PERJALANAN hidup di dunia ini telah banyak yang kita bisa petik, termasuk segala insiprasi dari orang-orang bawah yang tetap tabah dan ikhlas untuk mencari rezeki demi melanjutkan hidup dan keluarganya.
Laporan: ARIF AL QADRI
Supiaty (40) tahun, ada sederet warga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Sebelum menjadi buruh penyapu jalan yang sudah ia lakoni selama hampir dua tahun ini, Supiaty sempat bertahan hidup dan menafkahi tiga anaknya sebagai pengemis. Tahun 2014 lalu, Supiaty menjadikan lokasi SPBU Emmy Saelan sebagai lokasi mengemis. Selama setahun, ia mencari sesuap nasi dengan berharap uang recehan dari para pengendara motor dan mobil.
Hal itu ia lakukan agar anaknya yang masih duduk di bangku tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) bisa tetap bersekolah.
“Saya dulu sempat menjadi pengemis di depan SPBU. Itu dulu saya lakukan selama se tahun setelah suami saya Sampara meninggal dunia dan tidak ada lagi yang mencari uang. Jadi saya berfikir, dengan cara apa saya bisa mendapatkan uang dan tidak membuat ke tiga orang anak saya kelaparan. Akhirnya saya berfikir dan terpaksa harus menjadi pengemis meski pekerjaan itu sangat dilarang,” ujarnya.
Hari berlalu, ia mendapat tawaran dari orang yang baru dikenalnya untuk menjadi penyapu jalan. Mendengar tawaran itu, ia langsung mengetujuinya agar keluar dari pekerjaan mengemis. Apalagi, penyapu jalan dianggapnya salah satu pahlawan di Kota Makassar untuk menjadikan Makassar bersih, nyaman dan indah.
“Dengan senang hati dan penuh syukur, saya langsung menerima tawaran itu meski honor yang saya dapatkan di awal saya bekerja hanya Rp800 ribu,” tukasnya.
Bahkan selama se tahun menjadi pengemis, ia mengaku sempat diburu personel Satpol PP Kota Makassar dan berhasil meloloskan diri.
“Saya dulu sempat di buru sama Satpol PP dan Dinas Sosial, meski berhasil lolos. Disitumi saya berfikir untuk segera mencari pekerjaan lain selain menjadi pengemis,” akunya.
Ia juga mengaku, sesekali mengeluarkan air mata dan menyesali apa yang ia lakukan yang hanya duduk santai di depan SPBU dengan bermodalkan kursi roda, dayung dan mengharapkan belas kasih dari orang yang lewat didepannya.
“Saya juga biasa merasa sedih kalau ada yang kasih saya uang. Biasa di dalam hati saya itu, saya masih sanggup bekerja seperti jadi pembantu rumah tangga, menjadi tukang cuci harian tapi kenapa saya mesti bohongi diri saya dan membohongi orang lain. Tapi apa boleh kata, saat itu belum ada orang yang mau memanfaatkan tenaga saya,” katanya.
Saat ini, Supiaty turun ke Jalan Sultan Hasanuddin, Slamet Riyadi, dan Jalan Balaikota. Lokasi itulah tempat Supiaty mencari nafkah sebagai penyapu jalan.
Setiap pagi, warga Jalan Dangko ini meninggalkan rumah yang terbilang sederhana. Ia juga meninggalkan ketiga anak anaknya sejak pukul 03.30 pagi. Di jalan utama tersebut, Supiyati untuk membersihkan jalan dari sampah plastik atau daun kering.
Dengan bermodalkan rompi berwarna orange, sarung tangan dan juga penutup hidung. Supiyati atau akrab disapa Yati mulai bekerja menyapu sepanjang jalan yang telah menjadi wilayah kerjanya dari pukul 04.00 hingga pukul 08.00 pagi.
“Saya itu keluar dari rumah jam tiga subuh. Jadi saya perkirakan jam 04.00 wita saya sudah mulaimi kerja sampai jam 07.00 wita. Tapi kalau banyak sampah apalagi kalau selesai hujan atau selesai ada acara di wilayah tempatku membersihkan saya biasa selesai kerja jam 08.00 wita,” kataya.
Se waktu suaminya masih hidup dan bekerja sebagai Jukir di Jalan Sulawesi ia mengaku hanya tinggal dirumah mengurus anak anaknya dan mengerjakan pekerjaan rumah.
“Sabar dan ikhlas aja dek, Allah tau apa yang terbaik buat kita,” tutur sang ibu ketika menceritakan problematika hidup yang menderanya.
Ia menambahkan menjadi tukang sapu jalanan hanya itu yang dapat ia kerjakan. Dengan upah yang didapatkan sebesar Rp1,7 juta per bulan, ia terpaksa harus pintar-pintar mengatur keuangan antara biaya hidup sehari-hari, uang sekolah anaknya dan uang transpor ia pergi bekerja.
“Saya dulu tidak pernah berfikir bakal menjadi tukang sapu. Tapi mungkin nasibku seperti ini jadi saya tetap syukuri, bersabar dan tetap melakukan hal yang baik untuk anak saya dan berharap ketiga anak saya dapat sukses tidak seperti saya ini,” tukasnya.
Dari seorang penyapu jalan dapat kita petik hikmah dan pelajaran, bekerja tanpa mengharapkan pujian tanpa ada pamrih penghargaan bahkan mungkin dengan gaji yang belum tentu memenuhi kebutuhan hidup. Sudah selayaknya kita bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan pada kita selama ini, sudah sepatutnya kita menghargai dan tidak merendahkan pekerjaan seperti petugas kebersihan karena jika tanpa mereka jalan-jalan akan terpadati dengan sampah yang tidak terurus dengan baik.
Dari si ibu penyapu jalan itulah bisa dipetik pembelajaran mengenai kesabaran dan keihlasan. Mereka memilih untuk berusaha, membiayai keluarga yang mereka cintai tidak dengan mengemis. Meskipun harus banting tulang dan memeras keringat dengan kepayahan terpancar ada rasa tanggung jawab mereka yang tulus kepada anak-anaknya untuk tetap berusaha memberikan yang terbaik.(arf/b)

