pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Dari Peringatan Hari AIDS se-Dunia

Berdayakan Penderita AIDS, Pro Aktif Cegah Penularannya

JUMLAH penderita HIV/AIDS di Sulawesi Selatan kian memprihatinkan. Data dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), hingga Juni 2015 terjadi peningkatan penderitanHIV/AIDS ke angka 9.500 korban.

Laporan: RAHMA AMRI

Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk mengurangi jumlah penderita penyakit mematikan itu. Namun, yang menjadi persoalan, banyak pengidap HIV/AIDS yang tidak ingin diketahui jika menderita penyakit yang menyerang kekebalan tubuh itu.
Namun sayang, ibarat gunung es, lebih banyak penderita yang tidak muncul ke permukaan alias tidak terdeteksi. Itu tentu saja menimbulkan kekhawatiran. Para penderita tidak mendapat penangan khusus karena sakitnya.
Di lingkup Pemprov Sulsel, banyaK metode yang dilakukan untuk meminimalisir bertambahnya penyakit itu. Mulai dari kegiatan seremoni hingga langkah atau aksi pencegahan.
Seperti yang dilakukan dalam memperingati Hari AIDS sedunia, Pemprov Sulsel membagikan 200 bunga, coklat, dan stiker kepada pengguna jalan yang melintas di depan Kantor Gubernur Sulsel, Senin (30/11) lalu.
Kepala Biro Bina Napza (Narkotika, Psikotrapika, dan Zat Aditif lainnya) dan HIV/AIDS, Sri Endang Sukarsih mengatakan, pihaknya sengaja membagikan bunga untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam mencegah penularan HIV/AIDS.
Pihaknya juga memberikan informasi mengenai hari AIDS se-dunia yang akan diperingati pada 1 Desember, hari ini.
Titik aksi sengaja dipilih di depan kantor gubernur agar masyarakat mengetahui bahwa pemerintah memiliki perhatian terhadap masalah HIV/AIDS.
Ia mengatakan sejak tahun 2008 lalu, Biro Bina Napza dan HIV/AIDS telah melakukan berbagai upaya dalam rangka mencegah penularan virus mematikan ini.
Mulai dari sosialisasi, pembuatan modul, dan mendorong sekolah bebas narkoba di daerah-daerah.
Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Nu’mang mengatakan kegiatan ini adalah salah satu bentuk kepedulian Pemprov Sulsel terhadap masalah HIV/AIDS.
“Harapan kita dapat turun atau paling tidak dapat ditekan,” kata Agus.
Pemprov juga menggandeng sejumlah LSM atau NGO yang partisipatif dalam penanganan HIV/AIDS.
Seperti yang dilakukan dengan Rumah Singgah Ballatta yang menjadi model penanganan korban NAPZA dan penderita HIV/AIDS secara partisipatif.
Balatta dikelola masyarakat atau komunita secara partisipatif. Ini penting agar ada model atau pilot project penanganan masalah NAPZA dan HIV-AIDS melalui pemberdayaan masyarakat.
Menurut Sri Endang, Ballatta pada awalnya merupakan tempat berkumpul komunitas yang lama yang berkembang secara alami menjadi tempat rehabilitasi dan tempat berbagi informasi mengenai HIV/AIDS.
Dengan jumlah pecandu NAPZA dan pengidap HIV/AIDS yang tidak sebanding dengan fasilitas rehabilitasi dan perawatan medis, Endang mengatakan inisiatif semacam ini diharapkan lebih banyak tumbuh.
“Saat ini sudah ada di Sidrap dan Luwu Utara, ini yang terus kami dampingi,” terangnya.
Menurut pengelola Ballatta Farid Satria, sejak tahun 2012 hingga 2015, Ballatta telah melayani 178 korban NAPZA dan 209 ODHA.
Ia mengatakan karena Ballatta inisiatif awalnya muncul dari para korban NAPZA sendiri maka lebih mudah untuk mengajak para korban lain untuk bergabung.
Perawatan di Ballatta, para korban juga tetap dapat mengembangkan bakatnya dengan melakukan berbagai kegiatan seperti musik dan olahraga.
Farid berpesan agar para korban NAPZA dan ODHA mencari pertolongan dengan mendaftarkan diri pada fasilitas rehabilitasi termasuk Ballatta.
“Silahkan datang ke sini, pelayanan kami berikan secara gratis,” tutupnya. (rhm/b)



×


Dari Peringatan Hari AIDS se-Dunia

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar