KAYU Bangkoa adalah gerbang dari dan ke pulau-pulau yang bertebaran di sekitar kota Makassar. Di sana ada banyak kapal kayu dan perahu kecil yang jadi moda transportasi utama bagi penduduk pulau yang ingin merapat ke daratan.
Laporan: ARIF AL QADRY
Di dermaga itu, aktifitas sangat terlihat dari para penduduk pulau. Mereka menjadikan Kayu Bangkoa sebagai kebutuhan utama untuk menuju Kota Makassar.
Seperti halnya bagi mereka yang bekerja di Kota Makassar, para pelajar dan penduduk pulau yang ingin membeli kebutuhan dapur mereka.
Selain penduduk pulau menjadikan Kayu bangkoa sebagai kebutuhan utama, Kayu bangkoa ternyata menghidupi penduduk pulau lainnya seperti para palimbang atau orang yang mengemudikan perahu penyeberangan.
Para palimbang siap mengantar penduduk pulau, baik penduduk Pulau Kodingareng Lompo, Barrang Caddi dan Barrang Lompo yang jaraknya memang lumayan jauh dari kota Makassar, hingga pulau terdekat Lae-lae.
Jika tidak ada aktifitas pagi hari, para palimbang duduk di beberapa bangku kayu yang tersedia, atau mencicipi kopi dan makanan kecil di beberapa warung yang ada di sekitar dermaga.
Bagi Rahman (41) tahun yang berprofesi sebagai palimbang, hidup sebagai palimbang adalah rezeki dari Allah. Sebab apapun aktifitas masyarakat kalau dijalani dengan ikhlas pasti berberkah.
Begitupun jika rezeki datang saat musim kemarau dan rezeki berkurang saat musim penghujan.”Saya tetap ikhlas jika satu hari tidak ada pemasukan apa-apa, karena sepinya penumpang. Itupun seringkali terjadi jika cuaca buruk dan hujan yang turun sangat deras,” ujar Rahman.
Walau begitu, hatinya tak mau untuk meninggalkan profesi yang digelutinya sejak 20 tahunan itu.”Ya kalau tidak dapat rezeki sudah biasa. Kita kan harus mencintai suatu pekerjaan. Apalagi mencari pekerjaan sekarang susah. Karena kerja itu bukan cuma pikiran, tetapi pake hati juga,” ujar Rahman sambil membersihkan perahu yang dia sewa dari kakaknya.
Kapal yang memiliki ukuran panjang sekitar empat meter dan lebar dua meter, setiap hari menyeberangkan paling banyak 10 orang dalam sekali jalan. Perahu tersebut sudah didesain menggunakan atap dari terpal dan sentuhan warna cat yang cerah.
Dalam sekali perjalanan, Rahman tidak mematok harga yang tinggi, sekali jalan tarif Rp10.000. Apalagi, warga pulau selalu menggunakan perahu sebagai alat trasportasi mereka.
Pria kelahiran Makassar 8 Februari 1975 yang telah dikaruniai dua orang anak itu mengaku sangat menikmati pekerjaannya. Sejak pukul 06:30 wita, dia sudah meninggalkan rumahnya dan memulai menunggu penumpang di dermaga Kayu Bangkoa.
“Saya menyewa perahu kakak saya Rp50 ribu per hari. Setiap hari saya mengantar warga pulau hingga 40 orang dan dominan penumpang yang diangkut adalah warga Pulau Lae-lae yang ingin ke Makassar,” katanya.
Setiap hari dia dapat membawa pulang uang rata-rata sebanyak Rp250 ribu atau sebesar Rp300 ribu.
Uang yang dia peroleh setelah seharian membawa perahu hingga pukul 18:00 Wita.”Uang saya sisihkan untuk membayar uang sewa perahu dan membayar bensin. Selebihnya biaya hidup sehari-hari dan biaya sekolah kedua anak saya di Makassar,” kata Rahman.
Terpisah, Irma salah seorang siswi yang berasal dari Pulau Lae-lae dan bersekolah di SMA Negeri di Kota Makassar mengaku harus menyiapkan uang sebesar Rp20 ribu untuk biaya transpor untuk sekolah. Bahkan beberapa kali tidak pergi ke sekolah karena biaya untuk transpornya tidak ada. Menurutnya, ia tidak perlu untuk jajan. Memiliki biaya transportasi saja ia mengaku sudah sangat bersyukur karena sudah dapat berangkat ke sekolah untuk mengikuti proses belajar.
“Saya seringkali berutang dulu di palimbang untuk bersekolah. Syukur saja, palimbang seperti Pak Rahman memberikan saya kelonggaran untuk berutang dulu,” katanya.(arf/b)

