pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Kincir Sederhana Dibuat dari Limbah Kayu dan Bambu

MENJALANI kehidupan yang jauh dari fasilitas mewah bukanlah kemauan Harianto. Namun apa boleh buat, setiap manusia tak bisa melawan takdir. Yang bisa diperbaiki hanyalah nasib. Tergantung dari besar usaha yang dilakukan semasa hidup.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

HARIANTO tak bisa membantahkan takdir bahwa ia dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana. Lahir di sebuah desa yang dulunya tak memiliki aspal dan listrik telah menjadi cerita masa lalu Harianto.
Namun nasibnya kini tak seperti dulu. Serba keterbatasannya dulu ia balikkan menjadi orang yang diakui kesuksesannya bagi masyarakat Kampung Ampiri, Desa Bacu-bacu, Kabupaten Barru.
Kegigihannya belajar dan niat tulus membangun kampungnya, membawa dirinya berhasil meraih penghargaan sampai di tingkat nasional. Suatu kebanggaan tersendiri baginya, dimana jika melihat kehidupannya dulu, ia harus bekerja keras dengan segala keterbatasan fasilitas.
Ampiri terletak di daerah Pegunungan Pujananting. Dari segi cuaca, desa ini cukup nyaman untuk ditempati. Namun tidak dengan fasilitas umum yang ada disana.
Sebelum Harianto membangun dan memperkenalkan karyanya, listrik tidak ada di desa ini. Jika malam datang, desa ini seperti tak berpenghuni. Nyaris tak ada aktifitas.
Ditambah lagi dengan tidak adanya jalan beraspal. Semua jalan dulunya adalah bebatuan. Karenanya, teramat sulit bagi kendaraan menjangkau tempat ini.
Desa yang dihuni oleh kurang lebih 400 kepala keluarga ini berjarak cukup jauh dari pusat Kota Barru. Kira-kira 50 kilometer ke sebelah timur. Mungkin jarak sejauh itulah yang membuat pemerintah setempat kurang memprioritaskan masuknya listrik. Apalagi tempatnya yang sulit untuk dijangkau kendaraan.
Menurut Harianto, desanya pernah menerima bantuan genset dari Pemerintah Kabupaten Barru. Namun masyarakat di sana cukup berat untuk melanjutkan pengoperasiannya. Hal ini dikarenakan harga bahan bakar yang lumayan tinggi bagi masyarakat desa. Dari permasalahan itulah, Harianto mulai berpikir untuk mencarikan solusi bagi keluarga dan masyarakat desanya.
Tahun 2007, Harianto melanjutkan pendidikan di Jurusan Kimia Universitas Negeri Makassar (UNM). Ia tetap ingin melanjutkan studi, meski sebagian besar teman-teman dan tetangganya lebih memilih bertani. Baginya, pendidikan merupakan salah satu jalan membuat kampung halamannya bisa lebih maju.
Ia mengambil jurusan kimia, karena pernah punya prestasi saat di SMA. Kala itu ia pernah manjuarai Olimpiade Sains tingkat kabupaten di bidang kimia. “Saat itu saya pernah juara 1,” kata Harianto.
Namun, apa yang akan ia ciptakan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan jurusan yang ia pilih. PLTMH tidak pernah ia pelajari selama masih berstatus mahasiswa jurusan kimia. “Konsep mikro hydro sebenarnya lebih ke arah ilmu fisika, bukan kimia,” jelas Harianto.
Semua ilmu yang ia dapat mengenai PLTMH hanya melalui internet, buku-buku, dan beberapa artikel yang pernah dibacanya. Ia memanfaatkan beberapa fasilitas kampus saat itu untuk mempelajarinya. Baginya, mikro hydro adalah jalan untuknya bisa membantu desanya dialiri oleh listrik.
Awal mulai mencetuskan pembangunan PLTMH, banyak kendala yang dihadapi. Salah satunya yang terbesar adalah respon masyarakat. Banyak yang tidak percaya bahwa alat itu akan bekerja. Namun Harianto tidak menyerah untuk terus meyakinkan warga desanya.
Masalah lainnya adalah biaya yang harus digunakan dalam pembangunan. Ia tidak bisa jika harus menggunakan dana pribadinya. Karena itu butuh dana swadaya dari masyarakat. Dengan kegigihannya meyakinkan warga, hasilnya tidak sia-sia. Beberapa orang yakin dengan apa yang akan dibuatnya dan bersedia membantu.
Alhasil, Harianto berhasil membuat PLTMH sederhana ketika itu. Dengan menggunakan limbah kayu dan bambu, Harianto membuat kincir sederhana yang dipadukan dengan generator kecil. Listrikpun berhasil diciptakan walaupun saat itu belum bisa menjangkau keseluruhan.
Tahun 2012, Harianto mulai mempublikasikan karya ciptaannya. Sampai ia berhasil mendapat bantuan dari ajang Wirausaha Muda Mandiri (WMM) untuk pengembangan PLTMH miliknya.
Saat ini Harianto telah sukses dengan karya ciptaannya. Bukan lagi PLTMH sederhana. Dengan adanya bantuan dari WMM, ia membuatnya menjadi lebih canggih dan bisa menghasilkan listrik sampai 150 ribu watt. Kini, total PLTMH miiknya telah tersebar di 30 tempat. Meliputi beberapa daerah di Sulsel, Sultra, dan Maluku.
Beberapa penghargaanpun berhasil ia raih. Salah satu yang paling bergengsi adalah Apresiasi Satu Indonesia Award 2012 dari PT Astra Internasional. Sungguh hasil yang diluar dugaan Harianto.
Ke depan, Harianto mengatakan jika PLTMH ini diharapkan tidak hanya digunakan untuk listrik rumah tangga. “Saya harap PLTMH ini juga bisa mendorong kegiatan ekonomi masyarakat Ampiri yang rata-rata penghasil gula aren dan kacang tanah,” imbuhnya. (*/rus)



×


Kincir Sederhana Dibuat dari Limbah Kayu dan Bambu

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar