SEORANG pemuda tampak sibuk membersihkan altar tempat persembahan di Kelenteng Kwang Kong. Vincent Justiwan, begitu nama lengkapnya, merupakan warga Tionghoa yang mengabdikan hidupnya untuk menjaga dan membersihkan tempat peribadatan yang berada di Jalan Sulawesi, No 172 Kelurahan Ende, Kecamatan Wajo ini.
Laporan: JUNI SEWANG
Pria yang tinggal di Jalan Lembeh ini mengaku sudah 35 tahun lalu berada di Klenteng Kwang Kong. Awalnya, ia sangat tertarik melihat kakaknya membersihkan seluruh ornamen di dalam klenteng. Dengan jiwa seni yang ada dalam dirinya, ia ikut bersama kakaknya menjadi penjaga di Klenteng Kwan Kong.
Usianya yang saat itu beranjak 20 tahun merupakan usia yang banyak digunakan oleh remaja lain untuk berhura-hura dan shooping. Tapi bagi Vincent usia tersebut adalah usia untuk lebih mengabdikan diri dalam kerja-kerja ibadah.
selain menjaga klenteng, Vincent Justiwan juga melakukan aktivitas membuka dan menutup pintu Klenteng. Ia sangat dipercaya oleh pengelola klenteng untuk menjaga kebersihan dan menjaga keindahan klenteng.
“Kerja di Klenteng itu panggilan hati, bukan untuk mendapat pekerjaan atau gaji yang diterima besar. Kita hidup ini untuk kerja-kerja ibadah dan terus hidup bersosial,” ungkap pria berusia 55 tahun ini saat ditemui penulis di Klenteng Kwan Kong saat tengah membuat hiasan untuk sembahyang (origami).
Sambil membersihkan kain lap, Vincent mengaku membuat Hiasan untuk perlengkapan Sembahyang awalnya hanya sekadar hobby. Bermacam macam bentuk origami ia buat seperti berbentuk buah nenas yang melambangkan pengundang rejeki. Origami yang dibuatnya rata-rata terbuat dari kertas kim dimana dalam satu lusinnya berisi 100 lembar seharga Rp7.000.
“Kalau sudah tidak ada lagi kerjaan, biasa saya duduk duduk sambil melipat kertas kim atau kertas minyak yang berornamen Tionghoa bertintakan emas. Biasanya kami sembahyang terkadang menggunakan buah buahan seperti buah jeruk orange dan buah nenas, namun dengan adanya kertas kim kami bisa membuat Origami berbentuk buah sebagai pengganti buah asli untuk sembahyang,” katanya.
Alasannya, karena buah asli hanya bisa bertahan 2 sampai 3 hari. “Saya lipat lipat kertas kim hingga berbetuk buah, termasuk berbentuk dewa. Awalnya iseng iseng bikin karena hobby, sekarang banyakmi orang minta dibikinkan. Hanya saja, saya biasanya terkendala dengan biaya bahan. Dalam membuatnya harus dibutuhkan kehati hatian sebab harus dilipat 99 kali dan ratusan kali diberi perekat dan dibuat persis sama dengan aslinya,” jelas Vincent.
Vincent juga menambahkan, dalam melaksanakan persembahyangan perlunya perlengkapan sembahyang yakni media hubungan antara manusia dewa.
“Dewa itu manusia tapi karena bijak manusia jadi dewa, kita berdoa agar mengikuti kebijakannya dewa,” tandasnya.
Kepada penulis ia juga mengaku, menjaga klenteng ini selama kurang lebih 35 tahun bukan perkara mudah. Selain memang menyenangkan, namun menjaga amanah dan tanggung jawab itu juga sangat berat. Contoh kecil adalah menjaga barang-barang yang ada di dalam kelenteng agar tidak hilang. Misalnya guci tempat dupa, atau ada yang suka mengambil buah-buahan, terutama saat kelenteng lagi ramai dikunjungi pada perayaan Imlek. (jun)

