pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Sempat Jadi Buruh Pembuat Batu Bata di Sorong

PASCAkeluarnya dari rumah sakit dengan kedua kaki yang masih lumpuh, suami Dahniar tersebut memilih menjadi pengemis di lampu merah menggunakan tongkat.

Laporan: ARIF AL QADRY

Sekitar dua tahun menjadi pengemis di perempatan Jalan AP Petta Rani, Hasan benar-benar tidak memikirkan ancanam atau risiko terserempet kendaraan. Itu semua untuk mendapat uang dan sesuap nasi demi kehidupan istri beserta anak-anaknya.
Pagi, siang dan malam, dia berdiri menggunakan tongkat menunggu pemberian dari pengendara. Dan ketika dua kakinya pulih total, dia berhenti dan tidak lagi mengemis. Apalagi semenjak menjadi pengemis, dia sering dikejar dan terjaring operasi Satpol PP Makassar.
“2005 dulu jadi pengemis ka karena tidak ada yang bisa saya harapkan. Anak-anakku semua belum adapi kerja, baru kita mau makan, jadi itu mami saya bikin. Tapi pas kaki ku sembuh dan sempat dikasikan uang dari Dinsos Makassar Rp2 juta, saya pakai beli tiket kapal ke Kota Sorong, dan lebihnya saya kasikan istriku,” katanya.
Pertengahan 2006, Hasan mengadu nasib dengan memboyong seorang anaknya berusia 14 tahun di Kota Sorong Provinsi Papua Barat. Beberapa pekerjaan sempat dia rasakan disana, mulai menjaga toko sepupunya, membuat batu bata sampai menjadi kuli bangunan dengan upah Rp40 ribu per hari.
Tingginya biaya hidup ditambah dengan pekerjaan sebagai kuli bangunan yang tidak menentu, membuatnya tidak dapat bertahan lama dan akhirnya kembali ke Makassar bersama istri dan anak-anaknya yang sempat menyusulnya ke Kota Sorong.
Tiba di Makassar dia dan keluarganya kemudian ke Kabupaten Gowa untuk numpang tinggal di rumah adiknya. Dan disaat itu, dia mendapat ajakan berjualan koran di lampu merah. Tawaran itu dari saudara satunya yang telah lama berjulan koran di lampu merah Jalan AP Petta Rani.
Kata Hasan, dari tujuh anaknya, hanya ada satu yang sempat menikmati bangku sekolah menengah atas (SMA), namun itu hanya sampai di kelas dua.
Untungnya bagi Hasan, semua anaknya sabar dan rajin membantunya termasuk berjualan koran dan mainan di RS Syeh Yusuf.
Koran-koran yang dijual dimulai dari harga Rp1.700 sampai dengan harga Rp2.500. Keuntungan menjual koran dirasa cukup baik, sebab dirinya dapat mengantongi uang hingga Rp160 ribu bersih setiap hari.
“Tanpa modal saya dikasikan langsung banyak koran untuk dijual. Semua koran pernah saya jual termasuk koran ini (Harian Berita Kota Makassar). Tapi harga koran 2010 saya jual masih murah jadi bagus saya naikkan harga karena masih ada koran modalnya Rp1.000 dan ada Rp2.500, dan saya naikkan Rp1.000. Tapi 2015 harganya koran sudah mahalmi kemudian kalau tidak laku kitami yang bayarki jadi rugika saya rasa. Itumi jual tisu ka karena tidak pakai tanggal mi juga masih bisa di jual besoknya kalau tidak lakumi,” tuturnya.
Harga satu tisu yang di jual seharga Rp4 ribu, sedangkan untuk tiga bungkusnya mendapat potongan harga menjadi Rp10 ribu. Tisu yang dijualnya langsung dia beli dari agen berlokasi di Jalan Barawaja, tak jauh dari tempatnya berjualan.
Ketika jualannya ramai, setiap hari Hasan mengaku dapat membawa pulang uang Rp150 ribu dengan menjual sebanyak satu dus tisu. Dan ketika sepi, hanya dapat membawa pulang uang sebesar Rp75 ribu. Isi tiap dus, ada 80 bungkus tisu dan rata-rata dia mampu menjual sebanyak satu dus tisu setiap hari. “Pendapatanku itu masih kotor karena saya harus simpan untuk modal lagi dan biaya-biaya lain,” ujarnya.
Jualan tisu di jalan raya sejak kecil sama sekali tidak pernah diimpikan. Sebelum berjualan tisu, Hasan sempat bekerja di Pasar Terong Makassar menjual daging sapi. Waktu itu, pendapatan setiap bulan dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya sehari-hari.(*)



×


Sempat Jadi Buruh Pembuat Batu Bata di Sorong

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar