pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

MAKASSAR, BKM — Penyidik Kejakasaan Tinggi (Kejati) Sulselbar menetapkan empat pimpinan DPRD Sulbar sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penyimpangan dana APBD Sulbar 2016 sebesar Rp360 miliar saat menyampaikan hasil ekspose kasus ini di kantor Kejati Sulsel, Rabu (410) sore.
Keempat pimpinan DPRD Sulbar yang ditetapkan menjadi tersangka masing-masing Ketua DPRD Sulbar, Andi Mappangara (AM) bersama tiga wakilnya Munandar Wijaya (MW), Hamzah Hapati Hasan (HHH) dan H Harun (HH).
“Berdasarkan hasil ekspose gelar perkara tadi pagi (kemarin pagi), kita telah tetapkan empat orang tersangka. Keempatnya masing-masing berinisial AM, MW, HHH dan HH,” ungkap Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulselbar, Jan Samuel Maringka, Rabu (4/10).
Maringka, mengungkapkan, keempatnya diduga telah menyepakati besaran nilai pokok pikiran anggaran APBD tahun 2016 mencapai Rp360 miliar untuk dibagi-bagikan kepada unsur pimpinan dan anggota DPRD Sulbar sebanyak 45 orang.
Dimana, kata Maringka, dari anggaran tersebut, yang terealisasi pada 2016 hanya Rp80 miliar. Anggaran sebesar Rp80 miliar ini digunakan untuk kegiatan di tiga SKPD Pemprov Sulbar yakni di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dinas Pendidikan dan Sekretariat Dewan (Sekwan).
Selain itu juga tersebar di beberapa SKPD lain dan kabupten se-Sulbar. Ada juga yang baru terealisasi di 2017.
“Tersangka telah secara sengaja dan melawan hukum memasukkan pokok-pokok pikirannya, seolah-seolah merupakan aspirasi dari masyarakat tanpa melalui proses dan prosedur sebagaimana yang diatur dalam Permendagri Nomor 52 tahun 2016 tentang pedoman APBD tahun 2016,” tandasnya.
Sementara, kata Maringka, anggaran tersebut dibahas dan disahkan pada hari yang sama tanpa melalui pembahasan sebelumnya baik dalam komisi, rapat-rapat di Badan Anggaran (Banggar) dan paripurna.
Maringka menegaskan jika para tersangka melanggar UU No 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU No 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Dimana pada pasal 12 huruf i dijelaskan bahwa penyelenggara negara yang ditugasi melakukan pengawasan, secara langsung atau tidak langsung ikut serta dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa.
Kejati menjelaskan, perbuatan itu dilakukan para tersangka dengan cara meminjam perusahaan dan menggunakan orang lain sebagai penghubung seperti dari tim sukses, keluarga dan orang kepercayaan.
“Sedangkan dalam kenyataannya dana kegiatan digunakan tidak sesuai dengan peruntukannya yaitu untuk kepentingan pribadi dan fee proyek yang diduga menimbulkan kerugian keuangan negara,” kata Maringka lagi.
Ditanya soal kapan keempat tersangka akan diperiksa dalam statusnya sebagai tersangka, Maringka mengungkapkan jika para tersangka akan diperiksa pekan depan.
Sementara itu, BKM berulang kali menghubungi nomor HP keempat tersangka tidak ada yang aktif. Informasi diperoleh jika pimpinan DPRD akan memberikan tanggapan secara resmi kepada pers terkait penetapan tersangka oleh Kejati.
Sekadar diketahui, kasus ini bermula saat terbit Surat Perintah Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat, Nomor: PRINT-532/R.4.5/Fd.1/09/2017 tanggal 11 September 2017. Dimana Tim Penyidik berhasil mengamankan dokumen-dokumen terkait dengan dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan APBD Sulbar 2015-2016 yang diduga melibatkan sejumlah anggota DPRD Sulbar periode 2014-2019.
Pengusutan kasus tersebut dilakukan oleh tim penyelidik Kejati Sulselbar lantaran disinyalir ada dugaan penyimpangan dalam pengelolaan serta penggunaan APBD Provinsi Sulbar tahun 2016 terkait program anggaran aspirasi DPRD.
Sejak bergulirnya kasus ini di tahap penyidikan, ada sekitar 15 orang saksi dari SKPD Pemprov Sulbar dan 44 orang saksi dari legislator DPRD Provinsi Sulbar yang diperiksa. (mat)

MAKASSAR, BKM — Bakal calon wali kota Makassar Munafri Arifuddin bicara blak-blakan soal adanya sejumlah elit partai yang berada di belakangnya. Siapa-siapa saja mereka?
Kepada sejumlah wartawan di sebuah warung kopi, Selasa (3/10), pria yang akrab disapa Appi ini menyebut ada tiga petinggi parpol yang mendukung dirinya untuk ikut berkompetisi di pemilihan wali kota Makassar, 27 Juni 2018 mendatang.
Mereka adalah politisi Partai Golkar Erwin Aksa, politisi Partai Gerindra Sandiaga Uno dan politisi Partai Hanura Raja Sapta Oktohari Oddang. “Iya tentulah, karena ketiganya adalah mantan ketua umum BPP HIPMI (Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia),” ujar Appi.
Menurutnya, baik Erwin Aksa, Sandiaga Uno yang juga Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, maupun Raja Sapta Oktohari merupakan mantan ketua umum BPP HIPMI). “Sejak dulu kan saya aktif di HIPMI. Jadi tidak salah jika beliau-beliau ikut membantu saya,” jelasnya.
Soal peluang partai yang akan mengusungnya sebagai calon wali kota, pria kelahiran Majene, 20 September 1975 ini mengaku tengah menjalin komunikasi dengan banyak partai. Diantaranya Golkar, Nasdem, Hanura dan Gerindra.
“Hampir semualah partai kami intens berkomunikasi, termasuk Hanura. Bahkan progresnya di Hanura sudah mencapai 50 persen,” klaim Appi.
CEO PSM Makassar ini mengaku menggunakan multiwindows dalam melihat peluang untuk meraih dukungan parpol. “Kita masing-masing punya strategi untuk mendekati elit parpol. Saya dekati semua. Termasuk pimpinan partai di tingkat provinsi dan kota Makassar,” jelasnya.
Soal calon pendamping untuk posisi calon wakil, Appi yang kembali menegaskan hanya siap maju di Pilwali untuk posisi calon wali kota mengisyaratkan bila wakilnya nanti adalah yang mampu meningkatkan keterpilihan, serta dapat menjaga harmonisasi hubungan jangka panjang.
“Saya siap dengan siapa saja. Saya saya bicara dengan semua orang. Termasuk ibu Cicu, Aru, Pak Rusdin dan tokoh partai lainnya,” ucapnya.
Menantu Aksa Mahmud ini mengakui jika hubungannya dengan Cicu –panggilan akrab Wakil Ketua DPRD Sulsel dari Nasdem Andi Rachmatika Dewi– sudah lama. Bahkan sejak menjadi penyiar di radio Prambors, serta momen lainnya. Hanya saja, dalam perjalanannya Cicu yang tak lain adalah ketua DPD Nasdem Makassar lebih dulu eksis di panggung politik dari dirinya.
Tentang seberapa besar dukungan orang tua serta keluarga agar dirinya maju di pilwali, Appi mengakui jika dirinya tak akan maju tanpa dorongan dari mereka. “Tak mungkinlah saya maju tanpa restu dari orang tua. Nanti saya bisa jadi batu,” kelakar Appi.
Tak hanya itu, komisaris utama pada sebuah media ini juga tak akan maju, atau siap mundur jika nanti surveinya tidak naik-naik. “Kalau survei saat ini memang jauh di bawah petahana. Tapi nanti kalau survei saya tidak naik-naik, saya tentu akan mundur,” pungkas Appi, yang juga siap meninggalkan sejumlah aktifitasnya bila kelak terpilih. (rif)

MAKASSAR, BKM — Seorang kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kota Makassar bernama Ipmawan Muh Aslansyah tewas di ujung badik. Dua orang pelaku yang menghabisi nyawa korban harus pula tumbang di ujung bedil polisi.
Syahrul (20) dan Irwan (22) dihadiahi timah panas oleh tim gabungan Polsek Tallo dan Polrestabes Makassar. Polisi terpaksa melumpuhkan keduanya lantaran melakukan perlawanan ketika hendak ditangkap. Peluru bersarang di kaki kiri dan kanan Syahrul. Sementara Irwan, sebutir pelor menembus kaki kanannya.
Setelah keduanya berhasil diamankan dan dilumpuhkan, Wakapolrestabes Makassar AKBP Hotman Siraid merilis kasus ini, Selasa (3/10). Ia didampingi Kasat Reksrim AKBP Anwar Hasan,
Kabag Ops Kompol Dwi Bahtiar Rivai, serta Kapolsek Tallo Kompol Amrin AT.
Menurut Hotman, kedua tersangka pembunuhan ini diringkus di tempat berbeda. Mereka menghabisi nyawa korban pada Senin malam (2/10).
Dijelaskan Wakapolrestabes, seorang saksi yang juga keluarga korban bernama Akbar mengungkapkan, saat kejadian dia bersama almarhum duduk di atas motor di Jalan Datuk Patimang. Kira-kira pukul 19.30 wita. Mereka tengah menunggu seorang rekannya yang hendak mengambil flashdisk.
”Tak lama kemudian datanglah dua pelaku, yakni Syahrul dan Iwan mengendarai sepeda motor. Salah seorang tersangka, yakni Irwan bertanya ke korban yang berada di atas motornya. Tiba-tiba Syahrul menghampiri korban dan menyerangnya,” terang Hotman.
Pada saat bersamaan, Syahrul menikam korban menggunakan badik. Serangan itu mengenai bagian dada, tepat di ulu hati. Seketika korban langsung jatuh tersungkur bersimbah darah. ”Kedua pelaku kemudian melarikan diri menggunakan motor,” tambah Wakapolrestabes.
Warga yang melihat korban tak berdaya, beramai-ramai mengevakuasinya ke Puskesmas Ujung Pandang Baru, Kecamatan Tallo. Namun karena kondisi lukanya cukup parah, korban kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo.
”Kondisi korban sudah kritis saat dibawa ke Puskesmas Ujung Pandang Baru hingga dirujuk ke Rumah Sakit Wahidin. Tak lama kemudian korban meninggal dunia,” kata Kapolsek Tallo Kompol Amrin AT, menambahkan ikhwal peristiwa yang terjadi di wilayah hukumnya.
Begitu menerima informasi kejadian, polisi langsung turun ke lokasi dan mengumpulkan keterangan saksi-saksi. Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan prarekonstruksi yang dilaksanakan sekitar pukul 23.00 Wita membuahkan hasil.
”Terungkap dua nama pelaku yang diidentifikasi. Selanjutnya kami melakukan pengembangan, diback up tim Reksrim Polrestabes Makassar. Hasilnya, salah seorang tersangka bernama Irwan berhasil kami ringkus saat berada di rumahnya di Samata, Gowa. Dari tangan Irwan kami amankan sepeda motor yang digunakan menyerang korban,” terang Kompol Amrin.
Mantan Kapolsek Tamalate itu menambahkan, dari keterangan Irwan disebutkan jika yang merupakan eksekutor adalah rekannya bernama Syahrul. Pengakuan itu kemudian ditindaklanjuti.
Selasa (3/9) pukul 08.00 Wita, Syahrul berhasil diamankan saat berada di Jalan Mappaoddang.
“Kami bawa Irwan dalam pengembangan untuk menunjuk persembunyian Syahrul yang berada di Jalan Mappaoddang. Saat berhasil mengamankan Syahrul, keduanya mencoba melakukan perlawanan. Meski diberi tembakan peringatan sampai tiga kali, mereka tak menggubrisnya hingga. Akhirnya diambil tindakan tegas dengan cara melumpuhkannya,” terang Amrin lagi. (ish-jul/rus)

MENEMPUH pendidikan dibarengi dengan pengalaman memang menjadi hal yang sangat menarik. Salah satunya karena bisa menambah daya tampung edukasi menjadi lebih dalam. Tak heran, banyak orang yang ingin merasakan proses belajar seperti ini.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

DI lantai dua Hotel Clarion Makassar, Selasa (3/10). Di depan Phinisi Ballroom berjejer unsur senat Politeknik Informatika Nasional (Polinas) LP3I Makassar. Mereka masing-masing mengenakan toga kebesarannya. Prosesi wisuda sarjana sebentar lagi dimulai.
Berjalan memasuki ruangan, di belakang mereka menyusul seorang perempuan. Mengenakan pakaian adat Bugis Baju Bodo, ia mengiringi anggota senat. Kehadirannya mengundang perhatian, karena parasnya cukup berbeda.
Ternyata, dia seorang mahasiswi yang berasal dari Jerman. Namanya Jana Retberg. BKM menemuinya di sela-sela acara wisuda. Jana mendapat tempat duduk di kursi terdepan bersama para pejabat kampus, tepat di depan para wisudawan.
Jana kini menjadi bagian dari mahasiswa Polinas LP3I Makassar. Ia mengikuti program pertukaran pelajar. Melalui program ini, mahasiswa bukan hanya mendapatkan edukasi tentang bidang ilmu yang diajarkan. Namun lebih dari itu, pengalaman dan pengetahuan akan budaya lain menjadi sesuatu yang bernilai lebih.
Pertukaran pelajar ini kerap dilakukan oleh beberapa kampus di Makassar. Polinas LP3I menjadi salah satunya. Jana Retberg terpilih untuk program ini.
Wanita yang bercita-cita ingin menjadi guru bahasa Inggris itu tampak anggun menggunakan baju bodo. Baju Bodo berwarna merah yang ia kenakan terlihat sangat pas dengan parasnya yang cantik. Apalagi dilengkapi juga dengan sarung khas Bugis yang dipakainya.
Murah senyum dan tampak sangat bahagia setelah beberapa hari ia berada di Makassar. Jana yang saat diwawancari oleh BKM, didampingi oleh penerjemah dari Polinas LP3i, Luke. Dengan sangat ceria, ia menceritakan pengalamannya selama di Indonesia, khususnya di Makassar.
Jana kini berusia 21 tahun. Ia adalah anak dari ayah bernama Hamuch dan ibu Stefany. Ia lahir dan dibesarkan di Jerman. Sayang sekali, oleh pihak kampus asalnya, ia tidak diperbolehkan membeberkan nama kampusnya.
Jana sendiri sebenarnya telah menetap di Australia selama setahun belakangan. Di Australia, ia memiliki dosen yang berasal dari Indonesia. Mengapa ia bisa mengikuti pertukaran pelajar ini, semua berkat dosennya tersebut.
Oleh dosennya itu, ia dianjurkan mengikuti program pertukaran pelajar ke Indonesia. Dihubungkanlah Jana ke LP3i oleh sang dosen. Selain ingin mengikuti program, alasan terbesarnya ternyata adalah rasa penasaran dan keingintahuannya tentang Indonesia.
Awalnya ia menuju kampus pusat LP3I di Jakarta pada September 2017. Seiring waktu, beberapa cabang LP3I di beberapa daerah menginginkan keberadaannya.
Sebagai orang yang bisa membagi pengalaman dan bertukar pikiran, ia pun telah pergi ke beberapa daerah di Indonesia. Mulai dari Jakarta, Palembang, Cilegon, Cirebon, Banjarmasin, dan Makassar.
Di Makassar sendiri ia baru tiba pada Minggu (1/10). Meski begitu, sudah banyak yang ia pelajari di kota ini. Jana benar-benar senang berada di Makassar. Baginya, semua orang di sini baik hati dan banyak juga yang memperhatikannya. “Orang-orang di sini terbuka sekali. Saya suka,” kata Jana. (*/rus/b)