pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

SETIAP orang punya menu favorit yang bisa membangkitkan selera makan saat ramadan. Apalagi di kala sahur.

Laporan: Rahmawati Amri

SEBENARNYA, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Pemprov Sulsel, Mustari Soba tak terlalu neko-neko dalam memilih menu sahur. Namun, ia tetap punya menu andalan.
Ikan kering sunu dari Selayar yang digoreng kemudian disantap dengan nasi panas yang masih mengepulkan asap. Menu ini mampu membuatnya berselera saat sahur.
“Ikan kering sunu, apalagi dari Selayar, itu nikmat sekali disantap saat sahur,” kata Mustari.
Untuk buka puasa, jika ada pisang goreng dan kopi hitam, sudah disyukuri. Apalagi jika ditambah dengan es buah.
Biasanya, saat buka, mantan kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sulsel ini membatasi diri untuk tidak terlalu kenyang. Nanti setelah salat magrib baru lanjut makan malam.
Dia selalu berharap, setiap ramadan ada peningkatan kualitas hidup, baik dari segi jasmani maupun rohani. Dan ramadan tahun ini harus lebih baik dari tahun-tahun kemarin.
Baginya, ramadan merupakan bulan magfirah yang penuh pengampunan. Waktu di mana intensitas ibadah harus diperbanyak. Apalagi, Allah telah menjanjikan pahala yang berlipat ganda.
Karena itu, di sela-sela kesibukannya yang padat sebagai salah satu pejabat teras di lingkup Pemprov Sulsel, Mustari juga selalu memanfaatkan waktu luang untuk memperbanyak ibadah.
Dia kerap mengisi waktu luang dengan membaca Alquran, atau mendengar tausiyah untuk menambah pengetahuan tentang agama Islam. “Di sela-sela kesibukan, saya biasa mengisinya dengan tadarus Alquran,” ujarnya.
Agar lebih konsentrasi beribadah, Mustari sengaja break atau menghentikan dulu aktifitas olahraga. Agar waktunya bisa digunakan untuk menambah bekal di akhirat. Toh, ada 11 bulan di luar ramadan yang bisa digunakan untuk berolahraga menjaga kebugaran tubuh.
Selain itu, ramadan juga menjadi momen untuk mengajarkan anak-anaknya lebih empati bagi sesama.
“Jadi saya ajarkan kepada mereka puasa itu melatih kesabaran. Lapar dan dahaga itu mengajarkan mereka, begitulah rasanya orang yang harus menahan diri tak bisa makan karena tak punya apa-apa,” ungkap Mustari. (*/rus)

MAKASSAR, BKM — Siang di hari ke 14 bulan ramadan. Umat muslim di Jalan Seroja, Kecamatan Mariso, Makassar baru saja pulang usai menunaikan salat Jumat (9/6). Kira-kira pukul 14.00 Wita.
Seorang pemuda, yang belakangan diketahui bernama Suanad alias Saiful alias Iful (24) terlihat pulang ke rumah di Jalan Seroja Lorong 307, Kelurahan Kampung Buyang. Ia tampak menenteng sebuah jerigen. Isinya ternyata bensin.
Ketika masuk di dalam rumah, Iful mendapati ayahnya, Dg Sattu sementara tidur. Ada pula istrinya Sania bersama anaknya Acce. Sania merupakan ibu tiri Iful. Sedangkan Acce adalah adik tiri Iful, buah pernihakan Dg Sattu dan Sania.
Tanpa basa basi Iful berbuat sadis. Ia menyiramkan bensin yang dibawanya ke atas tempat tidur. Bahan yang mudah terbakar itu kemudian disulutnya dengan menggunakan korek api.
Dalam hitungan detik kasur langsung terbakar. Api pun menyambar tiga sosok tubuh yang berbaring di atasnya. Dg Sattu, Sania dan Acce yang dalam kondisi tertidur tak bisa menghindari api. Sebagian anggota tubuhnya terbakar dan melepuh.
Warga sekitar kejadian yang mencium bau kasur terbakar dari dalam rumah Dg Sattu langsung berdatangan. Mereka berusaha menolong dan mengevakuasi ketiga korban. Sebagian diantaranya mencoba memadamkan api dengan peralatan seadanya. Ketiga korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara menggunakan mobil patroli polisi. Lokasi kejadian memang dekat dari Mapolsek Mariso.
Anak Sania, Gilang (15) yang saat kejadian berada di luar rumah, menuturkan Iful membakar ayah dan ibu tirinya gara-gara motornya rusak. ”Saat distater di lorong, motornya tidak bisa bunyi. Dia marah lalu mengambil jerigen isi lima liter. Jerigen itu kemudian diisi bensin dari dalam tangki motornya menggunakan selang. Bensin itu dipakai menyiram kasur lalu dibakar,” ujar Gilang di lokasi kejadian.
Usai melakukan aksinya, Iful langsung keluar dari kamar dan melarikan diri. Diduga, selain gegara motornya rusak, pelaku nekat berbuat sadis seperti itu karena dia sering mengonsumsi obat-obatan daftar G.
Warga yang khawatir rumahnya ikut terbakar, langsung menelepon Dinas Pemadam Kebakaran. Tidak lama kemudian beberapa unit mobil damkar datang. Hanya saja, mereka tidak bisa masuk ke TKP karena lokasinya berada di lorong yang lebarnya hanya satu meter.
Beruntung, warga bisa cepat menjinakkan api dalam rumah korban hingga tidak menjalar. Padahal, lokasi tersebut merupakan pemukiman padat penduduk.
Kapolsek Mariso, Kompol Wahyu Basuki mengatakan, pelaku sudah diketahui identitasnya. ”Pelakunya masih dalam pencarian anggota di lapangan. Jika sudah tertangkap, baru bisa diketahui pasti motif pembakaran terhadap ayah dan ibu tirinya. Kejadiannya sudah dilaporkan ke Polrestabes Makassar,” terang Kompol Wahyu.
Kepala Dinas Damkar Kota Makassar, Imran Samad mengatakan, pihaknya telah melakukan upaya penanganan secara maksimal kebakaran yang terjadi di sebuah rumah tinggal Jalan Seroja. Dalam kejadian ini, tiga orang menjadi korban dan mengalami luka bakar.
”Dua orang dewan dan satu anak-anak jadi korban. Kita tidak tahu apa pemicunya. Yang jelas, kebakaran sudah teratasi,” ujar Imran.
Tentang pemicu peristiwa ini, Imran mengatakan sementara dalam penyelidikan polisi. ”Informasinya, diduga berawal dari masalah rumah tangga. Pelaku melakukan pembakaran hingga menyebabkan bapak, ibu tirinya serta adik tirinya terluka bakar,” terang Kadis lagi.
Sekretaris Kecamatan Mariso, Juliaman juga turun langsung ke lokasi kejadian. Menurutnya, usai melakukan aksinya, pelaku mengunci pintu dari luar lalu pergi.
Pihak kecamatan memfasilitasi korban untuk dibawa ke rumah sakit. Bekerja sama dengan aparat dilakukan pencarian terhadap pelaku.
Warga sekitar lokasi kejadian, menurutkan Iful bekerja sebagai tukang parkir di depan Toko Agung. Entah kenapa, tiba-tiba ia pulang dan menyiramkan bensin ke atas tempat tidur.
”Orangnya normal. Tidak adaji gangguan jiwa,” ujar Syaharuddin Rasyid Dg Sila, salah seorang warga setempat
”Dari kecil saya lihat dia, karena tetangga saya. Saya sudah 15 tahun jadi ketua RW. Secara kejiwaan dia normal,” jelas Ketua RW 4 Kelurahan Kampung Buyang. (jul-ucu-jun/rus/c)

MAKASSAR, BKM — Proyek underpass simpang lima terus digenjot penyelesaiannya. Sesuai target, diharapkan 18 Juni mendatang terowongan tersebut sudah bisa difungsikan kendati belum sepenuhnya rampung.
Kepala Satuan Kerja (Satker) Pelaksana Jalan Nasional Metropolitan (BBPJN) XIII, Amin Hamid menjelaskan seluruh badan jalan sudah dibeton. Tinggal proses pengaspalannya yang sementara dilakukan.
“Kita sudah janjikan dulu, pada H-7 atau sekitar 18 Juni, underpass itu sudah bisa difungsikan. Insya Allah itu bisa dilakukan,” ungkap Amin, Jumat (9/6).
Lebih jauh dikemukakan, sesuai kontraknya, proyek tersebut harus dirampungkan secara keseluruhan pada 18 Juli mendatang. Amin optimistis itu bisa dilaksanakan, mengingat pekerjaan yang tersisa hanya tinggal aksesori jalan serta pemasangan lampu penerangan.
“Tiangnya sudah ada. Tinggal pemasangan lampunya. Nanti sambil difungsikan, kita selesaikan sisa pekerjaan yang ada,” terangnya.
Sementara untuk aksesori, dirancang ornamen yang akan dipasang di sisi kiri dan kanan terowongan. Rencananya, ornamen tersebut menjadi perwakilan tiga etnis yang ada di Sulsel yakni Makassar, Bugis dan Toraja.
Diapun menegaskan, jalan tersebut sudah bisa digunakan para pemudik yang mengarah ke utara Makassar. Selain itu, difungsikannya underpass diharap sudah bisa mengurai kemacetan lalulintas yang kerap terjadi di kawasan tersebut.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo mengapresiasi pihak pelaksana kegiatan yang berusaha merampungkan pekerjaan sesuai target yang diharapkan. Diapun berharap underpass tersebut sudah digunakan pada 18 Juni mendatang.
Namun sebelum resmi mengoperasikan jalan tersebut, Syahrul berjanji akan melakukan pemantauan langsung progres pekerjaan, sehari atau dua hari sebelum diresmikan.
“Sesuai kesepakatan kita, underpass itu sudah bisa difungsikan para pemudik yang akan melalui jalur tersebut, ” ungkap Syahrul di kantor gubernur, kemarin.
Menurut orang nomor satu di Sulsel ini, kehadiran underpass simpang lima sangat strategis untuk mengurai kemacetan yang terjadi setiap hari di kawasan itu. Selama bertahun-tahun, kemacetan, utamanya saat jam-jam sibuk selalu terjadi.
“Kehadiran underpass simpang lima ini sangat dibutuhkan masyarakat. Khususnya para pengguna jalan yang setiap hari lalulalang di sana,” ungkap Syahrul.
Bukan itu saja, Syahrul juga mendesak instansi yang berada di lingkup pekerjaan umum untuk mempercepat penyelesaian proyek-proyek strategis yang dilaksanakan. Khususnya yang bersentuhan dengan infrastruktur jalan maupun pengairan.
Berbeda dengan beberapa proyek infrastruktur yang mengalami pemangkasan anggaran, pembangunan underpass tetap bisa dilaksanakan tanpa kendala keuangan. Malah, proyek tersebut mendapat suntikan dana sebesar Rp25 miliar di APBN-P 2016.
Tahun lalu, underpass mendapat alokasi sebesar Rp50 miliar. Dengan tambahan tersebut, itu berarti tahun lalu total alokasi APBN untuk underpass sebesar Rp75 miliar. (rhm/rus)

SINJAI, BKM — Ini kisah miris yang dialami warga Desa Pulau Harapan, Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Sinjai. Zainuddin yang sehari-harinya beprofesi sebagai nelayan harus kehilangan putri semata wayangnya, Fitri (25) karena sakit.
Tapi bukan itu penyebabnya Zainuddin menjerit. Melainkan karena anaknya terlambat mendapat pertolongan medis hingga mengembuskan nafas terakhirnya.
Tak sampai disitu. Iapun harus merogoh kantong cukup dalam untuk memulangkan jenazah anaknya ke rumah duka di Desa Pulau Harapan. Uang Rp2 juta mesti dikeluarkannya guna membayar sewa perahu. Sebagai nelayan pesisir yang tergolong miskin, biaya tersebut sangat memberatkannya. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Jasad Fitri dipulangkan dengan cara dibaringkan di atas palka perahu berukuran kecil, Rabu (7/6) sore. Dengan menggunakan perahu jenis ini, perjalanan dari Kota Sinjai menuju Desa Pulau Harapan membutuhkan waktu kira-kira setengah jam.
Jauh sebelum terbentuk menjadi Kecamatan Pulau Sembilan, warga setempat sudah terbiasa menanggung biaya transportasi guna menyeberangkan jenazah kerabatnya yang meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sinjai ke masing-masing pulau. Saat ini ada empat desa di empat pulau yang berpenghuni kurang lebih wajib pilih 3.500 jiwa.
Kisah sedih Zainuddin bermula ketika anaknya, Fitri sakit. Ia kemudian dibawa ke Puskesmas Pulau Sembilan guna mendapat perawatan medis.
Beberapa jam Fitri berada di pusat kesehatan masyarakat itu. Hanya saja, ia tak kunjung mendapat penanganan dokter. Akhirnya, Fitri kemudian dibawa ke RSUD Sinjai.
Fitri dirawat di Puskesmas Pulau Sembilan pada Minggu (3/6). Kurang lebih 10 jam berada di tempat tersebut, Fitri tak kunjung ditangani dokter.
”Dokter yang seharusnya mengambil tindakan medis tidak ada di tempat. Hanya ada beberapa perawat honorer yang tidak berani mengambil risiko,” kata Murlan (30), salah seorang kerabat Fitri, kemarin.
Diakui Murlan, apa yang menimpa sepupunya ini sudah sering terjadi di Puskesmas Pulau Sembilan. ”Yang lalu-lalu sudah banyak pasien yang tidak dapat penanganan dokter di puskesmas, terpaksa dilarikan ke RSUD Sinjai. Lucunya, di puskesmas sudah disiapkan rumah dinas dokter dan perawat yang dibangun pemerintah,” terang Murlan.
Sejatinya, Puskesmas Kecamatan Pulau Sembilan memiliki rawat inap 24 jam. Bahkan bangunan dan fasilitasnya tergolong memadai. Mempunyai dua unit speed boat. Termasuk petepete (perahu) yang sehari-harinya diperuntukkan mengantar jemput dokter, bidan dan perawat.
”Setiap tahun bangunan puskesmas selalu dipoles. Mobiler hingga rumah dinas dokter, perawata dan bidan tertata rapi. Namun, kinerja tim medis jauh dari memuaskan. Bahkan sejak adanya petepete (perahu), jam kerjanya seakan berkurang,” beber Murlan.
Ironisnya, tambah dia, ketika delapan kecamatan di Sinjai mendapatkan mobil ambulance dari pemerintah, masyarakat Kecamatan Pulau Sembilan seakan tak dilirik oleh Pemkab Sinjai. Tak ada bantuan mobil ambulance untuk daerah ini.
Warga Pulau Harapan sudah menganggap lumrah jika harus mengeluarkan biaya cukup besar guna memulangkan jenazah dari RSUD Sinjai ke desanya. Mereka yang tak memiliki perahu pribadi, seperti Zainuddin, harus menanggung biaya transportasi penyeberangan jenazah meskipun tergolong kurang mampu.
”Biasanya, kalau ada warga miskin yang berduka, kami saling bantu untuk meringankan beban transportasi jenazah,” jelas Murlan yang merupakan keponakan Zainuddin.
Kepala Puskesmas Pulau Sembilan, Muh Asri mencoba berkelit ketika dihubungi BKM via handphone, kemarin. Khususnya soal bangunan perumahan dinas yang disiapkan untuk dokter, bidan dan perawat puskesmas.
”Sedikit gambaran saya sampaikan, sekarang di Puskesmas Pulau Sembilan memang ada dokter PNS yang bertugas. Tapi tidak tinggal menetap, karena gajinya sama dengan dokter yang bertugas di kota. Tidak ada tunjangan daerah terpencil. Selain itu, kondisi rumah dinas juga tidak layak huni,” terangnya.
Meski begitu, dia mengklaim jika dokter dan petugas media lainnya tetap siap dihubungi jika ada pasien yang hendak ditangani.
”Untuk pasien bernama Fitri, memang harus dirujuk ke RSUD Sinjai. Makanya diberikan rujukan,” ujarnya.
Dia berharap, Puskesmas Pulau Sembilan mendapat perhatian. Terutama pengadaan ambulance rujukan, ambulance mayat serta perumahan dokter, bidan dan perawat yang bertugas.
”Terus terang, Puskesmas Pulau Sembilan tidak diminati karena kondisinya yang tidak layak huni. Untuk itu saya berharap kepada pemerintah kabupaten, dalam hal ini Dinas Kesehatan untuk memperhatikan daerah terpencil seperti Pulau Sembilan,” imbuh Asri.
Terpisah, Kepala Desa Pulau Harapan, Ambo Sakka mengatakan, usulan pengadaan transportasi jenazah sudah seringkali disampaikannya dalam musrenbang (musyawarah perencanaan pembangunan). Mulai dari tingkat desa hingga kecamatan. Namun tak mendapat respons.
”Saya selalu suarakan di musrenbang tingkat desa maupun kecamatan. Transportasi jenazah itu sangat dibutuhkan untuk meringankan beban warga Kecamatan Pulau Sembilan yang sedang berduka. Namun tidak pernah ditanggapi sampai sekarang,” keluhnya.
Pengakuan Asri diamini Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai, Andi Suryanto Asapa. Kata dia, tahun ini Dinkes sudah merencanakan untuk membenahi fasilitas di Puskesmas Pulau Sembilan.
Terkait ambulance jenazah, Suryanto menegaskan bahwa itu bukan kewenangannya. Melainkan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra).
”Kalau dokternya yang bertugas di sana, waktu kejadian dia sedang sakit. Jadi tidak datang bertugas di Pulau Sembilan. Insya Allah, ke depan kami dari Dinas Kesehatan akan memperhatikan fasilitas dan pelayanan di sana agar lebih baik lagi,” tandasnya. (din/rus/b)

MAKASSAR, BKM — Menjelang siang di hari 12 puasa bulan ramadan, Rabu (7/6). Pedagang di Pasar Butung yang tadinya disibukkan dengan aktivitas jual beli, langsung berlarian meninggalkan kiosnya.
”Kebakaran….kebakaran…” Begitu teriakan yang terdengar. Terlihat asap mengepul di angkasa. Si jago merah tengah mengamuk.
Kepanikan langsung melanda. Para pedagang langsung bergerak menyelamatkan barang-barangnya dari dalam pasar ke lokasi yang dianggap aman.
Kebakaran ini melanda sebuah rumah toko (ruko) yang berada di kompleks pasar grosir terbesar di Makassar ini. Toko Ardila yang berada dala lingkungan Pasar Butung itu milik Yudi.
Tak lama berselang terdengar raungan suara sirine. Armada dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar tiba di lokasi.
Personel pemadam berjibaku memadamkan api. Setengah jam kemudian kobaran api berhasil dijinakkan, sebelum menjalar ke tempat lain. Namun, upaya pemadaman masih terus dilakukan, karena bara api dikhawatirkan terpendam di tumpukan kain-kain yang terbakar.
Yudi hanya bisa pasrah melihat tempat usaha dan sebagian isinya dilalap api. Usai api dipadamkan, ia bersama para karyawannya tampak mengamankan barang dagangan yang masih bisa diselamatkan.
“Kita amankan saja yang masih bisa diselamatkan. Kita taruh semua di bawah dulu,” kata Yudi sambil menunjuk tempat parkiran pasar.
Yudi sedikit beruntung. Karena ruko miliknya hanya terbakar di lantai 2 dan 3. Lantai 1 masih terlihat utuh, sehingga masih banyak barang dagangan yang bisa diselamatkan. Namun segala perabot rumah dan berbagai bahan busa dagangannya yang ia letakkan di lantai 2, habis tak tersisa.
Belum diketahui penyebab kebakaran. Yudi sendiri menaksir jika kerugian yang ia alami mencapai Rp2,5 miliar. Untuk ke depannya, Yudi belum memiliki rencana tindakan apapun terkait kerugian yang ia alami. “Ndak taupi mauka apa. Saya selamatkanmi saja dulu barang-barangku yang masih ada,” ujarnya dengan nada lemah.
Saat kebakaran terjadi, Yudi dan karyawannya tengah beraktifitas melayani pembeli. Toko ini menjual sepresi dan karpet. Lantai satu dijadikan tempat berjualan. Sementara lantai dua dan tiga menyimpan barang. Tidak ada dapur serta pemakaian listrik, kecuali untuk penarangan lampu.
Salah seorang pedagang yang berada di lantai empat Pasar Butung, Tina menuturkan, informasi yang diterimanya, kebakaran diduga karena genset meledak. Karena sedang berada di luar ketika kebakaran terjadi, Tina tak sempat mengeluarkan barang-barang dari tempat jualannya.
Begitu mendengar informasi jika Pasar Butung terbakar, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo yang ada di kantor gubernur langsung bergegas menuju ke lokasi. Di sana, orang nomor satunya Sulsel itu bersama-sama Wakil Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal dan Sekkot Makassar, Ibrahim Saleh menuju ke lantai teratas (roof) untuk memantau kebakaran.
Saat tiba di lokasi kebakaran, api sudah berhasil dijinakkan.
Sebelum naik ke lantai teratas, Syahrul menuju ke pusat informasi Pasar Butung. Melalui pengeras suara, dia menyampaikan jika api sudah padam. Masyarakat, khususnya para pedagang dan pembeli diimbau tidak panik dan sudah bisa beraktifitas seperti biasa.
“Tidak perlu panik. Api sudah berhasil dipadamkan. Masyarakat dan pedagang bisa beraktifitas seperti biasa, ” katanya.
Setelah itu, Syahrul bersama wawali naik ke lantai teratas melihat kondisi ruko yang terbakar. Api sudah padam, namun masih ada asap hitam yang mengepul keluar dari ruko yang terbakar.
Kepala Dinas Damkar Kota Makassar, Imran Samad mengatakan api bisa dikuasai setelah kurang lebih satu jam. Sebab ada api-api kecil dari bahan yang mudah terbakar, seperti kain, spon dan bahan tekstil.
”Jendelanya pakai teralis besi. Jadi terpaksa kami masuk dari dalam,” kata Imran.
Proses pemadaman melibatkan 60 personel dengan 36 unit damkar. ”Kita siram pakai busa. Kain-kain yang terbakar dimulai dari lantai dua. Kami blokade api biar tidak meluas. Beruntung titik apinya cepat kita temukan, sehingga tidak menjalar ke tempat lain,” terang Imran lagi.
Kepala Pasar Butung, Muhammad Sahid menjelaskan, Toko Ardila berada di deretan ruko tapi masuk dalam kawasan Pasar Butung. Ruko ini berlantai tiga.
Di Pasar Butung terdapat 23 petak ruko. Ada 232 kios di lantai satu, 265 kios di lantai dua, dan 239 kios di lantai tiga. Sementara di lantai empat ada 138 kios. Pengelolaannya dilakukan oleh Koperasi Bina Duta selama 25 tahun, sejak 1998. (nug-jun-rhm/rus)

BULAN suci ramadan dimaknai sebagai bulan penuh rahmat dan ampunan. Karenanya, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset (BPKA) Kota Makassar, Erwin Syarifuddin Haiyya tidak ingin melalui bulan ramadan 1438 H begitu saja tanpa melakukan perbuatan yang baik untuk meraih amal serta pahala.

Laporan: Arif Alqadry

KESIBUKAN Erwin mendampingi wali kota Makassar beraktifitas dan menyelesaikan segala tugas-tugas keuangan, tidak membuatnya lalai melaksanakan kewajiban. Salat dan tadarrusan di kantor menjadi cara agar tetap dapat memaksimalkan ibadah di bulan suci ramadan.
“Kewajiban tidak hanya dijalankan saat ramadan. Di luar ramadan tetap harus memperhatikan apa yang menjadi kewajiban kita selaku umat Islam,” ujarnya.
Di bulan penuh berkah ini, Erwin mengisinya dengan berbagai amaliah ramadan. ”Kalau sedang istirahat, saya biasa mengisinya dengan tadarus dan zikir. Supaya waktu tidak terbuang sia-sia,” katanya.
Berkumpul keluarga dan bersantap sahur bersama menjadi momen yang begitu sangat dinanti-nantikan. Bahkan menjadi penyemangat untuk menjalankan ibadah puasa.
Mengawali puasa, dia menyebut tidak memiliki menu khusus. Cukup apa yang disajikan di atas meja makan oleh sang istri, itulah yang dia makan. Tidak lupa berniat agar puasanya dapat awet dan berkah.
Meskipun waktu untuk berkumpul bersama keluarga minim, atau lebih banyak dihabiskan di luar rumah dengan bekerja, namun istri dan anak-anaknya selalu memberikan dukungan terhadap apa yang selama ini dilakukan Erwin.
“Di hari biasa memang waktu padat. Tapi di bulan ramadan ini saya bisa kumpul bersama keluarga untuk sahur. Kalau menu khusus, tidak adaji. Apa yang ada di atas meja itu yang kita makan. Kalau buka dan pas masih ada kerjaan, biasa itu buka diluar saja. Menunya tetap yang sederhana saja,” tandasnya. (*/rus)