pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

MAKASSAR, BKM — Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) membuka Pertemuan Saudagar Bugis-Makassar (PSBM) ke-XVIII di Hotel Clarion, Minggu (24/6). Acara itu bertabur tokoh penting. Termasuk empat calon gubernur (cagub) yang diundang secara khusus.
Mereka adalah cagub nomor urut 1 Nurdin Halid. Nomor urut 2 Agus Arifin Nu’mang. Nomor 3 Nurdin Abdullah, dan cagub nomor 4 Ichsan Yasin Limpo. Keempatnya duduk satu meja di hajatan besar tersebut. Semuanya terlihat akrab. Saling berbincang dan bercanda satu sama lain.
Dihadapan seribuan lebih tamu dan undangan PSBM, JK memperkenalkan para cagub yang bertarung di pilgub 27 Juli mendatang. Keempatnya bahkan diminta naik ke atas panggung.
“Inimi calon pemimpin anda nanti,” kata JK yang disambut riuh tepuk tangan.
Orang nomor dua Indonesia itu mengajak saudagar yang memiliki KTP Sulsel untuk menyalurkan hak pilihnya pada hari pencoblosan nanti.
Sementara kepada keempat calon, JK bertanya apakah mereka siap untuk membangun Sulsel? Keempat calon secara kompak mengatakan; siap yang lagi-lagi disambut tepuk tangan ribuan peserta.
JK berharap siapapun yang terpilih nantinya, harus bisa membangun dan menjadikan Sulsel lebih baik. Terkhusus bisa memberikan dorongan semangat kepada para saudagar Bugis Makassar.
Wapres dalam arahannya menyampaikan, dalam 18 kali perhelatan PSBM, 17 kali dibukanya secara langsung. Acara pertama dibuka oleh Jenderal TNI (Purn) Andi Muhammad Jusuf.
“Kenapa pertemuan ini berlanjut hingga 18 kali dan masih eksis hingga sekarang? Karena digelar satu minggu setelah lebaran. Warga Sulsel selalu mudik setelah lebaran. Mereka perlu datang dan datangnya tanpa ongkos, ongkosnya mudik dan hasilnya pertemuan ini,” kata JK.
Dia menyampaikan, para saudagar perlu menjaga jaringan, semangat dan sinergi. Modal pertama dari saudagar adalah semangat.
“Memang ada semangat, ada risiko di perantauan. Kalau merantau itu orang yang berani dan kuat. Hanya orang berani dan kuat mau bertarung tanpa modal,” tandasnya.
Yang penting dalam acara ini, lanjut JK, adalah berbagi pengalaman dengan cerita-cerita sukses guna memberikan motivasi.
Menurut JK, hadirnya pengusaha begitu penting. Karena bangsa Indonesia dibangun oleh dua unsur, yakni pemerintah dan pengusaha. Selain hadir pemerintah yang baik, juga hadir pengusaha yang baik.
“Pertemuan ini sinergi pengalaman. Karena ada ungkapan, guru yang terbaik adalah pengelaman,” sebutnya.
Modal orang Bugis-Makassar itu keberaniannya dan juga akal yang dimiliki. Dia memberikan contoh seperti Cina, yang membangun adalah para diasporanya. Sulsel dibangun dari para perantau. Selain membangun daerah tempat perantauan, juga berefek ke Sulsel.

Soni Senyum 90 Persen

Penjabat (Pj) Gubernur Sulsel Sumarsono menyambut seluruh peserta. Termasuk keempat calon gubernur yang hadir.
“Saya hormati keempat calon gubernur hadir bersama-sama. Itu tandanya 90 persen pilkada Sulsel akan aman, nyaman dan damai. Selama memimpin Sulsel, saya selalu tersenyum 90 persen. Karena semuanya dewasa. Dibanding saya jadi gubernur di Jakarta. Saya stres,” sebutnya yang disambut tawa para peserta.
Dengan mengenakan seragam berwarna jingga dan putih serta songkok to Bone yang didominasi warna emas, Soni merasa bagian dari masyarakat Sulsel. Dia berterima kasih atas penerimaan warga Sulsel yang hangat. Termasuk atas pemberian penghargaan dan gelar kepadanya. Baik gelar dan penyematan nama Karaeng Jarre dan La Paturusi Daeng Manrapi. Termasuk sebagai anggota dewan penyantun KKSS.
Soni menyampaikan pengalamannya menemukan kehidupan religius, budaya dan sosial di Sulsel yang berjalan harmonis.
Khusus mengenai pilkada Sulsel, dia berharap bisa berjalan lancar dan menggembirakan sesuai harapan.
“Hari ini kita tetapkan di seluruh daerah di Sulsel masuk zona hijau,” tegasnya.
Ketua Panitia PSBM ke-XVIII Andi Rukman N Karumpa, berharap PSBM mampu menjadi motivasi untuk melahirkan saudagar-saudagar baru seperti Jusuf Kalla, Alwi Hamu, dan Aksa Mahmud.
HM Sattar Taba selaku Ketua Umum BPP KKSS berharap PSBM bisa tetap berjalan dan memberikan karya nyata untuk Indonesia, khususnya Sulsel.
Pada kesempatan itu, diserahkan penghargaan berupa lifetime achievement bagi penggagas PSBM. Masing-masing kepada HM Jusuf Kalla, Aksa Mahmud dan Alwi Hamu. Ketiga sahabat itu diberikan lukisan kapal Phinisi.
PSBM ke-XVIII diisi dengan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah diskusi dan dialog. Di antaranya mengangkat tema pentingnya pemerintah pusat bersinergi bersama saudagar.
Dimoderatori Andi Rukman N Karumpa, bertindak selaku narasumber Wakapolri Komjen Pol Syafruddin, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Sosial Idrus Marham, CEO Bosowa Group Erwin Aksa, dan CEO Bali Maspintjinra.
Dialog sesi kedua mengangkat tema pentingnya pemerintah daerah bersinergi bersama saudagar dengan moderator Ibnu Munsir dan Mansyur Achmad. Narasumbernya Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo Said, Plt Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud, CEO Petro Perkasa Indonesia Gafur Mas’ud, Bupati Lingga Alias Wello dan CEO Andalan Group Budi Harta Winata.
Hadir juga pada acara itu, Ketua DPD Oesman Sapta Oddang, Gubernur Sulawesi Selatan periode 2008-2018 Syahrul Yasin Limpo (SYL), Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen Agus Surya Bakti dan Kapolda Sulsel Irjen Pol Umar Septono. Ketua Kadin Sulsel Zulkarnain Arif, Forkopimda Sulsel dan Muspida se-Sulsel, serta wali kota dan bupati se-Sulsel juga hadir.
Sebanyak 1.800 peserta hadir dari berbagai daerah, baik dalam maupun luar negeri seperti, Amerika Serikat (New York dan Washington), Mesir, Australia, Malaysia (Kuala Lumpur dan Johor), Korea Selatan, Prancis, dan Singapura. (rhm/rus)

MAKASSAR, BKM — Pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1439 Hijriah jatuh pada hari Kamis (17/5). Sebelumnya, Muhammadiyah menetapkan jadwal yang sama. Itu artinya, awal puasa dilaksanakan di hari yang sama.
Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulsel telah melakukan pemantauan serta peneropongan hilal, Selasa sore (15/5) pukul 17.53 Wita. Dari atas gedung Mal Global Trade Center (GTC) Jalan Metro Tanjung Bunga, Kota Makassar, posisi matahari dan bulan masih berjarak 11 derajat, dan masih berada dalam posisi di bawah minus 0 derajat. Sehingga hilal yang menandakan jatuhnya 1 Ramadan belum terlihat melalui teropong.
”Dari tadi kita telah melakukan pemantauan. Hilalnya belum nampak dan terlihat,” ujar Kepala BMKG Wilayah Makassar A Fachri Radjab, kemarin.
Menurut hasil pengamatan, kata Fachri, posisi bulan masih di bawah ufuk. Masih di bawah 0 derajat, minus 20 menit.
“Hasil perhitungan untuk hari ini memang belum terlihat. Kemungkinan besok (hari ini) kita masih akan melakukan pemantauan lagi. Mudah-mudahan besok hilal sudah bisa terlihat saat dilakukan pemantauan,” imbuhnya.
Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin di Jakarta, juga telah menyampaikan keputusan pemerintah terkait 1 Ramadan. Yaitu pada hari Kamis (17/5). ”Dengan demikian puasa 1 Ramadan akan kita mulai hari Kamis lusa (besok),” ujarnya. (mat/rus)

MAKASSAR, BKM — Syahrul Yasin Limpo (SYL) kini tak lagi menjabat gubernur Sulawesi Selatan. Sejumlah megaproyek tidak bisa rampung hingga akhir masa kepemimpinannya. Salah satunya Stadion Barombong. Bagaimana kabarnya kini?
Saat ini, tidak ada aktifitas berarti yang dilaksanakan di lokasi proyek. Usai softlauching oleh Syahrul Yasin Limpo di pengujung jabatannya, kontraktor tinggal menyempurnakan atau merampungkan pekerjaan. Dan itupun juga sudah selesai. Masa kontrak kerja sudah berakhir.
Pantauan BKM, Rabu (9/5), tak ada kegiatan pengerjaan yang berlangsung di lapangan. Padahal, masih sangat banyak fasilitas dan bagian stadion yang perlu diselesaikan.
Ternyata, pengerjaan proyek telah berhenti sejak bulan Maret lalu. Hal ini sesuai yang dikatakan seorang petugas security stadion yang ditemui BKM. Ia mengatakan, sejak Maret tak pernah melihat lagi ada orang yang bekerja membangun stadion.
“Saya tidak tahu kenapa berhenti. Orang berjenti bekerja sejak dari bulan tiga,” ucapnya, tanpa bersedia dituliskan jatidirinya.
Stadion memang telah tampak berdiri. Seluruh tribun yang dibangun pun sudah usai. Namun semuanya masih terlihat berupa bangunan beton. Lantai stadion, terutama di tribun utara, selatan, dan barat masih belum dipasangi ubin.
Atap stadion juga belum ditambah. Hanya di tribun timur saja yang sudah ada atapnya. Ketiga tribun lainnya sampai saat itu belum dipasangi atap.
Dari penjelasan security stadion, pengerjaan stadion masih akan dilanjutkan. Ia memperkirakan akan dimulai kembali bulan depan.
“Yang saya tahu masih ada rencana mau dilanjutkan pengerjaannya. Kayaknya bulan depan dilanjut lagi,” tambah Iwan.
Dihubungi terpisah, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Muhlis Mallajareng mengaku sudah menandatangani kontrak pada 7 Mei lalu. Kontrak ini untuk memulai pekerjaan pemasangan atap.
Ia mengklaim, pada 9 Mei, kontraktor Usaha Subur Sejahtera selaku pemenang tender juga sudah mulai kerja untuk persiapan pekerjaan fisik atap.
Hal itu berbeda dengan kenyataan di lapangan. BKM yang datang ke lokasi proyek pada 9 Mei, sama sekali tak ada kegiatan di sana.
Tahun ini, Dinas Pemuda dan Olahraga sudah melelang perampungan atap stadion. Ada 60 segmen yang akan dikerjakan tahun 2018 ini. Pagu anggaran yang disiapkan untuk pengerjaan fisik ini senilai Rp62,8 miliar.
Secara total, alokasi anggaran yang disiapkan untuk Stadion Barombong melalui APBD tahun ini sebesar Rp64,5 miliar. Selain penyelesaian atap, anggaran ini juga diperuntukkan bagi pengawasan dan manajemen pengelolaan.
Terkait pekerjaan tahun lalu, Muchlis menjelaskan, tribun utara-selatan progresnya sudah 100 persen. Demikian pula halnya tribun barat. Pihak kontraktor juga telah melakukan pembersihan bekas pengerjaan.
Selain pengerjaan tribun, tahun ini Pemprov Sulsel masih menunggu kepastian anggaran sebesar Rp9 miliar dari APBN. Anggaran ini akan digunakan untuk membenahi lapangan.
“Besok (hari ini) ada Musrembang, kami akan tanyakan kembali kepastiannya seperti apa,” kata Muchlis saat dihubungi, Kamis (10/5).
Sesuai dengan akumulasi perencanaan RPJMD 2013-2018 dengan pembangunan Stadion Barombong sebesar Rp330 miliar, realisasi sampai saat ini sebesar Rp266,5 miliar atau 80,68 persen.
Namun, tahun 2016 ada perubahan perencanaan dengan fokus diarahkan berstandar internasional, sehingga masih butuh dana secara optimal berkisar Rp225 miliar. (rhm/rus)

GOWA, BKM — Fakta baru terungkap dalam kematian anak umur di bawah lima tahun (balita) Abd Mufid. Selain digigit dan dicubit hingga lebam serta luka terbuka di sekujur tubuhnya, ia juga mengalami perundungan seksual. Yang melakukan perbuatan itu adalah ayah kandungnya Hasan Basri (29).
Warga Dusun Tabbusalaya, Desa Timbuseng, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa itu telah ditahan di Mapolres Gowa sejak Sabtu malam (5/5). Dengan mengenakan baju kaos tahanan berwarna oranye, ia dihadirkan dalam rilis kasus di mapolres, Senin siang (7/5).
Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga memberikan penjelasan kepada wartawan. Ia didampingi Kasubag Humas AKP Mangatas Tambunan.
Kapolres mengutip pengakuan tersangka, mengatakan bahwa Hasan Basri mencubiti sekujur tubuh anak semata wayangnya. Juga mengigit bibir dan pipi bocah malang itu.
Pengakuan terbaru dari tersangka yang sangat memiriskan. Ia bertindak sadis melakukan perundungan seksual terhadap korban yang disebut sexual harassment.
Antara perundungan seksual dan pelecehan seksual berbeda. Istilah ‘sexual harassment’ lebih tepat diartikan sebagai perundungan seksual, bukan pelecehan seksual.
Di dalam kamus, kata harassment artinya gangguan, godaan, usikan. Jadi sexual harassment artinya gangguan, godaan, usikan yang berkaitan dengan seks. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘rundung/merundung’ artinya mengganggu atau menyusahkan. Sedangkan kata ‘melecehkan’ artinya memandang rendah (tidak berharga), menghinakan, atau mengabaikan. Jadi terjemahan yang tepat untuk ‘sexual harassment’ adalah ‘perundungan seksual’.
Dalam praktik perundungan seksual yang dilakukan Hasan tergolong di luar nalar dan akal sehat. Ia menggunakan ranting bambu seukur jari kelingking orang dewasa, dan memasukkan ke dubur putranya yang baru berusia empat tahun tujuh bulan itu hingga terluka.
”Dari fakta yang ditemukan penyidik, ternyata banyak jejak luka di tubuh korban. Karena itu, sesaat setelah setelah kasus ditangani, kami langsung telusuri dan lakukan pendalaman. Dari pendalaman ini kami simpulkan, bahwa sesungguhnya Hasan Basri melakukan kekerasan secara berulang-ulang kepada anak kandungnya. Motifnya kesal atas perilaku korban sehingga pelaku melakukan sexual harassment,” beber Kapolres.
Sesuai hasil olah tubuh mayat korban, lanjut AKBP Shinto, penyidik menemukan luka pada bagian dubur (anus) korban. Luka itu akibat upaya perundungan seksual tersangka kepada darah dagingnya sendiri.
“Ini ranting bambu yang dipakai tersangka, dan kemudian dia melakukan penetrasi sendiri. Karena itu ini kami akan kembangkan. Masih banyak hal yang menjadi pemikiran penyidik. Termasuk kita masih mendalami kejiwaan tersangka,” jelas Kapolres, sambil menunjukkan barang bukti ranting bambu yang dipakai tersangka menganiaya anaknya secara seksual.
Sebelumnya, pada hari Minggu (6/5), polisi telah membawa Hasan Basri untuk menunjukkan lokasi tempat menganiaya anaknya. Sembari petugas juga mengumpulkan barang bukti.
Dijelaskan Kapolres, alibi yang disampaikan di awal-awal atas penyebab kematian korban, ternyata hanya karangan Hasan Basri. Pengakuan jika Mufid terjatuh dari motor saat tersangka mengerem mendadak, disampaikan sekadar untuk mengelabui.
”Semua hanya karangan tersangka. Seperti pengakuannya yang membawa anaknya jalan-jalan ke Pantai Losari. Ternyata, sejak Sabtu pagi hingga seharian lamanya, korban sudah dalam penguasaan tersangka. Anaknya disiksa di dua lokasi, yakni di rumah dan di tempat sepi tak jauh dari lapangan golf Pattallassang. Di sana korban disiksa sejak pagi hingga menjelang siang,” ulas Shinto.
Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), lanjut Kapolres, penyidik akan segera melakukan pengujian kesehatan psikologis terhadap tersangka. Langkah tersebut diambil dikarenakan banyaknya pengakuan Hasan Basti yang tidak masuk akal.
“Seluruh alibi yang dibuat tersangka termentahkan oleh prarekonstruksi. Apalagi tersangka juga mengakui jika baru beberapa minggu lalu dia melalukan kekerasan seksual pada anaknya itu. Bahkan tersangka mengakui bahwa luka di dubur anaknya adalah luka lama. Itu yang akan kami dalami. Istri tersangka juga sudah menyampaikan dukungannya kepada kami untuk memproses kasus ini sesuai proses hukum,” tandas Kapolres.

Tiga Bulan di RS Jiwa

Di tempat terpisah, warga di sekitar tempat tinggal Hasan Basri mengecam dan menyesalkan perbuatan tersangka. Bagaimana tidak, ia sampai tega menyiksa dan menganiaya anak kandungnya sendiri dengan cara keji.
”Kami minta, kalau nanti Hasan bebas, tidak usah dibawa pulang kembali ke kampung kami. Warga sangat trauma. Kami khawatir dengan anak-anak yang akan jadi korban. Apalagi kalau dia punya penyakit gangguan jiwa,” terang Nurdin (25), warga Timbuseng yang ditemui, kemarin.
Kekhawatiran yang melingkupi warga ini cukup beraalasan. Sebab, ternyata Hasan Basri sudah pernah dirawat selama tiga bulan di rumah sakit jiwa di Makassar.
“Iya, memang benar dia pernah dirawat di rumah sakit jiwa selama tiga bulan,” ungkap Nurdin.
Pascadirawat, tambah Nurdin, penyakit kejiwaan yang dialami Hasan Basri kerap kumat. Biasanya muncul di awal bulan pada setiap hari Jumat.
“Dia (Hasan Basri) juga pernah memukul bapaknya sendiri tanpa sebab. Saat itu alis bapaknya robek. Seorang iparnya juga mengalami hal yang sama. Istilah orang Makassar, bulang-bulangngangi (datang secara tiba-tiba) kalau sakit jiwanya muncul,” terang Nurdin.
Selama ini, Hasan Basri bekerja sebagai buruh harian. Penghasilannya tidaklah seberapa. Bersama keluarga kecilnya, ia tinggal di rumah yang lebih cocok disebut gubuk dengan ukuran 5×5 meter.
Sebelum menikahi Mutmainnah (21) tahun 2013 lalu, Hasan tinggal bersama kedua orang tuanya di dusun itu. Sampai kini kedua orangtuanya masih ada.
Abdullah Muin (73) dan Asmina (60), kedua orangtua Hasan Basri sangat menyesali perbuatan putranya itu. Abdullah memiliki dua anak. Hasan Basri anak sulung. Sementara anak keduanya bernama Bacce Kamama yang kini sudah meninggal.
“Iye, anak saya itu kadang lain-lain pikirannya. Kadang dia masuk ke pesantren kalau ada pengajian di pesantren dekat rumah. Bahkan rumah yang ditempati Hasan itu masih tanah milik pesantren,” ujar Abdullah.
Dia menjelaskan, Hasan menikah dengan Mutmainnah pada nikah massal tahun 2013 lalu. Selanjutnya mereka membangun rumah di dekat pesantren, yang tanahnya masih milik pesantren.
”Istrinya Hasan itu, dulu adalah anak yatim piatu yang diasuh oleh panti milik pesantren Darul Istiqamah. Setelah menikah, Mutmainnah tidak lagi tinggal dalam panti, tapi hidup bersama suaminya di rumahnya,” beber Abdullah Muin.
Ditanya soal perilaku Hasan dalam kesehariannya, Abdullah Muin mengaku tidak tahu menahu, sebab tidak lagi serumah dengannya.
“Saya tidak tahu menahu, karena lamami tidak serumahka,” ujar pria asal Kabupaten Sinjai, yang kemudian menetap di Desa Timbuseng.
Sementara itu, Mutmainnah kini tak lagi berada di kediamannya. Sejak jenazah putranya dimakamkan Minggu sore (6/5), ia memilih meninggalkan rumahnya.
”Iye, Mutmainnah sudah pulang ke Bone mencari keluarganya disana setelah pemakaman anaknya kemarin,” tambah Nurdin. (sar/rus)

”Dia Terlalu Dekat
Mamanya, Saya Sakit Hati”

SATU lagi pengakuan dituturkan Hasan Basri. Tanpa sungkan, tersangka pembunuhan terhadap anak kandungnya ini mengakui jika ia sakit hati hingga kesal dan menganiaya korban.
“Saya sakit hati karena dia sangat dekat sama mamanya. Dia tidak pernah mau dekat sama saya, padahal selalu kubelikan apa-apa,” tuturnya di Mapolres Gowa, kemarin.
Disesaki perasaan jengkel, Hasan kemudian pergi membawa anaknya Mufid ke tempat sepi di kawasan lapangan golf Pattallassang. Di sana itu kemudian melampiaskan kekesalannya.
Salah satunya dengan melakukan seksual harassment. Hasan memasukkan ranting bambu ke dalam dubur anaknya.
“Ituki, Pak… Saya sakit hati sama dia, karena tidak pernah mau dekat-dekat sama saya. Selalu sama mamanyanji. Kalau ada kubelikangi naambilji, tapi tidak mau dekat sama saya. Makanya, saya ngarang kalau saya bawa dia ke Pantai Losari jalan-jalan dan jatuh saat rem mendadak motor. Saya mengarang cerita begitu karena saya takut ketahuan,” ujarnya sambil menangis.
Hasan Basri mengaku sangat menyesali perbuatannya. Apalagi ketika Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga bertanya, kenapa ia tega menganiaya anak sendiri. Apalagi dengan modus menggigit bibir dan pipi korban serta memukulinya dengan tangan kosong. Termasuk menusuk dubur anaknya dengan ranting bambu seukuran jari kelingking orang dewasa.
“Saya menyesal, Pak. Saya meminta maaf kepada semuanya atas perbuatan saya,” kata Hasan Basri sambil menangis tertunduk di samping kapolres. (sar/rus)