MAKASSAR, BKM — Sehari setelah menggerebek kampung narkoba Sapiria, tim Satuan Narkoba Polda Sulsel kini mulai mengendus bandar besar yang jadi pemasok sabu-sabu serta ekstasi di Sapiria. Tiga puluh tujuh warga yang diamankan saat penggerebekan masih terus diperiksa intensif hingga, Kamis (3/9).
Dari hasil pemeriksaan polisi, omset transaksi sabu dan ineks, di Sapiria diperkirakan mencapai miliaran rupiah dalam kurun waktu tiga bulan.
Direktur Narkoba Polda Sulsel Kombes Pol Azis Jamaluddin yang dikonfirmasi BKM, Kamis (3/9) mengaku jika polisi terus mengembangkan kasus ini. Polisi ingin mencari siapa pemasok narkoba ke Sapiria. Dan asalnya dari daerah mana.
“Kami masih melakukan pengembangan. Sebanyak 37 warga yang kami amankan masih terus diperiksa. Hasil penyelidikan yang akan menentukan apakah mereka akan ditetapkan sebagai tersangka atau tidak,” tegas Azis.
Lebih jauh Azis mengungkapkan, masing-masing orang menjalani pemerisaan mendalam oleh polisi. Menurutnya ini penting untuk mendapatkan informasi secara detail.
“Tim kami sedang mendalami pemeriksaan. Selama enam hari ke depan, mereka baru bisa dipastikan apakah sebagai tersangka atau tidak,” tegas Azis.
Terpisah, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo sangat mengapresiasi kinerja Polda Sulsel dan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Selatan yang gencar melancarkan razia narkoba di Makassar. Khusus untuk Polda Sulsel, Syahrul mengaku salut karena bisa membongkar jaringan narkoba di Sapiria, Kecamatan Tallo yang selama ini dikenal sebagai lumbung narkoba Makassar.
“Kita apresiasi kinerja BNN dan Polda,” tegas Syahrul usai menghadiri rapat paripurna di DPRD Sulsel, Kamis (3/9).
Dia berharap di Sulsel khususnya Makassar tidak ada lagi wilayah yang jadi pusat peredaran narkoba.
Untuk selanjutnya, kata Syahrul, dia menyerahkan ke aparat berwajib untuk memproses hukum orang-orang yang terlibat dalam peredaran narkoba di Sapiria. Dia juga meminta aparat atau perangkat pemerintah mulai dari lurah dan camat bisa lebih intensif melakukan komunikasi dengan masyarakat.
Lurah Sering Penyuluhan
Lurah Lembo, Muhammad Ansar SE mengaku sering melakukan penyuluhan soal bahaya narkoba di Sapiria.
“Sejauh ini saya dan staf sering terjun ke lapangan melakukan kegiatan penyuluhan di wilayah Sapiria tentang bahaya narkoba,” ujar Ansar.
Ansar menambahkan, soal sejumlah warganya yang terjaring berbisnis narkoba, menurut dia itu wewenang kepolisian.
“Kami selaku pemerintah Kelurahan Lembo mengapresiasi kinerja kepolisian. Sudah sewajarnya selaku aparat mengambil sikap tegas memberantas pelaku penyalahgunaan narkoba agar di wilayah kita ini bersih dengan narkoba,”imbuhnya
Sementara itu, sehari pascapenggerebekan, suasana di Sapiria terlihat lengang. Sebagian warga terlibat perbincangan hangat soal aksi penggerebekan di wilayah itu. Beredar kabar, kalau informasi penggerebekan telah bocor sebelum polisi datang.
“Sebelum anggota polisi turun ke lokasi mereka terbaca. Barang bukti ada yang sudah diamankan,” kata seorang warga yang enggan disebutkan jatidirnya.
Seharunya, kata dia, saat polisi turun, mereka harus memblokade wilayah tiga lokasi itu yakni Sapiria, Bortak dan Bunga Ejayya Beru.
“Mereka merasakan tanda-tanda sebelum dilakukan penggerebekan karena warga mendengar ada suara helikopter yang keliling di lokasi itu dan bolak-balik. Mereka pun membaca situasi itu jika akan ada hal yang akan direncanakan polisi,” katanya.
“Bayangkan saja, anak kecil saja sudah jadi kurir. Mereka sudah merasakan uang besar,” tambahnya. (ish-rhm/cha/b)

