MAKASSAR, BKM — Perum Damri mulai mengoperasikan bus rapid transit (BRT) ke Kabupaten Maros, Jumat (6/11), dengan rute Terminal Daya-Terminal Maros.
Sebanyak 10 unit BRT akan dioperasikan untuk rute ini.
“Namun untuk tahap awal, baru empat unit yang akan dioperasikan,” kata General Manager Perum Damri Makassar, Ilyas Herianto, yang ditemui di sela-sela uji coba BRT di Maros, kemarin.
Dengan jumlah unit yang masih terbatas, selang waktu tunggu antara satu bus dengan bus yang lain mencapai 30 menit. Namun, jika 10 unit BRT tersebut sudah beroperasi penuh, selang waktu tunggu hanya sepuluh menit.
Rute Terminal Maros-Terminal Daya termasuk dalam koridor IV.
Sejumlah halter pemberhentian bus disiapkan. Diantaranya halte Terminal Maros (hanya tangga, kiri), Masjid Raya Maros (1 halte permanen, kiri), RSUD Salewangang (2 halte portable, kiri dan kanan), sekitar Pasar Macopa (2 halte portable, kiri dan kanan), sekitar Pasar Batangase ) 2 halte portable, kiri dan kanan), sekitar Pasar Bulu-bulu (2 halte portable,kiri dan kanan).
Penumpang akan dibebankan biaya sebesar Rp5000. Namun khusus untuk layanan kemarin, semua penumpang digratiskan.
Sejauh ini, masih terdapat berbagai kekurangan pelayanan, termasuk fasilitas halte portable yang hanya berupa tangga di beberapa titik pada rute tersebut.
“Akan segera kami perbaiki,” ujarnya.
Pihaknya, telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Perhubungan (Dishub) dan Organda untuk memastikan kelancaran operasional BRT di Maros.
Sejak BRT beroperasi melayani beberap rute, Perum Damri mengaku masih menderita kerugian.
Namun, kerugian itu berangsur-angsur mengecil.
Ilyas menjelaskan, jumlah kerugian yang dialami saat ini tinggal sekitar Rp1,5 juta per hari. Itu berarti berkurang sekitar Rp1 juta jika dibandingkan dengan kerugian yang dialami pada beberapa bulan sebelumnya.
“Sekarang agak lebih bagus, kita sudah tambah armada menjadi 15 unit untuk 2 koridor. Kerugian saat ini sekitar Rp1,5 juta per hari, dulu sampai Rp2,5 juta per hari,” ujarnya.
Mengenai laporan yang diserahkan pada pemprov, Ilyas menjelaskan pihaknya telah melaporkan kerugian yang dialami sejak Januari hingga September lalu, besarnya mencapai Rp865 juta.
Jumlah tersebut dikatakannya merupakan akumulasi dari kerugian operasional dan kerugian biaya penyusutan unit, termasuk pengurusan surat-surat kendaraan.
“Totalnya Rp865 juta itu sudah dengan biaya penyusutan. Kalau kerugian operasional sekitar Rp400 juta lebih,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perhubungan Darat Dinas Perhubungan Kabupaten Maros Andi Manaf mengatakan pihaknya siap membantu kelancaran operasional BRT
Menanggapi hadirnya BRT di kabupaten Maros, Ketua Organda Maros mengatakan sejauh ini tidak mengganggu operasional angkutan umum di wilayah ini.
Apalagi, jalur ini hanya mengakomodir Terminal Daya-Terminal Maros yang rutenya cukup dekat. (rhm/war/c)
10 Unit BRT Layani Rute Makassar-Maros
×

