pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

DI dunia disc jockey (DJ) Kota Makassar, nama Rari A Wijaya sudah tidak asing lagi. Ketika tampil dalam sebuah even yang rata-rata outdoor, ia mampu menghipnotis para pengunjung.
Bagi cewek yang akrab disapa Rari ini, kemampuannya menjadi DJ tidak diperoleh begitu saja. Selain memang senang dengan musik, ditambah hobinya yang suka manyanyi, ia juga menambah wawasan dan pengetahuan tentang DJ melalui sekolah khusus. Pendidikan itu ditempuhnya selama setahun, yakni pada medio 20090-2010.
Sebenarnya, di usia 15 tahun, Rari yang lahir di Makassar, 12 Maret 1988 belum punya kemampuan apa-apa untuk menjadi DJ. Ketika duduk di bangku kuliah Universitas Fajar (Unifa), Rari mulai suka dengan dunia DJ. Sejak saat itulah ia tertarik untuk menggelutinya, hingga akhirnya memutuskan mengikuti sekolah khusus DJ.
”Dulu sama sekali tidak punya kemampuan jadi DJ. Keluarga saya juga tidak ada yang punya keterampilan sebagai DJ. Saya dapat ini setelah ikut sekolah DJ selama setahun. Dari situ saya mendapat cukup banyak pengetahuan tentang cara bermain DJ. Apalagi saya orangnya kan suka nyanyi dan mendengar musik RnB,” akunya.
Memiliki body yang seksi, ditambah kepiawaian memainkan musik di atas panggung pada saat even, tentu Rari selalu menjadi sorotan mata bagi kaum pria. Tidak jarang, saat tampil memainkan lagu yang cukup hot, dia mendapat pesan untuk berkenalan dengan pria yang sudah cukup lama menunggu dia selesai tampil.
Selain itu, ia juga mengaku sering disodori minuman keras dari pengunjung atau tamu yang tertarik melihat aksinya di atas panggung.
“Tidak jarang saat tampil, suka disodorkan minuman keras. Mau tidak mau saya cicipi, tapi cuman sedikit. Kalau untuk colak colek, kayaknya belum pernah,” kata Rari sambil tertawa sumringah.
Sedikit mengenang masa lalu, Rari mengaku pertama kali tampil menghibur sebagai DJ di Makassar. Disaksikan oleh ratusan penonton ketika itu, ia mengaku sedikit grogi.
Sepertinya, Rari sudah mulai menemukan apa yang dicarinya di dunia DJ. Tidak salah jika kemudian dia memilih fokus untuk menggelutinya.
Untuk lokasi tampilnya, Rari lebih memilih yang outdoor. Ia tidak ingin menerima tawaran bermain dengan honor bulanan yang terikat pada satu tempat.
Pilihan itu cukup beralasan. Sebab untuk sekali tampil outdoor, Rari bisa mendapatkan honor yang cukup lumayan. Besarannya berada pada kisaran Rp2,5 juta hingga Rp3 juta. Tergantung dari evennya.
”Kebanyakan tampilnya di even-even. Karena selesai tampil langsung dapat honor. Beda kalau kita terikat di satu tempat, sebulan main, sebulan juga honornya baru keluar. Saya mau yang cepat,” akunya.
Rari juga menceritakan kisah yang pernah dialaminya. Sejak menggeluti DJ, pernah satu kali ia tertipu oleh salah satu EO (Event Organizer) yang ada di Makassar.
Saat itu dia nampil menghibur ratusan masyarakat Kota Makassar dalam sebuah acara olahraga pagi. Usai tampil, EO yang mengajaknya bekerja sama pergi dan menghilang begitu saja tanpa menitip sepersenpun honornya.
Tanpa berpikir lama, dia mencari EO tersebut, baik di kantor ataupun di rumahnya. Namun, upaya untuk mendapatkan haknya tidak membuahkan hasil. Dia mengaku tidak bertemu EO tersebut.
Menghitung kerugian sebesar Rp2,5 juta, dia bersama rekannya memutuskan untuk berhenti mencari EO tersebut. Kejadian itupun dijadikan sebagai pelajaran paling berharga.
Kesuksesan Rari merengkuh hasil dari dunia hiburan sebagai DJ, mendapat dukungan penuh dari kedua orangtuanya. Namun mereka selalu menyelipkan pesan kepada buah hatinya itu untuk selalu berhati-hati dalam bekerja. Apalagi saat tampil di luar daerah.
“Saya sering main ke luar daerah seperti Bone, Sinjai, Palu Gorontalo, Medan, Kendari dan Yogya. Kalau saya keluar daerah, orang tua selalu ingatkan untuk berhati-hati,” ujarnya. (arf/rus)

MAKASSAR, BKM — Sebanyak delapan anak baru gede (ABG) diciduk aparat Polsek Rappocini. Mereka diamankan dari sebuah perkampungan kumuh di Jalan Hertasning Baru.
Delapan remaja yang diduga kawanan begal ini diringkus Tim Reskrim Polsek Rappocini dalam sebuah operasi, Minggu dinihari (29/5) pukul 02.15 Wita.
Sebelumnya, polisi sempat terlibat kejar-kejaran dengan para pelaku. Bahkan kelompok remaja tersebut sempat melakukan perlawanan.
Bermula ketika salah seorang anggota Resmob Unit Reskrim Polsek Rappocini, Bripka Umar Zulkarnaen terlibat aksi kejar-kejaran dengan kawanan begal yang berboncengan motor membawa senjata samurai, parang dan busur.
Saat dikejar, salah seorang diantaranya langsung menghunus samurainya. Namun Umar tidak kendor. Ia berusaha mencoba menghentikan pelaku dengan cara persuasif.
”Saya mencoba mengejarnya karena melihat gelagatnya yang mencurigakan. Saat coba dihentikan, salah satu dari mereka menghunus samurai. Setelah mengetahui saya polisi, mereka langsung tancap gas,” ujar Bripka Umar Zulkarnaen.
Ternyata, saat itu ada beberapa rekan lain pelaku yang juga tengah berkendara. Saat pengejaran dilakukan polisi, sebagian diantaranya langsung kabur mengarah ke Jalan AP Petta Rani. Sementara sebagian lainnya masuk ke dalam lahan yang dijadikan perkampungan kumuh.
Dantim Resmob Unit Reskrim Polsek Rappocini, Aiptu Budisman Nur yang ikut melakukan pengejaran, akhirnya berhasil mengamankan delapan ABG. Saat diinterogasi di lokasi penggerebekan, salah seorang mengaku kabur dari kejaran petugas dan mengenali rekannya yang bersenjata samurai tersebut. Diduga kuat, mereka yang diamankan merupakan komplotan begal yang selama ini meresahkan warga Kota Makassar.
“Di rumah yang dijadikan markas, ada sekitar puluhan anak di bawah umur berkumpul. Ada juga bekas obat daftar G yang terbungkus saset, tapi sudah hancur bercampur tanah. Selain itu ditemukan beberapa kaleng lem fox yang kerap diisap para pelaku sebelum beraksi. Kami hanya menyita sejumlah anak panah milik salah seorang ABG yang diamankan,” jelas Aiptu Budisman Nur.
Mereka yang diamankan masing-masing Sur (17) warga Jalan Hertasning Baru, Dim (17), warga belakang pasar Jalan Hertasning Baru, MF (14) warga Jalan Sultan Alauddin 1, Yusri (20) warga Jalan Hertasning Baru, Alf (15) warga belakangan pasar Jalan Hertasning Baru, Rk (15) warga Jalan Hertasning Baru, Ris (14) dan Risal (18), keduanya warga jalan Hertasning Baru.
Selain mengamankan delapan ABG itu, petugas juga menyita sejumlah anak panah dan sebilah badik yang ditemukan di salah satu rumah saat dilakukan penggeledahan di lokasi tempat mereka mangkal.
Kapolsek Rappocini, Kompol Muari membenarkan penangkapan ke delapan remaja tersebut. ”Salah seorang anggota Resmob Unit Reskrim, Bripka Umar Zulkarnaen sempat terlibat aksi kejar-kejaran dengan kawanan begal yang berboncengan motor bersenjata samurai, parang dan busur. Saat itu mereka diminta secara persuasif untuk berhenti. Tapi malah menghunuskan samurai terhadap anggota kami. Anggota terus melakukan tindakan persuasif,” terang Muari.
Kapolsek memperkirakan, jumlah komplotan ini mencapai puluhan orang. Identitas mereka telah dikantongi. Polisi masih melakukan pengejaran. (ish/rus)
BKM/ISHAK
PELAKU BEGAL-Delapan remaja yang diduga pelaku begal dibekuk aparat Polsek Rappocini di kawasan perkampungan kumuh Jalan Hertasning Baru, Minggu dinihari (29/5).

ROAD To Jambore Nasional (Jamnas) ke-10 Kawasaki Ninja Indonesia (KNI) ke-10 berlangsung di Pantai Festival Ancol, Jakarta, Sabtu (28/5). Aneka keseruan berlangsung dalam even ini. Bahkan menorehkan sejarah baru.

Laporan: Purmadi
dari Jakarta

PANTAI Festival Ancol Jakarta menjadi saksi sejarah atas pencapaian yang diraih KNI. Tempat berkumpulnya para pecinta motor wasaki Ninja itu menjadi satu-satunya club motor terbesar di Indonesia saat ini.
Betapa tidak, target Museum Rekor Indoensia (MuRI) yang semula 4.000 peserta riding Road To Jamnas ke-10 ini, berhasil mencatat 4.786 biker yang berhasil register bersama tunggangannya.
Melalui Jamnas ini pula, KNI yang genap berusia satu dekade berhasil melampaui rekor yang sebelumnya dipegang komunitas merek biker Yamaha yang hanya mencapai angkat 2.000.
Pendiri KNI, Bro Irwan menjelaskan, ribuan biker dari seluruh nusantara hadir membanjiri Ancol sebagai pusat digelarnya Jamnas ke-10, yang berlangsung 28-29 Mei 2016.
“Wadah klub motor di bawah bendera KNI ada 20 regional/provinsi di seluruh Indonesia. Alhamdulillah, target dari MuRI berhasil kita pecahkan sebagai wadah komunitas motor terbesar di Indonesia. Kita berhasil meregistrasi 4.700 biker dan motornya. Khusus untuk register Jamnas ke-10 ini, keseluruhannya mencapai 7.650 biker,” kata Bro Irwan yang ditemui di lokasi acara di Jakarta, Sabtu malam (28/5).
Menurutnya, sebagai wadah yang mempersatukan para biker berlisensi Kawasaki, KNI mengedepankan brotherhood no limit, persaudaraan tanpa batas.
“KNI merupakan wadah kesatuan komunikasi klub dan komunitas Kawasaki Ninja Bikers se-Indonesia. Suatu forum kaum muda yang terdiri dari para profesional, dan intelektual yang sadar dan percaya bahwa solidaritas antara sesama rider dapat dibangun tanpa batas waktu dan ruang, tanpa hambatan tatap muka,” katanya.
Sementara itu, dari Munas (Musyawarah Nasional) di Ancol yang diikuti 18 pengurus Regional KNI yang tersebar 33 provinsi, menghasilkan keputusan mempercayakan Sulsel untuk pelaksanaan Jamnas berikutnya pada tahun 2017 mendatang.
“Ada 17 suara dari 20 pengurus regional sepakat memilih riding Jamnas ke-Regional II Sulawesi Selatan (Sulsel). Tadinya dua region mengajukan tuan rumah Jamnas ke-11, yakni Jawa Timur dan Sulsel. Sementara voting Munas yang abstain tidak hadir adalah regional Gorontalo dan Bangka Belitung (Babel). Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan semoga Sulsel siap menjamu rekan-rekan KNI se-nusantara yang riding ke Makassar,” tandas Bro Irwan.
Menanggapi keputusan itu, Ketua Region II Sulsel, Bro Kiswanroro mengaku, sudah sejak awal pihaknya siap menjadi tuan rumah Jamnas ke-11. “Pengurus masing-masing regional untuk wilayah Sulawesi sepakat mempercayakan Makassar tuan rumah. Untuk itu, Sulsel sudah siap menjadi tuan rumah tahun depan,” kata Bro Toro, sapaan akrab Kiswantoro.
Sebagai bahan referensi, kata Toro, Stadion Karebosi disiapkan sebagi pusat pagelaran Jamnas ke-11 nanti. Adapun riding road wisata itu, peserta Jamnas yang riding itu ditawarkan wisata ke Toraja dengan melintasi beberapa kabupaten dan Kota.
Total rute itu mencapai 1.000 kilometer dengan melintasi Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Sidrap, Enrekang, Toraja, Palopo, Bone, Sinjai, Bulukumba, Takalar, Jenepontor, Gowa hingga finish kembali di Makassar. ”Total perjalanan 3 hari/malam,” tambah Bro Toro.
Region II Sulsel berharap, kata Toro, kegiatan jamnas ke-11 bisa berhasil dan sukses, dengan target riding register 7.000 peserta yang hadir di Makassar nantinya.
Pada malam pembukaan Jamnas ke-10 di Ancol, dimeriahkan band Jamrud asal Surabaya, yang dimotori Azis MS (gitar) dan Krisanto (vokalis) dan Benni (Bass). Acara ditutup freestyle, pengundian doorprise dan penyerahan sertifak penghargaan kepada seluruh pengurus region/provinsi yang hadir. (*/rus)

MAKASSAR, BKM — Angka pelanggaran lalulintas di wilayah hukum Polda Sulselbar tergolong masih tinggi. Indikasinya, selama berlangsung Operasi Patuh 2016, tercatat sebanyak 5.779 sepeda motor yang terjaring. Angka itu naik sebanyak 125 persen dibanding tahun 2015 yang hanya mencapai 2.567 unit.
Untuk profesi para pelanggar lalulintas itu, didominasi pekerja swasta. Jumlahnya sebanyak 3.838 orang. Sementara tahun 2015 1.719, atau naik hingga 123 persen.
”Pada Operasi Patuh tahun 2016 ini pelaku pelanggaran sebanyak 7.160. Sementara di tahun 2015 hanya 3.450. Naik 107 persen,” ungkap Kepala Bidang Humas Polda Sulselbar, Kombes Pol Frans Barung Mangera, kemarin.
Diakui Frans Barung, pihak kepolisian terus berupaya untuk menekan kerawanan lakalantas, khususnya di area keramaian. Meski begitu, tetap saja terjadi peningkatan hingga 1,5 persen.
”Ada peningkatan 1,5 persen pada area keramaian dan rawan lakalantas. Untuk Operasi Patuh 2016 ini sebanyak 659 kali, sementara tahun lalu hanya 649 kali,” tambah Frans Barung.
Adapun angka kecelakaan yang terjadi pada Operasi Patuh 2016 ini, terdapat 51 kasus. Jumlah itu menurun satu kasus dibanding tahun lalu yang jumlahnya 52 kasus.
Dalam kasus kecelakaan ini ada tujuh orang yang meninggal dunia. Jumlah itu mengalami penurunan dibanding tahun 2015 lalu, dimana ada 14 orang yang meninggal.
Sementara yang luka sebanyak 57 orang tahun ini, sementara tahun lalu sebanyak 60 orang. Kerugian materil tahun ini sebesar Rp84.650.000, mengalami penurunan signifikan dibanding tahun lalu yang mencapai angka Rp290.800.000. (ish/rus)

TIDAK mudah bagi seseorang menyandang predikat sebagai supporter fanatik sebuah klub sepakbola. Dibutuhkan komitmen dan konsistensi dalam mewujudkannya. Dan Daeng Uki mampu membuktikannya.

Laporan: Arif Al Qadri

Daeng Uki, Panglima Laskar Ayam Jantan PSM (1)
NAMA lengkapnya Uki Nugraha. Namun di kalangan supporter PSM Makassar, ia lebih dikenal dengan sebutan Daeng Uki.
Naik di atas pagar stadion sambil bernyanyi. Gaya rambut punk tanpa mengenakan baju. Itu hanya sebagian aksi yang selalu ditunjukkan Daeng Uki ketika kesebelasan jagoannya, PSM berlaga.
Tidak salah jika kemudian Daeng Uki membentuk kelompok supporter yang diberi nama Laskar Ayam Jantan (LAJ) PSM Makassar. Uki kemudian menjadi panglimanya.
Kecintaannya pada dunia sepakbola ditunjukkan Daeng Uki sejak masih usia 20 tahun. Sebagai seorang supporter fanatik, keberadaan Daeng Uki selalu dicari.
Ketika menyaksikan pertandingan PSM Makassar, baik secara langsung maupun disiarkan melalui televisi, sosok Daeng Uki menjadi salah satu yang mendapat sorotan. Karena saat menonton, emosinya kadang meluap-luap. Hal itu ditunjukkannya dengan berteriak ketika seorang pemain mencetak gol.
Inisiatif Daeng Uki membentuk LAJ bermula ketika dia menyaksikan pertandingan PSM Makassar melalui televisi. Saat itu dia melihat peran supporter sangat berpengaruh terhadap para pemain. Utamanya dalam memberikan semangat melalui teriakan, nyanyian dan kekompakan lainnya.
Di awal tahun 2010 lalu, bapak dua anak inipun mendirikan LAJ. Enam tahun terbentuk, selama itu pula Daeng Uki menjadi panglimanya.
Dulu, supporter yang masuk dan bergabung di LAJ tergolong masih sangat minim. Namun seiring perjalanan waktu, kini LAJ telah memiliki ratusan anggota dari kalangan supporter. Umur mereka bervariasi. Ada yang remaja, dan sebagian lainnya sudah dewasa. Selain pria, di LAJ juga bergabung supporter wanita.
Diakui Daeng Uki, selama LAJ terbentuk, dirinya sama sekali tidak pernah membuka pendaftaran untuk bergabung. Karenanya, mereka yang masuk menjadi anggota LAJ adalah orang yang benar-benar cinta dan loyal memberikan dukungannya terhadap PSM.
“Saya tidak pernah merekrut anggota. Saya hanya menerima orang yang benar-benar cinta dan mendukung PSM Makassar dengan kondisi apa adanya. Anggota LAJ tidak semuanya laki-laki, tapi ada juga perempuan. Mereka semua adalah pendukung PSM Makassar,” jelas Daeng Uki.
Menjaga kekompakan dengan satu tujuan, yaitu memberikan dukungan kepada PSM Makassar, itulah yang sering ditanamkan Daeng Uki kepada seluruh anggotanya. Meski mengaku sama sekali tidak mendapat upah dari pihak PSM Makassar menjadi Panglima LAJ, tapi dia sudah bangga bisa diberikan kesempatan untuk memberikan dukungan kepada PSM saat bertanding.
Menjadi panglima supporter dengan memiliki ratusan anggota,bukan berarti LAJ gratis masuk dalam stadion. Pada setiap pertandingan, para anggota LAJ tetap harus mengantongi tiket masuk menyaksikan pertandingan PSM Makassar di stadion.
Tidak jarang juga, dia terpaksa menombok uang anggotanya ketika kekurangan, baik untuk membeli tiket ataupun minuman saat berada di lapangan.
“Saya tidak dapat apa-apa menjadi seperti ini. Tapi saya senang dan bangga karena bisa memberikan dukungan terhadap Tim Juku Eja. Biasanya, pada setiap pertandingan saya harus mengeluarkan uang pribadi sekitar Rp300 ribu untuk kebutuhan apa saja. Seperti menambahi uang beli tiket anggota atau uang minuman mereka ketika di lapangan,” terangnya. (*/rus)