MAKASSAR, BKM — Centre Point of Indonesia (CoI) merupakan salah satu proyek prestisius yang ingin diwujudkan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo.
CoI merupakan proyek pembangunan kawasan baru di areal Tanjung Bunga untuk berbagai aktifitas warga Makassar.
Dalam mewujudkan impian tersebut, Pemprov Sulsel secara bertahap mulai melakukan aktifitas pembangunan di sana. Salah satunya adalah pembangunan Wisma Negara yang nantinya diharap menjadi salah satu ikon Sulsel.
Kepala Dinas Tata Ruang dan Pemukiman (Distarkim) Sulsel Andi Bakti Haruni mengatakan, progres pembangunan Wisma Negara di Kawasan Center Point of Indonesia cukup menggembirakan.
Tahun ini, gedung serbaguna yang menjadi bagian dari Wisma Negara diharapkan bisa rampung.
“Progresnya sudah sekitar 30 persen. Akan dilanjutkan dengan mobilisasi material on site,” kata Kepala Dinas Tata Ruang dan Pemukiman (Distarkim) Sulsel Andi Bakti Haruni yang ditemui di Makassar, Kamis (15/9).
Ruang serbaguna yang merupakan bagian dari wisma negara tersebut memiliki lebar 40 meter, dan panjang 76 meter. Kapasitasnya mencapai lebih dari dua ribu orang,” imbuhnya.
Saat ini, basement yang berfungsi sebagai tempat parkir telah dirampungkan, sementara Lantai 1 yang merupakan ruang pertemuan tengah dikerjakan. Sedangkan untuk lantai atas akan digunakan untuk utilitas. Gedung tersebut juga akan dilengkapi dengan tempat parkir luar dan taman.
Nantinya selain gedung serba guna, Wisma Negara juga akan dilengkapi dengan restoran, perpustakaan, ruang pertemuan kecil, dan ruangan untuk presiden jika ingin menginap.
Secara keseluruhan, pembangunan gedung serba guna ini menekan anggaran sekitar Rp99,5 miliar dengan anggaran khusus untuk pembangunan struktur mencapai Rp50 miliar. Anggaran tersebut berasal dari APBD Pemprov Sulsel.
Selain gedung serba guna, d kawasan CoI juga sedang dibuat area pasir putih yang bisa jadi sarana rekreasi keluarga. Pantai pasir putih sepanjang 350 meter tersebut juga ditarget bisa rampung akhir tahun ini.
Tahun depan, lanjut Bakti, pihaknya akan fokus pada pembangunan Wisma Negara. Tentunya, untuk mewujudkan rencana itu, dibutuhkan anggaran yang cukup besar yakni kisaran Rp300 jutaan. Itu sudah termasuk pagar dan lansekap taman. Sehingga, pihaknya mengusulkan kembali pembiayaannya melalui APBD pokok 2017 mendatang. Dia berharap usulan itu bisa dipertimbangkan oleh DPRD Sulsel yang nantinya akan menggodok usulan anggaran APBD.
Sementara itu, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo menjelaskan, setiap tahun pihaknya selalu berupaya mengusulkan pembiayaan untuk pembangunan Wisma Negara. Baik melalui APBD maupun APBN. Tentunya dia berharap rencana baik untuk menciptakan ikon baru di Sulsel itu mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Ia menerangkan, kawasan CoI dibangun untuk rakyat Sulsel. Reklamasi tersebut berbeda dengan reklamasi yang bersoal di daerah lain, karena dilakukan untuk kepentingan mitigasi dan menyelamatkan aset negara. Selain itu, Pemprov Sulsel mendapat bagian 30 persen untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH).
“Orang-orang terdahulu kita membuatkan Benteng Rotterdam, kita buat apa? Dengan adanya CoI ini, kita buat Pantai Losari yang tiga kali lebih panjang dari saat ini dan Lapangan Karebosi yang luasnya tiga kali lipat. CoI ini akan menjadi landmark untuk Sulsel ke depannya,” paparnya.
Gubernur juga menegaskan jika tidak ada korupsi dalam proses reklamasi di CoI tersebut. Meskipun prosesnya harus melalui tahapan di peradilan, namun semuanya dilakukan sesuai prosedur dan hukum yang berlaku. (rhm)

