BANTAENG, BKM — Bupati Bantaeng, HM Nurdin Abdullah tidak hanya piawai memajukan daerahnya. Dia juga mampu menjadi pengayom dan pelindung masyarakat yang dipimpinnya. “Pak bupati meredam gejolak massa,” ujar Kapolres Bantaeng, AKBP Kurniawan Affandi, Senin (7/6).
Hal tersebut dikemukakan terkait peristiwa berdarah yang melibatkan Bripka Hasriadi vs Asri, seperti diberitakan koran ini. Sempat beredar isu bahwa keluarga Asri (korban tewas) akan menyerang Mapolsek Eremerasa.
Kapolsek Ermes Iptu Suhardi, mengaku tidak tahu kronologis kejadian tersebut. Menurutnya, dia sedang tidak berada di Ermes. “Maaf, saya tidak bisa memberikan komentar karena saya sudah lima hari berada di Rumah Sakit Bhayangkara mendampingi istri saya yang sedang dirawat inap,” akunya.
Camat Ermes, Irfan Fajar bersama Wakapolres Bantaeng, Kompol Suprianto langsung terjun ke TKP. Namun belum ada yang berani merapat ke rumah duka karena keluarga Asri masih emosi dan histeris dengan senjata parang panjang (kelewang).
“Kami tidak langsung menuju rumah duka. Saya dan Kades setempat berupaya melakukan pendekatan dengan keluarga dan sahabat Asri. Setelah keadaan memungkikan, barulah kami menuju rumah duka,” terang Irfan.
Di tempat lain, yakni Campagaloe, Kelurahan Bonto Jaya Kecamatan Bissappu, keluarga besar Hasriadi, anggota polisi yang ditikam juga menyusun kekuatan. Pasalnya, informasi yang tiba di Campagaloe simpangsiur. Ada yang mengatakan Hasriadi sekarat. Situasi di dua tempat berbeda inipun masih memanas.
Kapolres menjelaskan, upaya Bupati Bantaeng yang meminta petugas RSUD Prof Anwar Makkatutu agar merujuk Bripka Hasriadi ke RS Bhayangkara Makassar, sangat tepat. “Tepat sekali tindakan Pak Bupati. Pada saat iru, massa dari Campagaloe (keluarga Bripka Hasriadi) mau bergerak. Setelah mengetahui Hasriadi dalam kondisi baik dan dirujuk ke Makassar, gejolak mereka mereda,” ujar AKBP Kurniawan.
Mengenai kronologis di Ermes, Kapolres menggambarkan, Asri tidak terima ditertibkan dalam hal pengaturan pengunjung di permandian Ermes. Asri melawan dengan mempelihatkan sikap yang tidak bersahabat.
Kedua anggota Polsek Ermes, yakni Bripka Hasriadi dan Brigpol Anwar mendekati Asri. Melihat dua anggota polisi mendekat, Asri lari. Dia lalu dikejar. Pada saat pengejaran di jalan sempit, Brigpol Anwar berada di belakang Asri dan Bripka Hasriadi di belakang Brigpol Anwar.
Begitu Anwar mendekat dan akan menyergap Asri, lanjut Kapolres, Asri berbalik dan menghujamkan badiknya tepat ke arah dada Anwar. Beruntung Anwar bisa menghindari tikaman tersebut.
Celakanya, Hasriadi yang tidak melihat tindakan Asri karena terlindung oleh Anwar, tidak bisa mengelak dan badik Asri pun merobek dada kirinya.
Mengenai pemicunya, kata Kapolres, Asri menggiring pengunjung ke pintu masuk tidak resmi dan menarik pembayaran dari pengunjung. Begitupun kendaraan pengunjung, diarahkan ke lokasi yang dikuasainya. Pembayaran yang ditarik itu untuk dinikmati sendiri dan tidak disetor ke kas daerah.
Kedua anggota polsek yang ditugaskan untuk pengamanan di sekitar lokasi, meminta kepada Asri supaya pengunjung masuk ke permandian melalui pintu resmi. Asri menolak. Dia tetap melakulan pungutan secara ilegal.
Kapolres menambahkan, pihaknya banyak menerima laporan bahwa Asri terindikasi melakukan sejumlah tindak pidana. Diantaranya pencurian ternak, serta pemalakan di beberapa tempat. “Ada beberapa tindak kriminal di beberapa tempat yang terindikasi dilakukan Asri,” bebernya.
Kapolres mengatakan, situasi dan kondisi di Ermes pascakejadian, dapat dikendalikan. “Situasi di Ermes aman dan kondusif”, pungkasnya. (wam/rus/b)
Situasi di Dua Tempat Masih Memanas
×

