Lelaki berusia 59 tahun ini adalah sosok ayah yang tidak pantang menyerah. Terik matahari yang menyengat kulit, tak menjadi halangannya untuk meneruskan pekerjaannya sebagai penjaga Monumen Korban 40000 jiwa.
Laporan: RHYRIN
Hanya mengenakan baju kaos lusuh dan celana pendek serta sepasang sendal jepit dalam menjalankan aktivitasnya menjaga monumen tersebut.
Zaenal Ropu atau yang lebih akrab dipanggil Dg.pali ini telah bekerja di Dinas Pertamanan sejak tahun 1977 sampai sekarang.
Dia merupakan Pegawai Harian Lepas (PHL) yang sampai sekarang belum terangkat.
“Saya telah bekerja kurang lebih 30 tahun tapi belum di angkat sebagai pegawai tetap,” ujarnya.
Disamping menjaga monumen, ia juga menjual bunga hias di depan gerbang monumen sebagai pekerjaan sampingan.
Setiap pengunjung yang datang untuk melihat monumen tidak dikenakan biaya alias gratis. Bahkan pihak pengelola monumen telah bekerjasama dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan untuk menyiapkan bibit tumbuhan yang akan ditanam didalam wilayah Kota Makassar.
“Tanaman didalam biasanya dipakai untuk penghijauan lorong atau jalan, tetapi jika ingin mengambil harus terlebih dahulu menyurat kebagian kantor Dinas Pertamanan dan Kebersihan,” ujarnya saat ditemui BKM, kemarin.
Kurang lebih 30 tahun ia menjalankan pekerjaan tersebut. Dia merupakan pegawai kontrak. Gaji yang dia dapatkan sebesar Rp1,7 juta. Tetapi gaji pokoknya hanya Rp500.000, selebihnya uang tunjangan serta lain-lain.
Ayah dari tiga anak tersebut, rupanya telah berhasil mendidik anak-anaknya dengan baik walaupun ia hanya sebagai penjaga Monumen. Dua dari anaknya telah terangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
“Saya merasa senang, walaupun saya bekerja seperti ini. Saya bisa membuat anak-anak saya mendapat pendidikan yang lebih tinggi dari saya,” tambahnya.
Dari hatinya yang paling dalam, dia juga ingin segera bisa terangkat menjadi PNS. (Rhiryn)

