yang duduk di kelas VII menjadi sasarannya.
Program ini dilaksanakan dua kali dalam dua pekan, yaitu 22 Agustus 2022 dan 29 Agustus 2022 di MTsS DDI Gusung Kota Makassar. Ada sejumlah bentuk kegiatan yang dilakukan, yaitu pre-test sebelum penyuluhan menggunakan aplikasi yang menarik. Penyuluhan implementasi e-modul untuk memberikan edukasi secara inovatif. Deteksi dini anemia dengan cara pemeriksaan kadar hemoglobin. Pemberian tablet tambah darah (TTD) yang bekerja sama dengan pihak Puskesmas Tabaringan, post-test sebagai bahan evaluasi, dan
pemberian penghargaan.
Kegiatan ini diharapkan dapat memutus rantai anemia dan bermanfaat bagi semua pihak terkait. E-modul yang disusun dapat dijadikan sebagai bahan ajar dan pemberian TTD untuk keberlanjutan program.
Kegiatan ini sangat disambut baik dan berkesan pada remaja putri. Penyuluhan edukasi yang dikemas secara kolaboratif menarik minat peserta. Banyak pengalaman dan edukasi sehingga menambah pengetahuan untuk mencegah anemia.
”Program Pimnaskes yang kami ikuti dilaksanakan oleh Dirjen Kesehatan RI. Program ini menjadi wadah bagi mahasiswa Poltekes Kemenkes se-Indonesia guna berkomunikasi melalui suatu produk dan kreasi intelektual untuk menambah pengalaman mahasiswa, baik dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, penelitian, kewirausahaan, dan teknologi,” terang Nurul Muhlisa.
Karena program ini terkait dengan survei, penyelenggara mengharuskan tim untuk mencari permasalahan yang ada di wilayah terkait guna dicarikan solusi. Sehingga untuk keberlanjutannya bisa dilakukan dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Sebelumnya, menurut Nurmul, berdasarkan survei yang dilakukan pada salah satu Puskesmas di Tabaringan, Makassar, untuk prevalensi kejadian anemia di wilayah ini saat ini masih tinggi. Salah satunya di di MTsS DDI Gusung.
Selanjutnya dilakukan pula wawancara dengan pembina UKM (Usaha Kesehatan Madrasah) di sekolah tersebut. Hasilnya, diperoleh informasi bahwa beberapa remaja putri di sekolah tersebut sering mengalami gejala anemia, seperti mudah lelah. Kondisi tersebut membuatnya jarang bisa berkonsentrasi. Sehingga dibutuhkan edukasi terkait hal tersebut.
”Di MTsS DDI Gusung ternyata belum pernah dilakukan deteksi dini terkait dengan pemeriksaan hemoglobin. Untuk itu kami hadir sebagai continent tim Poltekes Makassar. Wilayah ini berada di pinggiran kota dekat pelabuhan, dengan prevalensi kesehatan yang agak kurang. Begitu pula dengan edukasi pola hidup sehat, utamanya mengatasi anemia bagi anak sekolah,” jelas Anni.
Berdasarkan hal itu, dilakukankah koordinasi dengan Puskesmas Tabaringan. Karena dosen pembimbing tim Milea kerap melakukan pengabdian masyarakat di lokasi tersebut dan mahasiswanya dilibatkan. Kawasan tersebut juga dinilai sangat cocok dengan sasaran penelitian.
Walau pengabdian dilaksanakan dua kali selama dua pekan pada bulan Agustus, namun persiapan telah dilakukan sejak Mei dan berlanjut hingga saat ini. Setelah melalui tahapan seleksi, Tim Milea akhirnya masuk 30 besar. Tim Milea sebagai perwakilan Makassar berharap bisa memberikan yang terbaik dalam program ini. (*/rus)

