MAKASSAR, BKM — Lift yang menghubungkan antarlantai di menara balai kota tidak berfungsi maksimal. Sementara ratusan pegawai membutuhkan fasilitas lift tersebut untuk mendukung mobilitas mereka dalam bekerja.
Antrian pegawai yang menumpuk di depan lift, khususnya pada saat waktu-waktu menjadi pemandangan yang kerap dijumpai saat jam kantor.
Hampir setiap hari ada saja keluhan dari pegawai yang terdengar.
Salah seorang Laskar Pelangi yang enggan disebut namanya mengaku cukup berat melaksanakan tugas dengan kondisi lift seperti itu.Apalagi dia kerap ditugaskan untuk mengantar.
“Sessa jaki. Apalagi puasa begini. Mauki antri, banyak sekali orang. Naik tangga juga tak sanggup kalau sampai harus ke lantai empat atau lima,” ungkapnya.
Berdasarkan pantauan BKM, dari tiga lift yang ada, hanya satu yang berfungsi. Itupun tidak semua lantai bisa disinggahi. Hanya lantai-lantai tertentu, yakni lantai 2, 8, dan 9.
Bagi yang ingin ke lantai 6 misalnya, terpaksa harus ke lantai 8 terlebih dahulu. Selanjutnya turun menggunakan tangga hingga ke lantai 6.
Dikonfirmasi terkait persoalan tersebut, Kepala Bagian Umum Pemkot Makassar Fajrin Pagarra menjelaskan, pihaknya memang merencanakan untuk melakukan pengadaan lift dua unit tahun ini.
Sejauh ini, pihaknya sudah melakukan survey di ekataloque untuk menemukan jenis lift dengan kualitas yang bagus dan lebih safety.
“Sudah ada beberapa yang kita lihat cukup bagus dan memenuhi syarat, namun kita masih jajaki. Sudah disurvey di purchasing kemarin. Kita cari kualitas yang lebih baik. Tidak lama lagi,” ungkap Fajrin, akhir pekan lalu.
Untuk pengadaan lift ini, pihaknya menganggarkan sekitar Rp700 jutaan untuk satu unit. Sehingga untuk pengadaan dua unit disiapkan sekitar Rp1,5 jutaan.
Fajrin mengatakan, pihaknya akan melakukan pengadaan lift bertahap. Untuk saat ini, baru dua unit. Sementara satu unit lagi baru akan menyusul kemudian.
Lebih jauh dikemukakan, pihaknya lebih memilih untuk melakukan pengadaan lift melalui e-katalog karena prosesnya lebih cepat. Namun jika memang tidak memungkinkan, terpaksa harus ditender.
“Kalau pakai mekanisme tender, waktunya sekitar satu bulan lagi. Beda kalau pakai e-katalog,” katanya.
Belum lagi untuk pemasangan liftnya, juga butuh waktu yang cukup lama.
Menurut Fajrin, nantinya setelah lift baru beroperasi, pihaknya juga akan menyiapkan ruang khusus untuk operator sehingga pemanfaatannya bisa terkontrol setiap waktu. Jika ada persoalan, teknisi juya bisa dengan sigap untuk memperbaikinya. (rhm)

