DI ERA tahun 1990-an, Kota Makassar cukup banyak pohon yang berdiri kokoh berkukuran besar dan kecil. Pohon-pohon tersebut berjejer rapi di setiap tepi jalan, seperti yang terlihat di Jalan Ahmad Yani dan Urip Sumohardjo dan AP Petta Rani. Namun kini, sedikit demi sedikit, pohon-pohon besar dan rimbun itu mulai hilang dan berganti dengan pohon ketapang kencana.
Penulis: ARIEF AL QADRY
Selain usianya sudah mencapai ratusan tahun dan cukup tua, alasan lain menebang dan mengganti pohon tua karena pohon kayu seperti pohon asam, trembesi, dan kenari dinilai tidak mampu lagi berdiri dan bertahan lebih lama. Bahkan Jika dibiarkan tumbuh, pohon itu dapat tumbang dan menimpa yang ada disekitarnya mulai dari bangunan sampai manusia.
“Sekarang ini ketika melintas di ruas Jalan Ahmad Yani nyaris sudah tidak lagi terlihat pohon tua di tepi jalan. Untuk membersihkan pohon-pohon itu membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit,” sebut Kordinator Ruang Terbuka Hijau dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Satria Bripma.
Pria kelahiran Ujung Pandang, 21 September 1967 mengaku, sudah 27 tahun lamanya ia bekerja membantu menata kota mulai dari menanam, sampai menebang pohon yang usianya ratusan tahun.
Cukup banyak pengalaman dan suka dan duka yang dirasakan selama bekerja dan bergabung di Dinas Pertamanan dan Kebersihan Makassar yang kini ubah menjadi Dinas Lingkungan Hidup Makassar.
Saat itu, ia ditunjuk sebagai kordinator RTH. Statusnya masih sebagai honorer dengan gaji Rp15 ribu. Meskipun posisinya sebagai kordinator, ia tetap wajib turun dan ikut langsung memotong setiap bagian pohon bersama anggotanya.
Sekarang ini kata Satria, memotong satu batang pohon kayu besar sudah dapat dilakukan selama dua sampai tiga jam. Berbeda jauh di tahun 1990 sampai 2000-an yang membutuhkan waktu paling singkat satu minggu menyelesaikan satu pohon. Sebab alat yang digunakan sejak dulu belum modern dan secanggih saat ini.
Dulu untuk memotong pohon, dia bersama anggotanya masih menggunakan gergaji bentang berukuran empat meter dan kapak bergagang kayu dengan mata yang tajam. Pekerjaan tersebut benar-benar membutuhkan tenaga, semangat dan kerja keras.
“Sekarang ini alat sudah canggih, sudah pakai senso, mobil loader, dan mobil angkut sampah juga sudah banyak. Dulu saya sama teman-teman masih pakai gergaji saling berhadapan ki baku tarik, belum lagi batang pohon kita pikul berjalan kaki bawa ke tempat pembuangan. Dan paling cepat dulu kita selesaikan satu pohon dengan waktu satu minggu,” katanya.
Jalan Ahmad Yani, Jalan Veteran, Urip Sumohardjo serta beberapa ruas jalan lainnya, cerita Satria, dulu sangat banyak tumbuh pohon-pohon kayu besar di tepi jalan.
Agar pelaksanaan pemotongan pohon berjalan dengan lancar dan aman, harus ada izin lebih dulu. Tetapi izin kepada “penunggu” atau penghuni pohon dari makhluk gaib yang dipercaya memang adanya.
Kerasukan, periswita yang sering terjadi dan dialami petugas saat akan memulai memotong pohon. Dan hal itu ditandai bahwa penghuni pohon dari makhluk gaib tidak menerima jika tempat tinggalnya (pohon) hilang dan diratakan dengan tanah. Selain memberitahukan keberadaanya dengan merasuki tubuh manusia, makhluk gaib sering juga masuk melalui mimpi.
“Jadi sebelum kita potong pohon, kita izin dulu paling lama tiga hari. Ada tanda-tandanya sudah bisa dimulai dan belum. Kalau sampai tiga hari juga belum ada tanda kita panggil paranormal untuk memindahkan makhluk gaib. Kita pindahkan di rumah kosong, atau di pohon ji juga,” tambahnya.(*)

