pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Omzet Warung Makan Samalona Turun

SUKARDI alias Qadri yang makan pallubasa bersama Heriyanto dan keluarganya, kemarin menceritakan ikhwal kejadian ini. Pada Sabtu (20/2) malam ia rencananya hendak singgah di rumah sahabatnya itu untuk salat Isya.
Kebetulan, Heriyanto dan keluarganya saat itu hendak keluar makan malam. Jadilah Qardi ikut serta.
”Saya diajak makan pallubasa. Saya bilang ke Heriyanto bahwa saya sudah kenyang. Tapi karena tidak enak, saya ikut. Di warung makan itu saya makan pallubasa dan telur itik. Sempat juga melihat Danis makan pallubasa dan telur itik,” kata Sukardi saat berada di warung makan.
Usai makan bersama di Warung Makan Samalona, iapun pulang ke rumah korban. Mereka bahkan sempat bercerita dan menyantap pisang kipas yang dibeli di Jalan Sungai Saddang.
“Sempatji cerita-cerita dengan korban. Pisang kipas yang dibeli di Jalan Sungai Saddang juga saya santap bersama. Saya meninggalkan rumah korban pukul 22.00 Wita. Saya diberi sebagian pisang goreng kipas untuk saya bawa pulang,” terangnya.
Sukardi mengaku tidak tahu apa yang dialami keluarga sahabatnya itu pada keesokan harinya. Karena dia mengikuti acara di Bantimurung bersama club motornya.
Sementara Abdul Rahman (41), pemilik warung makan Samalona mengungkapkan, keluarga Heriyanto serta Qadri datang ke tempatnya dan makan bersama 25 orang pengunjung lainnya.
”Itu pada pukul 20.00 Wita makan di warung saya. Sementara yang saya dengar mereka tiba di rumahnya pada pukul 01.00 Wita. Sebelumnya mereka berada di mana setelah makan di warung saya,” tanya Abdul Rahman.
Rahman merasa heran jika makanan pallubasa miliknya disebutkan menjadi penyebab keracunan. ”Kalau memang pallubasa menjadi penyebabnya, tentu pengunjung lain yang makan malam itu pasti mengalami hal serupa. Tapi kan hanya mereka sekeluarga yang mengalami keracunan,” kata Abdul Rahman.
Dia memperkirakan, kemungkinan satu keluarga ini makan di tempat lain. Sebab jika keracunan pallubasa, pasti akan cepat mengalami reaksinya. Sementara rentang waktu usai makan pallubasa dan muncul reaksi keracunan, cukup jauh.
Menyusul kejadian ini, Abdul Rahman mengaku omzet penjualannya mengalami penurunan. ”Turun penjualan saya, Pak. Selama 20 tahun usaha ini berjalan, tidak ada peristiwa seperti ini. Makanya, saya juga bertanya kenapa justru warung pallubasa saya yang difokuskan bila korban keracunan,” cetusnya dengan mata berkaca-kaca.
Meski begitu, dari pantauan BKM, warung makan pallubasa milik Abdul Rahman masih tetap banyak pengunjung. Mereka mengaku tidak terlalu memikirkan adanya peristiwa satu keluarga yang keracunan, diduga akibat mengonsumsi pallubasa di tempat ini.
”Menurut saya bisa saja bukan karena pallubasa. Mungkin ada makanan lain yang dikonsumsi. Saya pelanggan di tempat ini sudah puluhan tahun dan tidak pernah mengalami keracunan,” kata Tony, seorang pelanggan warung makan Samalona. (ish/rus/b)



×


Omzet Warung Makan Samalona Turun

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar