pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

SUDAH sekitar 20 hari, Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang berkantor di Galeri Mamminasata. Lokasinya di kawasan Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan Sulsel, Jalan AP Petta Rani. Seperti apa ruang kerjanya AAN itu?

Laporan: Rahmawati Amri

WAGUB harus pindah sementara ke UPTD Mamminasata yang memang selama ini juga menjadi kantor keduanya. Sebab ruang kerjanya sementara direnovasi.
Kendati harus berkantor di ruangan dengan luas terbatas, namun Agus tidak mempersoalkan hal tersebut. Apalagi, tidak sehari penuh dia mesti berada di sana.
“Saya untuk sementara berkantor di UPT Mammimasata sampai ruanganku selesai renovasi,” ungkapnya.
Hanya ada dua ruang, masing-masing berukuran sekitar 3×3 meter persegi. Satu ruang difungsikan sebagai ruang kerja staf berjumlah tiga orang dan ruang tunggu tamu. Sementara satu ruangan lain menjadi ruang kerja dan tempat menerima tamu. Itupun, tamu yang diterima maksimal empat orang karena kapasitas ruangan yang terbatas.
Tidak ada perabotan khusus yang ada di ruang kerja dadakan tersebut. Hanya ada satu sofa kecil dan meja wakil hubernur. Hanya ada satu WC di kantor tersebut. Itupun menyatu dengan ruang kerjanya.
Jika tidak ada tugas luar, misalnya membuka acara, atau ke daerah dan luar provinsi, Agus kerap singgah ke kantornya itu. Baik untuk menandatangani berkas-berkas, maupun menerima tamu. Namun jika tamu yang ingin bertemu cukup banyak, diarahkan ke rumah jabatan wakil gubernur.
Setiap hari, ada tiga staf yang stand by disana. Sementara satu orang stand by di kantor gubernur Jalan Urip Sumiharjo untuk mengurus surat masuk maupun keluar. Jika ada yang harus ditandatangi, berkas akan dibawa ke UPT Mamminasata. Jika cukup urgen, stafnya langsung menemui wagub jika posisinya tidak sedang berada di luar kota.
Bukan kali pertama Wagub berkantor di UPT Mamminasata. Waktu ruang kerjanya direnovasi sekitar 2013 lalu, dia juga pindah kantor ke sana.
Agus sendiri sebenarnya menginginkan jika renovasi ruang kerjanya di kantor Gubernur Sulsel baru dilakukan setelah periodenya berakhir. Namun, ternyata sudah waktunya harus renovasi, karena ada beberapa bagian yang memang sudah tidak layak.
“Kalau saya sebenarnya maunya nanti berakhir masa jabatanku baru direnovasi. Tapi karena memang sudah waktunya, ya tidak apa-apa. Bagus juga. Jadi nanti yang gantikan saya bisa menggunakan dengan maksimal,” jelasnya.
Sama dengan wakil gubernur, saat renovasi ruang kerja gubernur, Syahrul Yasin Limpo terpaksa mengungsi. Namun Syahrul memilih berkantor di ruang kerja Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Andi Arwin Azis selama ruangannya direnovasi.
Sebelumnya, renovasi ruang kerja gubernur menelan dana Rp1,7 miliar. Untuk renovasi ruang kerja wakil gubernur, disiapkan anggaran sebesar Rp1 miliar lebih.
Kepala Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya dan Tata Ruang Sulsel Andi Darmawan Bintang, menuturkan renovasi ini dilakukan mengingat ruang kerja wagub juga perlu dibenahi.
“Ada bagian-bagian yang perlu diperbaiki, karena bangunannya sudah cukup lama. Anggarannya juga hampir sama dengan renovasi ruang kerja gubernur. Sekitar Rp1 miliar lebih,” ungkapnya.
Kata Darmawan, renovasinya juga tak jauh berbeda dengan pengerjaan ruang kerja gubernur. Seperti pengerjaan interior agar terlihat lebih modern.
“Ada sentuhan baru sehingga wagub juga lebih nyaman saat bekerja atau menerima tamu,” katanya.
Untuk masa pengerjaan renovasi ruang kerja wagub, diperkirakan bisa rampung dalam sebulan.
“Ya, kita ingin singkat. Ruangannya kita ingin tata juga agar terlihat lebih luas. Tentu aktivitas wagub akan lebih lancar bila cepat rampung,” tandasnya. (*/rus)

INNA LILLAHI WAINNA ILAIHI RAJIUN. Awan duka menyelimuti dunia musik tanah air. Penyanyi sekaligus pencipta lagu Bugis-Makassar Anci Laricci kembali ke haribaan Ilahi. Ia mengembuskan nafas terakhirnya, Minggu pagi (8/10).

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

SUASANA di Jalan Hertasning Barat 4, Makassar tampak ramai. Kendaraan roda dua dan empat berjejer. Sebuah tenda berukuran sedang berdiri di depan rumah nomor 25B. Di dalam rumah inilah jenazah almahum Anci Laricci disemayamkan.
Silih berganti kerabat dan sanak famili berdatangan melayat. Tak ketinggalan musisi serta artis musik Makassar datang untuk melihat almahum untuk terakhir kalinya.
Semasa hidupnya, pria kelahiran 17 Agustus 1953 ini telah membawa nama Makassar berbicara di level nasional. Lagu-lagu yang dibawakannya mampu menyedot perhatian para pecinta musik negeri ini.
Wali Kota Makassar Moh Ramadhan Pomanto datang ke rumah duka, kemarin. Dai menyebut almarhum sebagai seorang pelestari budaya dan pengawal peradaban. Karyawanya di bidang tarik suara tidak hanya menghibur jutaan pendengar, namun secara khusus juga mewarnai peradaban Makassar.
Lagu Pantai Losari menjadi salah satu gubahan Anci Laricci yang begitu ikonik. Syairnya berkisah tentang Pantai Losari dan apa yang ada di sekitarnya. Hingga sekarang lagi itu masih sering didendangkan.
Saat berlangsung penutupan Makassar International Eight Festival and Forum (Makassar F8) di panggung utama Anjungan City of Makassar, 10 September 2017 lalu, Anci Laricci juga tampil. ”Tanpa karya almarhum, Makassar F8 tidak semeriah yang telah kita saksikan. Tak mudah menciptakan lirik lagu, menggubahnya dalam alunan nada hingga mendesain koreografi. Makassar sangat kehilangan,” kata Danny Pomanto.
Informasi dari keluarga, almarhum meninggal setelah sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Stella Maris selama tiga hari. Ia menderita sakit sesak nafas.
Di rumah dukan, BKM menemui Wandi, seorang sahat Anci Laricci. Kepada Wandi, almarhum kerap menyampaikan curahan hati (curhat) serta keluh kesahnya.
”Sebelum jadi penyanyi terkenal, Anci dulu pernah jadi penjahit di Cendrawasih,” tutur Wandi.
Ternyata, kehidupan Anci dulunya cukup sulit. Ia pernah bekerja apapun sebelum mencapai mimpinya menjadi seorang penyanyi.
Di sebuah lapak kayu kecil di Jalan Cendrawasih, Anci menggantungkan hidupnya. Ia memang suka menyanyi, namun pantang baginya mengamen. Karena ia tak pantas jika sebuah karya seni dihargai sangat murah.
Sampai pada akhirnya Anci hijrah ke Jakarta dan memulai karir menyanyinya. Lama kelamaan, ia bisa membuat album sendiri sampai meledak di pasaran. Mulai dari situlah, kehidupannya berubah total. Dari yang tadinya tak punya apa-apa, sampai apapun bisa dibelinya saat itu.
Setelah hijrah ke Jakarta, Anci mulai fokus pada dunia menyanyi. Tak mudah baginya untuk menembus dapur rekaman ibukota. Sebelum jadi penyanyi, ia rela menjadi kuli bangunan dan tukang parkir.
Kehidupannya mulai berubah ketika ia berhasil merilis album musik. Anci cukup kaget ketika lagu reggae berjudul Nona Manis yang dibawakannya bersama grup UB2 meledak di pasaran. Kasetnya pun laku 600 ribu keping. Ini yang membuat kehidupannya berubah.
Menurut kisah yang disampaikan Wandi, di tahun 2002 Anci pernah mengalami peristiwa religius. Ia mendapat ‘peringatan keras’ dari Tuhan.
Ketika itu bulan Ramadhan. Anci duduk bersandar dalam keadaan sadar di rumahnya di Jakarta. Tiba-tiba dirasakan dunia ini sepi, hampa, tidak ada suara.
Kemudian dia melihat dirinya ditandu di keranda mayat dan dimasukkan ke dalam liang lahat. Ketika hendak ditimbun, barulah dirinya tersadar. Mulai saat itulah Anci kembali ke jalan yang benar.
Pemain musik asal Makassar Mustari Sara menyebutkan, Anci Laricci termasuk artis senior yang tidak sungkan untuk berbagi. Bukan hanya kepada musisi seangkatannya, tapi juga kepada adik-adiknya. Bahkan mereka yang bisa digolongkan sebagai anaknya.
”Ical d’Academy itu salah satu anak binaan almarhum. Dia mendidik artis-artis pemula asal Makassar. Itu sudah lama dilakukannya,” terang Mustari Sara.
Anci Laricci telah menelorkan lebih 100 lagu ciptaannya.
Diantaranya Pantai Losari’, Tena Ruanna, Sajang Rennu dan Nona Manis. Ia kini telah meninggalkan semua untuk selama-lamanya. Namun akan tetap kekal di telinga para pecinta musik. (*/rus/b)