MAKASSAR, BKM–Hasil rapat Golkar Sulsel bersama Koordinator Daerah (Korda) Gowa Hoist Bachtiar menghasilkan sejumlah keputusan agar DPP Partai Golkar kubu Munas Bali, Aburizal Bakrie (ARB) tidak melakukan pemecatan bagi sejumlah kader hanya karena berbeda dukungan jelang Pemilukada 9 Desember mendatang.
Alasannya karena soliditas kader sangat dibutuhkan jelang Pemilu legislatif April 2019 nanti.
Diketahui, dari 11 daerah di Sulsel yang menggelar Pemilukada, ada sejumlah daerah dimana Golkar tidak mengusung, namun hanya mendukung. Khusus di Kabupaten Gowa, Golkar telah mengusung paslon Sjahrir Sjafruddin-Anwar Usman. Selanjutnya, DPP kubu ARB mengalihkan dukungan ke paslon Adnan Purichta Ichsan-Abd Rauf Krg Kio (AdnanKio).
Pengalihan dukungan membuat kader ditingkat bawag menjadi bingung. Bahkan diancam dipecat oleh Sekjen Idrus Marham dan Waketum Nurdin Halid. “Kader dibawah bingung kenapa mau dipecat, padahal mereka mendukung apa yang sudah diusung Golkar,”ujar Hoist, di gedung Tower DPRD Sulsel, Rabu (16/9).
Menurut Hois, harus diketahui bila dukungan ke Sjahrir-Anwar keluar dari dua kubu yang bersengketa melalui islah. “Untuk itu, saya sebagai Korda jangan ada pemecatan. Karena awalnya memang sudah dualisme. Tapi biarkan rakyat yang memilih,”jelasnya.
Legislator Sulsel empat periode ini mengingatkan DPP bahwa kalau ada pemecatan, maka golkar
2019 akan hancur. “Kita perlu kebersamaan. Kalau dibiarkan ada pemecatan maka akan pecah. Biarkanlah mereka dukung kader golkar, daripada mendukung diluar kader,”tuturnya.
Nurdin Halid yang dimintai tanggapan soal pernyataan Hoist, menilai bila Plt Ketua Golkar Jeneponto itu tidak mengerti organisasi dan AD/ART Partai. Dan sama sekali tidak paham perkembangan partai.
“Saya maklum komentarnya seperti itu. Ya karena faktor kualitas,”katanya.
Ia juga meminta, Hoist mengirimkan bukti pembangkangan terhadap SK DPP, baru diberikan teguran. (rif)
Buntut Pernyataan Nurdin dan Idrus
×

