MAKASSAR, BKM–Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika Wilayah VI kota Makassar memperediksi intensitas hujan cukup tinggi hingga April mendatang.
Hal tersebut dipengaruhi oleh dampak el nino, sehingga curah hujan tidak menentu.
El-Nino sendiri merupakan gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudera Pasifik. Penyimpangan kondisi laut ini mengakibatkan terjadinya penyimpangan atmosfer yang pada akhirnya menyebabkan penyimpangan iklim.
“Musim penghujan kali ini berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Kemungkinan besar intensitas curah hujan tahun ini lebih kurang dari tahun sebelumnya. Sementara intensitas curah hujan saat ini cukup tinggi dipenghujung musim penghujan. Dan akan berkurang hingga awal April,” terang Kasubid Pelayanan Jasa BMKG Makassar, Sujarwo, Selasa (15/3).
Sujarwo, juga menambahkan, kondisi cuaca ini tidak menentu karena disebabkan adanya pengaruh el nino. “Musim penghujan biasanya terjadi pada bulan Oktober-Februari. Tetapi kali ini akan mundur hingga awal April,” jelasnya.
Adapun intensitas curah hujan mencapai 55 mm dalam seminggu atau 150 mm dalam sebulan. Sementara kecepatan angin masih normal.
Menyikapi curah hujan tinggi di bulan ini, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar, Syahruddin meminta camat dan lurah untuk memaksimalkan pembenahan wilayahnya, apalagi saat ini Kota Makassar masih rawan banjir.
Kecamatan yang dianggap rawan banjir dan digenangi air yakni Kecamatan Tamalanrea, Biringkanayya, Tallo, Panakkukan, Rappocini dan Manggala.
“Camat dan lurah harus berperan aktif mengontorol kondisi yang ada di wilayahnya khususnya drainase. Penyebab terjadinya genangan air karena banyaknya sampah plastik yang menumpuk di dalam drainase,” kata Syahruddin, kemarin.
Syahruddin juga meminta camat dan lurah melakukan koordinasi ke Dinas Pekerjaan Umum atau BPBD Kota Makassar ketika melihat masalah pada drainase.
Ia menambahkan, hujan yang mengguyur Kota Makassar beberapa hari terakhir ini menyebabkan beberapa jalan seperti di Jalan Alauddin, AP Pettarani dan Hertasning tergenang air yang ketinggiannya melewati mata kaki. Bahkan genangan air di Jalan Aluddin dinilai disebabkan karena banyaknya sampah plastik yang menumpuk di dalam drainase.
“Pantauan kami di Jalan Alauddin dan di Jalan AP Pettarani sempat tergenang air. Hal ini disebabkan karena drainase yang tersumbat. Termasuk pipa di dalam drainase ditumpuki sampah plastik membuat air tidak lancar mengalir,” tukasnya.(ucu-arf/war)

