MAKASSAR, BKM — Manusia silver kembali marak di Makassar. Pada beberapa jalan protokol, sejumlah orang dewasa dan anak, baik laki-laki maupun perempuan melumuri seluruh badannya dengan cat berwarna perak. Mereka beraksi dengan berjoget-joget dan meminta uang di jalan.
Pantauan BKM, selama beberapa hari terakhir, para manusia silver itu beraksi di persimpangan Jalan Sungai Saddang-Veteran, Monginsidi-Haji Bau-Dr Ratulangi-Sudirman, dan Sungai Saddang-Jenderal Sudirman. Aksi mereka itu sangat meresahkan para pengguna jalan.
Vivi Reski Amalia, seorang pengendara bermotor yang ditemui di persimpangan Jalan Monginsidi-Ratulangi mengaku was-was dan khawatir jika mereka tertabrak kendaraan. Apalagi yang masih kanak-kanak.
“Takutka kalau mereka tertabrak kendaraan, karena biasa tiba-tiba lari ke tengah jalan. Meresahkan sekali,” kata wanita yang akrab disapa Vivi.
Tidak menunggu lama, Dinas Sosial bersama Satpol PP langsung turun ke jalan melakukan patroli. Dipimpin langsung Kadis Sosial Kota Makassar drg Ita Isdiana Anwar, Staf Rehabilitasi Sosial (Rehsos) Dinas Sosial Andi Ibrahim dan Kabid Gakkumdu Satpol PP Makassar beserta personil, mereka menyisir jalan-jalan protokol dimana para manusia silver, termasuk anak jalanan, pengamen, dan pengemis beraksi.
“Jadi pelaksanaan patroli anjal ini menyasar beberapa ruas jalan rawan anjal, diantaranya Jalan Sungai Saddang, Jalan Veteran, Jalan Monginsidi-Sudirman dan Jalan Masjid Raya,” ungkap dokter Ita saat dihubungi BKM, Rabu sore (22/1).
Dia mengaku bersinergi dan berkolaborasi dengan pihak-pihak SKPD terkait, khususnya Satpol PP dalam penjangkauan anak jalanan demi menegakkan Peraturan Daerah Kota Makassar No. 2 Tahun 2008. Namun sayang, dalam patroli kali ini, tim penertiban gagal menjaring para manusia silver.
Tim sempat mendeteksi lima manusia silver di kawasan Veteran-Sungai Saddang Baru. Sempat terjadi aksi kejar-kejaran. Namun para manusia silver tersebut menghilang di sekitar kanal Sungai Saddang Baru.
Dia mengaku para manusia silver tersebut sangat lincah dan bergerak cepat melarikan diri saat melihat mobil dalmas sedang melakukan patroli.
Selain manusia silver, lanjut dokter Ita, dia juga menemukan seorang wanita yang kerap dijaring oleh Dinsos karena meminta-minta di jalan. “Ada perempuan saya dapat kemarin di depan gubernuran. Jadi diaji ini ganti-ganti tempat. Berapa kalimi juga dijangkau. Bahkan sudah dibuatkan Kartu Indonesia Sehat atau KIS. Eh… turunji lagi,” ungkap dokter Ita, yang berjanji akan intens melakukan patroli bersama Satpol PP.
Sebenarnya, lanjut dia, langkah mendirikan pos di sejumlah jalan protokol seperti yang dilakukan tahun lalu cukup efektif dalam menertibkan anjal gepeng. Namun sayang, tahun ini, pendirian pos tersebut tidak bisa lagi dilaksanakan karena terbentur anggaran.
“Tapi kita pantang menyerah. Kita akan cari strategi atau inovasi baru untuk menertibkan mereka,” ungkapnya.
Dia menambahkan, saat melakukan patroli kemarin, tim juga menemukan orang-orang yang mengatasnamakan sebuah organisasi, meminta-minta di lampu merah. “Saya sudah edukasi. Saya bilang kalau begini jangan minta di jalan, karena bisa mengganggu lalu lintas. Sebaiknya bermohon ke OPD terkait,” tandas dokter Ita. (rhm)

