NAMA sebuah usaha tak terlepas dari harapan si empunya. Tak terkecuali bagi Syamsul Bahri, pemilik Kedai Bahagia.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
”NAMA Kedai Bahagia itu sebenarnya berasal dari kata Ke Da’i Bahagia. Namanya kita sambung saja menjadi Kedai Bahagia. Tujuan pemberian nama ini, supaya orang-orang yang berkunjung bisa jauh lebih bahagia,” kata Bahri.
Mulai dari makanan berat, ringan, cemilan, dan aneka minuman disediakan. Selain terdapat ornamen tulisan Arab, ada pula terpajang berbagai benda pajangan khas agama Islam.
Yang paling terlihat berbeda, berbagai bingkai foto yang tergantung mencantumkan kata-kata mutiara yang tujuannya adalah dakwah. Mulai dari mengajak orang untuk mendekati kebaikan, sampai menjauhi larangan agama.
Awalnya tidak mudah bagi Bahri untuk mendirikan kedainya. Ia benar-benar memulainya dari nol selepas berhenti dari pekerjaannya. Modal awalnya yang terbatas kala itu dianggap tidak akan cukup untuk memulai usaha kedai sampai hingga bisa seperti sekarang.
Namun Bahri tak mati ide. Ia mengandalkan seluruh ilmu dan relasinya mengawali pembangunan kedai yang telah ia cita-citakan. Seluruh interior kedai, awalnya tak ia membeli langsung pada pedagang furniture. Melainkan harus mencarinya sendiri barang-barang bekas yang bisa dimanfaatkan.
Modal kecil namun harus terpenuhi semua. Barang-barang bekas menjadi solusi. Benda yang dibelinya kemudian dipoles, hingga kemudian tampak seperti barang yang baik dan terlihat unik.
Selain barang bekas, Bahri juga memanfaatkan berbagai toko online dalam mencari dan membeli barang-barang termurah. “Membeli secara langsung di sini biasanya biayanya lebih mahal. Kalau di online biasa ada yang lebih murah. Karenanya saya andalkan saja itu,” kata Bahri.
Dulu, Bahri pun harus mempromosikan usahanya dengan bersusah payah. Secara mandiri ia mendatangi berbagai sekolah dan kampus yang ada di Makassar. Harapannya, supaya mereka bisa mudah menerima konsep kedai yang berbeda miliknya. Memanfaatkan bantuan beberapa kerabat, keluarga dan sepupu, juga dilakukan Bahri.
Di awal-awal dibukanya kedai ini terkadang membuat orang yang berkunjung merasa bingung. Bayangkan saja, di kedai tersebut tak diperbolehkan untuk merokok.
“Banyak orang dulu yang protes. Katanya, kenapa ada kedai/warkop tidak boleh merokok. Tapi lama kelamaan para pengunjung mulai menerima aturan yang ada,” ucap Bahri.
Dia punya alasan dengan larangan ini. ”Saya pernah bekerja di perusahaan rokok. Saya tahu betul mudaratnya rokok lebih besar dibanding manfaatnya. Makanya saya anjurkan para pengunjung di sini untuk tidak merokok. Kan tujuan kami disini juga dakwah,” tambah Bahri.
Lama kelamaan, keunikan kedai ini justru membuat orang semakin penasaran. Akhirnya, hanya dalam jangka waktu beberapa bulan saja, kedainya mengalami kenaikan omzet yang cukup baik.
Hasil yang ia dapatkan dari usahanya kini telah membuat kehidupannya lebih baik lagi. Waktunya bersama keluarga kecilnya juga semakin banyak. Termasuk berbagi ilmu dan kebahagiaan kepada orang lain.
Kesabaran adalah kuncinya. Ia juga selalu mengkonversi segala hal negatif yang datang kepadanya menjadi motivasi yang membangun. Tak lupa, harapannya Kedai Bahagia bisa semakin memberikan kontribusi yang positif bagi banyak orang. (*/rus/b)

